Anjing Liar pada Hari Lebaran

Ayu Prawitasari - Dokumen Solopos
15 Juni 2019 10:00 WIB Ayu Prawitasari Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (13/6/2019). Esai ini karya Ayu Prawitasari, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah ayu.prawitasari@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Di depan rumah ada seekor anjing. Dia menatap saya lama. Di mulutnya ada daging ayam goreng yang dia gigit kuat-kuat. Baru saja anjing itu keluar cepat-cepat dari rumah tetangga saya.

Pasti si empunya rumah tak tahu salah satu makanan hilang karena tak ada teriakan apa pun yang saya dengar sesudahnya. Pagar halaman tidak tertutup dengan benar. Hari ke-3 Lebaran, kompleks perumahan saya sangat sepi.

Masih menatap saya, anjing yang lekuk tulangnya terlihat jelas itu terus berdiri di depan rumah. Saya pun balas menatapnya. Ekor anjing itu lemas ke bawah sementara kepalanya sedikit menunduk. Kami saling menatap tanpa suara.

Anjing itu tak menggonggong, justru berpindah tempat pelan-pelan, menjauhi rumah saya dan menghentikan langkahnya di bawah pohon. Meski kesal, saya tak tega mengusir anjing yang bulu-bulunya sangat kotor dan ketahuan mencuri tersebut. Apalagi, saat itu saya lihat dia juga tak tenang ketika menyantap sepotong ayam goreng.

Berkali-kali anjing tersebut menatap saya, menunduk, lalu mengunyah lagi. Kadang-kadang setelah menatap saya, anjing itu tak langsung mengunyah. Dia diam sambil menatap ayam goreng itu, entah takut atau merasa bersalah. Saya tak tahu.

Pikiran saya berputar. Saya membatin tentang betapa kurusnya anjing itu. Betapa kotornya bulunya. Betapa tak nikmat dia menyantap makanan. Intinya saya kasihan kepada anjing itu, namun di sisi lain jijik melihat kondisi fisiknya dan berharap dia segera pergi.

Jadi, lega sekali melihat anjing itu akhirnya meninggalkan area rumah saya. Dalam hati saya berdoa agar anjing jelek itu tak kembali. Pasti akan langsung saya usir begitu dia masuk rumah.

Berawal dari kelegaan itu, entah mengapa pada saat yang sama saya tiba-tiba justru dihinggapi perasaan bersalah. Nurani saya bertanya pada logika saya tentang bagaimana seandainya sayalah anjing liar itu? Bagaimana seandainya saya tak terlahir sebagai manusia? Bagaimana seandainya sayalah yang menjadi makhluk yang begitu dibenci warga kompleks ini?

Anjing liar bukanlah anjing peliharaan yang mendapat perhatian dan perawatan maksimal dari manusia. Tak ada makanan yang tersedia untuk mereka. Tidak ada kesempatan mandi. Tak ada vaksin. Tak ada kunjungan ke dokter. Tak ada kalung identitas yang menunjukkan siapa dirinya.

Di balik tampilan fisik yang membuat saya jijik, tiba-tiba saya berpikir tentang nilai-nilai kejujuran dan akal sehat yang dia berhasil tunjukkan secara telak. Nilai-nilai yang terkadang begitu jauh dari kehidupan saya.

Jujur dan Tidak Tamak

Anjing liar itu jujur tentang keliaran dan kelaparan. Hanya sepotong ayam dan dia merasa cukup untuk membunuh rasa lapar. Tak perlu mengambil semua ayam goreng yang disajikan di piring, apalagi mengambil semua lauk di meja.

Apabila anjing liar saja bisa sedemikian jujur dan logisnya, nurani saya kembali bertanya tentang diri saya sendiri. Apakah benar saya lebih baik daripada anjir liar itu? Benarkah saya sudah menjadi makluk yang jujur? Benarkah orang lain sudah menangkap identitas saya yang paling jujur? Ah, saya jadi malu sendiri.

Soal identitas ini, saya pikir manusia memang penuh dengan kepalsuan, buatan, tidak alamiah. Basis pemikiran saya adalah konsep Judith Butler tentang identitas yang menjadi latar belakang munculnya teori queer (aneh, menyimpang). Identitas seseorang adalah sesuatu yang cair, dibentuk secara terus-menerus oleh manusia sepanjang hidup mereka.

Dalam pandangan Butler, manusia ibarat aktor yang memainkan peran di panggung. Dia terus membentuk identitas sehingga identitas menjadi sesuatu yang selalu dalam proses (in process), tidak pernah final. Saya sangat memahami pemikiran Butler dalam catatan konsep itu dimasukkan dalam dunia postmodern, dunia simulasi yang dikepung sistem ekonomi kapitalis.

Dalam dunia postmodern alias dunia simulasi yang dimeriahkan televisi dan media sosial, manusia memang telah dicerabut dari lingkungan sosial yang khas. Manusia tak lagi orisinal. Pada zaman modern ini, lembaga-lembaga tradisional yang dulu berdiri teguh sebagai pembimbing moral kini tinggal nostalgia.

