Rombongan Pahlawan

Abu Nadhif - Dokumen Solopos
19 Juni 2019 10:00 WIB Abu Nadhif Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (17/6/2019). Esai ini karya Abu Nadhif, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah abu.nadhif@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- ”Dengan semangat banteng yang menyala-nyala, putra-putra Indonesia pertahankan bentengnya. Saelan dan kawan-kawannya menarik simpati 100.000 penonton”.

Kalimat itu, saya kutip dengan ejaan sekarang, menjadi pembuka berita berjudul Sensasi Terbesar Selama Olimpiade: Indonesia Paksa Uni Soviet Main Seri 0-0 di halaman 1 Harian Merdeka, 30 November 1956.

Kisah heroik di semifinal Olimpiade 1956 di Melbourne itu hingga kini menjadi kisah tim nasional Indonesia yang melegenda. Kala itu tim nasional Indonesia diperkuat Ramang, Chairudin, Rasjid, Witarsa, serta kiper yang juga tentara pengawal Presiden Sukarno, Maulwi Saelan.

Harian Merdeka tidak menyebut tim nasional Indonesia sebagai pemain bola melainkan rombongan pahlawan. Kantor Berita AFP membuat judul Indonesia Gagah Berani, Uni Soviet Main Kasar. Maulwi Saelan dan kawan-kawan sukses menahan imbang Uni Soviet (kini Rusia) 0-0 pada waktu normal. Hingga perpanjangan waktu dua kali 15 menit skor tidak berubah. 

Saat itu belum ada peraturan sudden death untuk pertandingan yang berakhir seri. Guna menentukan pemenang, dua tim harus bertanding ulang. Indonesia dan Rusia bertemu lagi dua hari kemudian.

Tim nasional Indonesia akhirnya menyerah 0-4 dan gagal ke final. Rusia melaju ke final dan tampil sebagai juara. Pencapaian ke semifinal di Olimpiade Melbourne ini menjadi yang terbaik diraih tim nasional Indonesia sepanjang sejarah, di luar Piala Dunia 1938 di Prancis kala masih bernama Hindia Belanda.

Hingga kini Indonesia masih berkutat di level Asia Tenggara, bersaing dengan Vietnam dan Malaysia. Thailand sudah menatap Piala Dunia. Asa tim nasional Indonesia di Olimpiade Melbourne itu yang kini diusung para pemain tim nasional di bawah asuhan Simon McMenemy.

Setelah gagal di tangan pelatih asal Spanyol, Luis Milla, tanggung jawab kini berada di pundak Simon McMenemy. Ia punya tugas berat menjadikan Evan Dimas dan kawan-kawan sebagai ”rombongan pahlawan”.

Berdiri di lapangan dengan lambang garuda di dada butuh mental baja. Legenda hidup sepak bola Indonesia, Bambang Pamungkas, di situs www.bambangpamungkas20.com mengakui demam lapangan adalah tantangan terberat seorang pemain, utamanya yang bertanding membawa nama negara.

Menghadapai Tekanan Mental

Mengatasi demam lapangan adalah persoalan terbesar di lapangan. Antara bangga dan deg-degan, kata Bambang. Bangga karena terpilih menjadi satu dari 11 pemain yang mewakili negara. Deg-degan karena harus menghadapi tekanan mental dari lawan maupun dari puluhan ribu suporter.

Saya membayangkan betapa berat beban para pemain nasional itu. Jangankan berdiri di tengah lapangan, berada di tribun sebagai penonton saja saya merinding. Teriakan puluhan ribu penonton adalah dukungan sekaligus teror tanpa kompromi.

Singkat kata, mental menjadi persoalan utama yang harus digarap pelatih agar semua pemain tim nasional tampil lepas. Saat pemain bermain lepas, kemampuan terbaik akan keluar. Biasanya itu terlihat saat tim nasional menghadapi lawan yang secara kualitas berada di bawah mereka.

Saat menghajar tim nasional Vanuatu enam gol tanpa balas di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu (15/6), anak asuh Simon McMenemy bermain lepas. Andik Vermansyah dan kawan-kawan bisa mengeluarkan kemampuan terbaik mereka.

