Sah! Didi Kempot Bapak Patah Hati Nasional

Penyanyi Didi Kempot saat tampil bersama Cony Nurlita di Sentra Niaga Solo baru, Grogol, Sukoharjo, beberapa waktu lalu. (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)
16 Juni 2019 23:30 WIB Mahardini Nur Afifah Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Acara peresmian wadah penggemar muda Didi Kempot, Musyawarah Nasional Pengukuhan Awal Solo Sad Bois Club di Rumah Blogger Indonesia, Sabtu (15/6/2019) malam, menjadi momentum penggemar muda Didi Kempot bisa ngudarasa sekaligus menjawab rasa penasaran pada sang bintang campur sari itu.

Didi Kempot malam itu hadir sebagai kejutan. Ratusan orang yang sebelumnya datang saling berbagi testimoni mengenal karya sang bintang, semula diberi informasi idolanya berhalangan hadir lantaran ada jadwal manggung di Jawa Timur.

Di tengah-tengah acara ketika forum bincang-bincang bergulir, tiba-tiba musikus yang melejit lewat lagu Stasiun Balapan itu datang. Sontak penggemar mudanya yang berjuluk sad boys tersebut kegirangan. Mereka pun berebut mengajukan pertanyaan.

“Kenapa pemilihan diksi di lirik lagu Om Didi banyak menggunakan bahasa Jawa kuna yang tidak banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari? Saya tahu beberapa kata justru dari lirik lagu kayak cidra, ketaman asmara,” tanya Atmo, salah satu penggemar dari kalangan anak muda.

Didi Kempot pun menjawab proses kreatifnya tak lepas dari darah seniman yang mengalir di tubuhnya. Putra almarhum seniman Ranto Edi Gudel ini tumbuh di lingkungan tak jauh dari panggung ketoprak.

“Bapak saya sebelum manggung dulu suka main kendang. Biasanya saya sama almarhum Mas Mamiek diajari, duduk di kanan dan kirinya. Kata-kata Jawa itu saya dengar dari panggung,” jelas Didi.

Seniman yang berkarya lebih dari tiga dekade ini juga menerima berondongan pertanyaan unik dari penggemar sekaligus pemandu acara malam itu, Kobar Nendrodewo.

“Sebenarnya lagu Didi Kempot ada yang bahagia apa enggak? Ada enggak yang enggak pakei nggerantes langsung bahagia saja? Apakah Didi Kempot diciptakan rekasa?” tanyanya.

Didi Kempot pun meminta penggemarnya yang hadir malam itu untuk membantu mengingat-ingat ratusan judul lagunya. Beberapa di antaranya menyebut sejumlah judul, tapi tebakannya meleset.

Mendapati kerepotan Didi dan beberapa penggemarnya mencari lagu bahagia tanpa usaha di karya sang bintang pop Jawa, Kobar pun menyerah. “Ya sudah sekiranya tidak ada. Ya, sudah. Memang betul Bapak Patah Hati Nasional,” selorohnya.

Dia lantas melanjutkan pertanyaan lain seputar lagu yang paling mengena di hati Didi Kempot. Sang bintang pun menjawab nomor paling sentimental baginya adalah Bapak.

“Mbah Ranto sebelum meninggal sempat berpesan, ‘Le, mbok kowe nulis lagu tentang aku.’ Bapak waktu gerah sebelum meninggal juga matur, ‘Yen aku mati, kowe kudu nyayeake lagu iki.’ Dan benar, sewaktu layatan bapak kami bawakan lagu Bapak lengkap dengan pengiring musik campursari,” beber Didi.

Perwakilan Sad Bois Club yang menyelenggarakan acara malam itu, Fajar “Jarkiyo” Romadona, menuturkan wadah penggemar muda Didi Kempot dibentuk untuk mengapresiasi idolanya.

“Wadah ini terbentuk gara-gara kecintaan kami terhadap Didi Kempot. Setelah video kami nonton Didi Kempot di Balekambang viral tempo hari, ternyata banyak yang komentar. Yang suka banyak, biasanya cuma pada silent,” tuturnya.

Jarkiyo mengatakan Sad Bois Club yang aktif di Twitter dengan akun @sobatambyarrr dan Instagram @sobatambyar juga dibuat untuk menguatkan jaringan antarpenggemar muda Didi Kempot yang tersebar di banyak daerah. Tujuannya untuk berbagi informasi dan jadwal manggung.

“Kami dulu kesulitan mendapatkan jadwal manggung Lord Didi. Setelah aktif di dunia maya, banyak yang saling mention atau menyahut untuk memberikan jadwal manggung Lord Didi. Sekarang sudah ada jaringan Sad Bois di Solo, Ponorogo, Malang,” katanya.

Selepas munas pembentukan awal Solo Sad Bois Club, pihaknya berencana menggelar kopi darat sekaligus bedah karya Didi Kempot secara berkala. Sekaligus sebagai dokumentasi untuk merangkum karya sang musikus.