Kiblat manusia adalah televisi dan media sosial yang berhasil memindahkan kita ke dunia yang baru, dunia maya dengan segala aturan, ruang-ruang gelap, berikut konsekuensinya. Apabila lembaga tradisional (keluarga, balai desa, tempat ibadah) mengajarkan nilai-nilai khas berbasis geografi dan kearifan lokal, televisi dan media sosial justru mendobrak pengotak-kotakan tersebut agar manusia menjadi seragam.

Keduanya terus mempromosikan konsep manusia global dengan penggunaan berbagai barang produk perusahaan multinasional. Orang-orang menjadi begitu serupa. Bagi saya, identitas saat ini memang menjadi membingungkan karena basisnya adalah hasrat atau nafsu.

Dua unsur manusia lainnya, yaitu nurani dan akal sehat, kerap dipinggirkan, berganti menjadi ketamakan dan kesombongan. Yang berlebihan adalah yang baik,  yang kekurangan adalah musuh, the others (yang lain) dalam kehidupan bermasyarakat.

Saya lantas ingat percakapan dengan salah seorang saudara saat malam takbiran. Dia bercerita banyak temannya saat itu bekerja lembur. Mereka baru pulang kerja beberapa jam sebelum Salat Idulfitri. Awalnya saya tak percaya. Hingga pukul 03.00 WIB, kata saudara saya itu, teman-temannya masih hilir-mudik mengantar pesanan ke rumah-rumah warga.

”Pakaian?” tebak saya tak yakin. Dia menjawab yang diantar bukanlah pakaian melainkan mebel baru, kulkas, sampai televisi baru. Semua barang itu harus ada tepat pada hari Lebaran. Tujuannya, para tamu yang datang bisa melihat ada barang baru di rumah sebagai simbol kemapanan, kemakmuran.

Menjadi Produktif

Dalam contoh yang sama-sama tak masuk akal itu, saya lantas ingat bagaimana kelakuan saya waktu malam Ramadan lalu. Setelah kenyang menyantap hidangan berbuka yang dilanjutkan Salat Tarawih, saya mampir di gerai piza di pusat kota. Saya bayangkan betapa nikmatnya makan piza panas bersama anak-anak di rumah. Jadilah saya memesan piza ukuran besar yang harganya ratusan ribu rupiah.

Saya hanya makan sepotong piza karena sebenarnya perut saya kenyang sementara anak-anak tak menyentuhnya sama sekali. Jadi, soal memerkosa tubuh demi gaya hidup yang membentuk identitas orang-orang postmodern ini, ”modern”, saya memang ahlinya.

Demi tuntutan menjadi orang yang produktif, saya juga kerap memaksa badan saya begadang ditemani beberapa gelas kopi. Akibatnya tubuh saya kesakitan pada keesokan paginya, jantung saya berdebar-debar akibat kurang tidur. Itu belum termasuk membabibutanya saya saat melihat ada diskon produk fashion di mal hingga membuat lemari pakaian nyaris jebol gara-gara ingin mencitrakan diri sebagai orang yang sophisticated.

Saat mengingat anjing liar yang berdiri lama di depan rumah. Saya benar-benar malu. Seandainya saya adalah anjing liar itu, mungkin saya jauh lebih menjijikkan karena yang saya ambil bukan hanya sepotong ayam goreng, namun semua yang tersaji di meja makan. Jelas, saya lebih tamak soal itu.

Lagipula sebagai makhluk Tuhan, bisakah kita memilih menjadi apa atau menjadi siapa? Anjing liar itu tentu juga tidak ingin jadi anjing liar, namun dia menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Tugas saya sebagai manusia seharusnya memberikan makanan apabila dia kelaparan, bukan justru mengusir atau menyiksa.

Ramadan mengajarkan saya tentang keterbatasan dalam arti yang luas dan kompleks. Membantu mereka yang kekurangan, berempati kepada mereka. Tidak pernah berpikir kita menjadi makhluk yang paling benar adalah tugas berat kita sebagai manusia yang berkomitmen menjadi lebih baik setelah Ramadan.

Jumlah orang miskin tidak berkurang setelah Ramadan berlalu. Tugas kita adalah membantu mereka, bukan justru mengucilkan yang kekurangan dan menyuburkan ketamakan kita seperti rekonstruksi kehidupan palsu yang ditawarkan budaya populer di media massa.

Saya ingat kalimat yang ditulis Jean-Jacques Rousseau dalam buku The Social Contract. Man is born free, and everywhere he is in chains. Dalam pandangan Rousseau, meski manusia adalah makhluk yang bebas, namun ia juga terbelenggu lingkungan sosial. Manusia memang punya nafsu, namun ada nurani dan logika sebagai pembatas agar tindakan tidak merugikan manusia lain.

Menyeimbangkan ketiganya adalah tugas kita selama menjadi manusia. Kali ini saya harus berterima kasih kepada anjing liar di depan rumah yang telah mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan justru saat saya melupakan kemanusiaan saya.