Umpan dari kaki ke kaki mengalir lancar. Koordinasi saat bertahan dan menyerang terjalin secara baik. Masing-masing pemain mampu menunjukkan kemampuan menggocek bola secara maksimal.

Gol ketiga Alberto Goncalves sangat indah. Ia membuat dua bek lawan jatuh bangun sebelum kemudian mengelabui kiper lawan dengan goyangan samba. Permainan Tim Garuda yang apik ini sama sekali tidak terlihat saat mereka menghadapi Yordania, beberapa hari sebelumnya.

Irfan Bachdim dan kawan-kawan terlihat kacau. Mereka seperti tidak tahu harus berbuat apa. Setiap pemain nyaris tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Mereka seperti ogah menerima operan bola. Setiap bola datang cepat-cepat dibuang jauh ke depan. Indonesia ”dipermak” 1-4 oleh Yordania yang berperingkat 98 di FIFA.

Begitulah sepak bola. Keterampilan saja tidak cukup. Butuh mental yang kuat. Persoalan mental pula yang membuat Yordania kalah telak 1-5 dari Slovakia beberapa pekan sebelum menghajar Tim Garuda.

Persoalan mental tak hanya mendera tim lemah seperti tim nasional Indonesia. Tim sekelas Argentina pun mengalami hal yang sama. Pada Minggu (16/6), Lionel Messi dan kawan-kawan dipermalukan Kolombia 0-2 pada fase knockout Copa America 2019 di Fonte Nova Arena, Bahia. Menurut Messi, ia dan kawan-kawannya bermain dengan gugup.

Jadi, saatnya Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menjadikan pembinaan mental menjadi bidikan khusus. Kelas khusus pembinaan mental perlu dibikin PSSI untuk tim nasional. Harus ada psikolog yang secara rutin mendampingi tim nasional.

Mereka harus menempel tim nasional  di mana pun berlatih atau bertanding. Tugas mereka memompa semangat pemain yang jenuh akibat padatnya program latihan. Jangan lupa pula, psikis pemain sering kacau akibat terlalu lama jauh dari keluarga. 

Membenahi Tim sebelum Bertanding

Pemain tim nasional yang bermain di luar negeri—khususnya Liga Eropa--cukup membantu menaikkan mental bertanding sang pemain. Dalam pertandingan melawan Yordania, hanya Andik Vermansyah yang terlihat bermain lepas. Pemain yang beberapa musim lalu membela Selangor FC (Malaysia) itu mampu tampil dengan kemampuan terbaik.

Kemampuan Egy Maulana Vikri di tim nasional U-19 terlihat lebih matang setelah ia bermain di liga Polandia. Masih ada waktu bagi pelatih Simon McMenemy untuk membenahi tim sebelum terjun ke ajang resmi.

Ia harus benar-benar memilih pemain secara tepat untuk skema bermain yang ia inginkan. Pemain yang bukan saja hebat secara individu, tapi juga punya mental yang kuat menghadapi lawan sekuat apa pun.

Tugas yang tidak mudah, apalagi kekalahan melawan Yordania menghasilkan cibiran buat mantan pelatih tim nasional Filipina itu. Begitulah tantangan melatih tim sebuah negara.

PSSI punya kebiasaan berganti-ganti pelatih dalam rentang waktu yang pendek. Idealnya, pelatih tim nasional dikontrak minimal lima tahun. Dengan demikian ia punya waktu mencari pemain berbakat serta meramu menjadi tim yang kuat.

Sayangnya, meski sering dikritik, PSSI kukuh dengan kebiasan mengontrak pelatih dalam waktu hanya satu atau dua tahun. Yang terjadi jelas fatal. Saat tim sudah mulai terbentuk, kontrak pelatih diakhiri karena gagal menghadirkan juara. Kemudian dimulai lagi dengan mencari pelatih baru, mengumpulkan pemain baru, dan menerapkan strategi baru pula.  

Dengan kebiasaan acak-acakan seperti ini, jangan heran tim nasional sulit berprestasi. Stadion memang penuh suporter, tapi itu hanya menghasilkan sesuatu yang instan: uang banyak dari penjualan tiket. Tidak menghasilkan piala. Semoga Simon McMenemy mengakhiri ”kutukan kegagalan” pelatih-pelatih sebelumnya.

Kolom 5 hours ago

Cukai Plastik