Nalar Beragama yang Kebablasan

Ilustrasi - antaranews.com
16 Juni 2019 02:00 WIB Cahyo Setiawan Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (13/6/2019). Esai ini karya Cahyo Setiawan, mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah setiawan.cahyo10@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Esai karya Muhammad Afriansyah di Mimbar Mahasiswa yang terbit di Harian Solopos edisi 4 Juni 2019 berjudul Nalar Beragama yang Ilmiah yang merupakan tanggapan dari esai sebelumnya menarik untuk kita telaah secara kritis.

Ia menyoroti esai Dian Aulia Citra Kusuma di Mimbar Mahasiswa yang terbit di Harian Solopos edisi 21 Mei 2019 dengan judul Logika Agama dan Nalar Sains. Ia mengkritik cara berpikir Dian yang terdapat kerancuan bahwa persepsi masyarakat terhadap agama dan kepercayaan yang menyebabkan masyarakat tidak berpikir rasional sehingga seolah-olah pembaca diajak ”meninggalkan agama” untuk melihat fenomena alam.

Ia membawa interpretasi dari Tom Nicholes dalam buku Matinya Kepakaran. Yang menarik, Afriansyah menggunakan sudut pandang bahwa agama sebetulnya membawa pesan ilmah terhadap fenomena alam yang terjadi, bahkan ilmu pengetahuan dan teknologi juga sebetulnya terkandung dalam wahyu agama.

Di mana letak ketidakrasionalan agama? Begitu mungkin pertanyaan Afriansyah kepada Dian. Karl Max dalam About the Attitude of the Working Party toward the Religion menyinggung bahwa agama adalah opium bagi masyarakat sehingga masyarakat cenderung bersifat irasional dalam menghadapi fenomena yang terjadi pada dirinya, meskipun ia adalah orang yang sebenarna tidak anti terhadap agama.

Pernyataan Max dan Dian (tidak bermaksud menyejajarkan) merupakan kritik bagi kita dalam menghadapi fenomena hidup. Agama kini cenderung dijadikan sebagai ”pelarian” sesaat dalam menjalani hidup. Sedangkan Afriansyah di sisi lain menggarisbawahi bahwa beragama tidak menjadikan kita ”manja” atau bahkan irasional dalam menyikapi kehidupan dan fenomena alam.

Ia menyampaikan bahwa semua persoalan hidup dan fenomena yang terjadi sudah dijawab dan sudah dirumuskan jauh-jauh hari dalam wahyu agama sehingga manusia hidup dalam bimbingan dan naungan agama masing-masing.

Sejahtera Material dan Immaterial

Peradaban dan kebudayaan tinggi lahir dari kerja sekolompok minoritas (Arnold Toynoees 2007). Umat Islam, dalam wahyu suci Surat Ali Imran, adalah umat terbaik yang hadir untuk melakukan tugas emansipasi (amar makruf), liberasi (nahi mungkar), dan transendensi (tu’minunabillah) agar seluruh umat manusia menjadi sejahtera material dan immaterial.

Peran itu melemah seiring ketamakan penguasa Islam dalam mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia. Ilmu tidak dibarengi amal, pikir tidak dibarengi zikir. Peradaban Umayyah, Abbasiyah, Cordova, hingga Utsmani hanya peradaban material yang kering dari kemanusiaan.

Tidak ada bedanya peradaban-peradaban itu dengan kemajuan Jepang dan Amerika Serikat kini. Kedua bentuk peradaban itu tidak bernyawa wahyu. Kondisi ini diakibatkan dua kesalahan, kesalahan dalam proses internalisasi (kontekstualisasi nilai-nilai islam dan problem masyarakat) dan kesalahan eksternalisasi (aktualisasi peran umat dalam peradaban).

Dari sanalah muncul pertanyaan yang kemudian ditulis oleh Yuvah Noah Harari dalam buku Homo Deus: apa agama baru yang mungkin menggantikan humanisme? Pertanyaan tersebut muncul karena Harari membeberkan kenyataan bahwa sains dan agama selalu bertentangan tapi juga selalu beiringan.

Ia menjelasan perjalanan dogma yang membuat manusia hidup sebagai makhluk sosial dengan norma yang diatur dalam agama sebagai imagined order, lalu paham politik seperti komunisme, liberalisme, dan humanisme.

Liberalisme-humanis adalah kita hari ini. Bahwa kita memiliki kebebasan individu yang mutlak, bebas memilih, bebas berpikir. Bahwa dunia ini bergerak karena kemampuan pribadi kita sebagai manusia.

Antitesis dari Antitesis

Ketika kita mengembalikan agama ke dalam fenomena alam, pengetahuan dan teknologi, pertanyaannya adalah mampukah agama menjawab tiga pertanyaan terbesar dari Harari, yaitu ketika kelaparan, penyakit, dan perang sudah tidak ada, apa agenda umat manusia? Mampukah agama menjawabnya?

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memang tak bisa dihindarkan, bahkan ketika muncul istilah big data, artificial intelligence, dan Internet of things yang kemudian bisa dijadikan acuan untuk salah satunya menunda penuaan dengan rekayasa genetika atau bahkan yang lebih berbahaya menurut qodrat agama yaitu menghidupkan orang yang sudah mati.

Di mana peran agama kemudian? Dari sinilah lantas kita belajar bahwa nalar ilmiah jangan sampai kemudian kita tuhankan dan kontekskan dalam agama kita masing-masing. Ada beberapa hal yang memang harus kita kembalikan kepada agama dan ada beberapa hal yang langsung melibatkan peran Tuhan untuk menyelesaikan.

Jangan sampai dengan nalar ilmiah dan kemajuan teknologi kita kemudian menjadi dewa-dewa baru dalam peradaban manusia atau dalam istilah Harari menjadi Homo Deus. Nalar beragama seharusnya memiliki kerangka pendekatan ilmiah yang digunakan dalam menganalisis dan menentukan sikap terkait masalah sosial.

Agama hadir dengan wajah transenden dan wajah peradaban sebagai wujud sintesis urusan dunia-akhirat semata hanya untuk kesejahteraan manusia dan semesta. Nilai dua wajah itu terendap dalam kitab suci yang menuntut setiap generasi untuk menggali, tidak hanya menjadikan agama sebagai dogma suci terkait dengan segala persoalan fenomena yang hadir dalam kehidupan.

Kolom 5 hours ago

Cukai Plastik