Kisah Anak Terpidana Mati: Menjaga Harapan Hidup Sang Ibu (Bagian 3)

Anak terpidana mati Merry Utami, Devy Christa. (Solopos.com/Abdul Jalil)
21 Juni 2019 09:05 WIB Abdul Jalil Nasional Share :

Solopos.com, MADIUN -- Pertemuan dengan ibunya, Merry Utami, di LP Wanita Tangerang menjadi babak baru bagi kehidupan Devy Christa. Sejak itu, Devy kerap menemui ibunya di penjara.

Dengan bekal seadanya, Devy yang saat itu kelas X SMA harus menempuh jarak beratus kilometer untuk memecah kerindungan dengan ibunya yang terjerat kasus narkoba.

Devy bersekolah di salah satu SMA di Kota Madiun. Untuk berangkat ke Tangerang, ia biasanya memilih kereta api sebagai alat transportasi. Kala itu tiket kereta api Madiun-Pasarsenen Jakarta masih Rp35.000 untuk KA kelas ekonomi. Tiket KA itu dibelinya dengan uang simpanan dari sisa uang sakunya.

Biasanya Devy berangkat ke Jakarta pada hari Sabtu sepulang sekolah. Sampai Jakarta hari Minggu dan kemudian ia akan bermalam di rumah saudaranya. Hari Senin baru Devy bisa menjenguk ibunya di penjara. Setelahnya Devy balik ke Madiun dengan menggunakan KA dan sampai di Madiun Selasa pagi dilanjutkan untuk sekolah.

Meski dipisah dengan jarak ratusan kilometer. Devy justru mengaku senang dan lebih bahagia karena bisa lebih sering bertemu ibunya. Walaupun di penjara ia hanya diberi waktu tidak lebih dari 30 menit untuk berbincang dengan Merry. Sangat singkat untuk melepas kerinduan antara anak dan ibu. Selain bertatap muka di penjara, Devy juga lebih sering menelepon Merry melalui telepon di penjara.

Dari pertemuan yang biasanya dilakukan dua bulan sampai tiga bulan sekali itu, Devy merasa menemukan sosok ibunya yang telah lama menghilang. Dengan bertatap muka dan berbincang apa pun soal kehidupannya di sekolah dengan ibunya, Devy mulai merasa mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Meski kasih sayang itu terbatas dengan ruang dan waktu di penjara.

“Mama itu orangnya penuh kasih sayang dan penyabar. Mama selalu menasihatiku untuk sabar terhadap kondisinya saat ini,” ungkap Devy awal Mei 2019.

Devy semakin yakin ibunya memiliki tanggung jawab yang amat besar terhadap keluarga. Ia memaknainya dari pemberian uang saku kepada Devy saat berkunjung. Kerap kali Merry memberi uang saku saat anaknya hendak pulang ke Madiun. Meskipun nilainya tidak seberapa.

“Saya juga bertanya-tanya mama dapat uang dari mana? Soalnya di penjara kan ga bisa kerja kok bisa dapat uang. Saya baru tahu kalau mama itu punya uang dari membuat karya kerajian yang kemudian dijual. Terkadang mama juga utang dulu kalau karya kerajinannya belum terjual,” kata dia.

Dengan pertemuan dan komunikasi yang dijalin terus menerus, Devy justru menjadi perempuan yang kuat dan tangguh dalam menghadapi cobaan hidup. Nasihat-nasihat dari ibunya terus diingatnya saat dirinya mengalami masa-masa yang sulit. Devy pun belajar untuk membesarkan anak-anaknya dengan lebih baik.

Pindah ke Nusakambangan

Suatu pagi di bulan Juli 2016, ponsel Devy terus berdering seolah minta segera diangkat. Beberapa temannya mengabari bahwa ibunya, Merry Utami, telah dipindah dari LP Wanita Tangerang ke LP Batu, Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap.

Devy sangat kaget atas informasi itu. Karena sebelumnya keluarga tidak mendapat pemberitahuan dari pihak berwenang atas pemindahan itu.

Devy mengaku kecewa atas tindakan pihak berwajib yang tidak memberitahu keluarga terkait pemindahan Merry. Devy kemudian diminta pihak kejaksaan untuk segera ke Nusakambangan.

“Saat itu saya tidak tahu ke sana itu mau ngapain. Suami juga tanya di sana nanti mau ke mana. Saya berpikirnya harus sampai sana dulu,” ujar dia.

Ia sempat kaget sesampainya di kawasan Dermaga Wijayapura yang menjadi pintu gerbang Pulau Nusakambangan. Suasana begitu ramai dan banyak wartawan yang sedang melakukan peliputan. Devy mengaku saat itu belum mengetahui bahwa ibunya masuk dalam daftar 14 orang yang akan dieksekusi mati oleh Presiden Jokowi.

