Diperiksa KPK Soal Kasus Rommy, Ini Kata Rektor UIN & IAIN

Gedung KPK (Antara)
17 Juni 2019 18:20 WIB Ilham Budhiman Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) rampung memeriksa rektor dan sejumlah calon rektor Universitas Islam Negeri (UIN) serta Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di sejumlah daerah. Pemeriksaan tersebut terkait dengan kasus dugaan suap yang melibatkan mantan Ketua Umum PPP Romahurmuziy.

Salah satu rektor yang selesai diperiksa KPK adalah rektor IAIN Pontianak, Syarif. Dia diperiksa sebagai saksi untuk tersangka kasus dugaan suap pengisian jabatan di Kemenag tersebut.

Seusai diperiksa, Syarif mengaku memang pernah bertemu Romahurmuziy alias Rommy saat Muktamar Nahdlatul Ulama (NU). Hanya saja, dia tak menjelaskan kapan waktu pertemuan itu. “Dulu di muktamar NU pernah [bertemu]. Hanya itu, enggak pernah lagi,” kata Syarif sambil begegas dari Gedung Merah Putih KPK, Senin (17/6/2019).

Kendati demikian, Syarif membantah pernah membicarakan hal khusus terkait dugaan suap pengisian jabatan rektor. “Enggak ada, enggak ada. Orang penting mana mau ketemu saya. Saya mau ketemu orang penting mana mau enggak bisa,” kata dia.

Tak hanya itu, Syarif juga membantah mengetahui soal dugaan jual beli jabatan rektor perguruan tinggi Islam negeri. Menurut dia, pengangkatan statusnya sebagai rektor IAIN Pontianak sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Agama (PMA) No 68.

“Ada panitia seleksi. Saya punya tim pansel punya tim senat kemudian di komisi seleksi periksa 7 profesor, enggak bisa diintervensi. Silakan tanya di sana nilainya seperti apa, saya kan enggak tahu,” kata Syarif.

Ketika ditanya soal dugaan suap di kasus Rommy, Syarif mengaku pernah menerima pesan instan dari orang yang tak dikenal. Namun, dia menganggap pesan instan itu bohong. “Tidak ada [uang yang dijanjikan]. Kalau SMS bodong iya, tapi langsung saya hapus,” katanya tanpa menjelaskan secara rinci.

Tak lama dari Syarif, Rektor UIN Sunan Ampel Masdar Hilmy juga rampung diperiksa KPK. Seusai diperiksa, dia mengaku didalami soal seleksi pemilihan rektor. Dia juga mengaku pernah bertemu dengan Rommy.

“[pernah] Ketemu, tapi tidak dalam konteks pemilihan rektor. [Bertemu] di Jember, sekitar [bulan] Januari,” katanya.

Terkait dengan dugaan suap pemilihan rektor, dia tidak mengetahui ada atau tidaknya peran Rommy di dalamnya. Yang jelas, proses seleksi pengangkatan dirinya sudah sesuai prosedur melalui komisi seleksi. “Semua lewat Komsel [Komisi Seleksi] di Kemenag ada 7 orang dibentuk.”

Sebelumnya, tim penyidik KPK telah menemukan fakta baru dari kasus suap pengisian jabatan di Kemenag menyusul hasil pemeriksaan selama ini. Fakta tersebut kemungkinan terkait jual beli jabatan rektor di bawah Kemenag.

Sementara itu, Romahurmuziy alias Rommy diduga menerima uang suap senilai Rp225 juta dari tersangka mantan Kakanwil Kemenag Jatim Haris Hasanuddin dan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhamad Muafaq Wirahadi. Suap itu diduga diberikan keduanya demi memuluskan proses pengisian jabatan di Kemenag Jatim.

KPK juga menduga ada pihak internal Kemenag yang bersama-sama dengan Rommy dalam menerima aliran suap. KPK telah mengidentifikasi nama-nama tersebut.

Sumber : Bisnis/JIBI