Devy bersama suami dan kedua anaknya kemudian diberi fasilitas menginap di hotel Wijayakusuma di Cilacap. Tak disangka-sangka, kamar hotelnya bersebelahan dengan kamar keluarga Freddy Budiman, terpidana mati yang juga akan dieksekusi. Dari obrolan dengan keluarga Freddy itu, Devy baru tahu bahwa ibunya akan dieksekusi mati.

Devy baru diizinkan untuk menemui ibunya di LP Batu Nusakambangan setelah beberapa hari berselang. Prosedur yang harus dilewati cukup rumit. Pada kunjungan pertama ini, Devy tidak boleh membawa pengacara.

Prosedur yang harus dijalani ada beberapa lapis. Yang pertama di Kejari Cilacap dengan mengisi sejumlah dokumen. Selanjutnya di Dermaga Wijayapura, Devy diperiksa secara ketat hingga harus bertelanjang.

“Yang bikin saya protes itu, kenapa saya ga boleh membawa pengacara. Padahal sudah ada suratnya. Sesampainya di Pulau Nusakambangan saya diperiksa lagi. Hingga mau masuk ke ruang isolasi, saya juga diperiksa badan lagi,” kata dia.

Pertemuan di ruang isolasi LP Nusakambangan merupakan pertemuan awal setelah bertahun-tahun Devy tidak bertemu ibunya. Tangisnya pecah saat bertemu ibunya sambil memeluk ibunya.

“Saya herannya, mama justru tidak menangis sama sekali. Justru mama bilang kenapa menangis. Di dalam ruang isolasi itu, saya sudah tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Saya hanya bisa menangis,” cerita Devy.

Di ruang isolasi itu, Devy didatangi petugas dan memintanya untuk menandatangani persetujuan eksekusi. Ia pun sempat berontak karena tidak ada pendamping hukum yang bisa diajak berdiskusi terkait penandatanganan surat tersebut. Tetapi, petugas kejaksaan itu memaksa hingga akhirnya tanda tangan dibubuhkan di surat itu.

Pada hari kedua berkunjung ke ruang isolasi, Devy diperbolehkan ditemani pengacara. Dengan catatan hanya satu pengacara yang mendampingi. Proses pemeriksaan untuk ke Nusakambangan pun seperti sebelumnya, panjang dan berbelit. Pada hari kedua ini, pemeriksaan justru dianggap lebih sadis.

“Saat itu saya sempat protes karena itu merupakan ranah privasi. Tetapi petugasnya malah nyolot bilang siapa tahu kamu bawa narkoba atau senjata. Saya diminta jongkok juga. Itu menurut saya tidak manusiawi,” kata Devy.

Di ruang isolasi yang pengap dan “angker”, ungkap Devy, Merry Utami didampingi oleh pengacara membuat surat grasi atau pemohonan pengurangan hukuman.

Surat grasi tersebut telah dikirimkan ke Mahkamah Agung (MA) dan selanjutnya MA akan mengajukan surat grasi itu kepada presiden. Permohonan surat grasi itu diserahkan berselang hanya sekitar sehari sebelum eksekusi, namun sudah berlalu

Namun, hingga kini surat grasi tersebut belum pernah sampai di tangan presiden. Dan belum ada jawaban dari permohonan tersebut apakah presiden memberikan pengampunan atau tidak.

Selama dipindah di ruang isolasi Nusakambangan, kata Devy, Merry tidak pernah tidur. Hidupnya yang tinggal menunggu eksekusi seolah tidak ingin hanya dihabiskan untuk tidur saja. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hingga hari demi hari dihabiskan untuk beribadah dan membaca Alkitab.

Devy mengetahui ibunya tidak pernah tidur karena melihat kasur yang ada di ruang isolasi hanya cekung di satu sisi saja. Seolah hanya titik itu saja yang ditempati selama berjam-jam.

“Dugaan saya itu dibenarkan romo yang mendampingi mama. Karena mama memang tidak bercerita soal itu. kata romo, mama selama di ruang isolasi tidak pernah tidur, dia terus berdoa dan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Sang Pencipta,” katanya.

Selain tidak pernah tidur, Merry juga membatasi makan selama di ruang isolasi. Jatah makanan yang diberikan sipir di LP Nusakambangan jarang tersentuh. Hanya buah dan minuman saja yang dikonsumsinya sebagai penyuplai energi.

Devy membayangkan ruang isolasi yang ditempati ibunya sangat tidak manusiawi. Tidak ada penerangan di ruangan sehingga saat malam tiba sangat gelap gulita. Ruangan juga lembap karena hanya berjarak seratusan meter dari laut.

“Saya kadang berpikir, itu orang mau dieksekusi, masih aja ga dikasih haknya sebagai manusia. Kayak kamar mandinya ga layak. Kok ya mama saya ditaruh di tempat kayak gitu,” kata Devy. (bersambung

Kolom 8 hours ago

Arisan