Penganan dan Kemasan

Yohanes Bara - Istimewa
14 Juni 2019 09:48 WIB Yohanes Bara Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (12/6/2019). Esai ini karya Yohanes Bara, Duta Damai Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan pengelola Majalah Utusan di Jogja. Alamat e-mail penulis adalah yohanesbara@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Penghuni Atlantis mengalami pencemaran dan wabah penyakit hebat akibat penambangan minyak, sampah plastik, dan sisa-sisa kapal-kapal yang tenggelam. Habis sudah kesabaran Ocean Master.

Semua sampah dan bangkai kapal dikembalikan ke darat. Mengerikan! Seperti menyimpan semua sampah di dalam kamar. Setelah 50 tahun sampah itu tak berkurang. Tak melihat sampah seolah-olah sampah itu tak ada, padahal abadi entah di mana.

Adegan film Aquaman (2018) itu tampaknya perlu sungguh-sungguh dialami. Jangan meremehkan sampah. Kebanyakan sampah itu bermula dari kemasan pangan yang berbahan kertas, plastik, alumunium foil, styrofoam, kaleng, atau kaca.

Alasan utama penggunaan kemasan pangan tak ramah lingkungan itu karena kepraktisan, ketersediaan bahan kemasan alami yang semakin sulit, juga desain kemasan yang berkembang (Listia Natadjaja dan Elisabeth Christine Yuwono, Kearifan Lokal Kemasan Penganan Tradisional, 2017).

Kemasan tak lagi urusan melindungi barang dagangan seperti arti menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kemasan telah menjadi industri terpisah dari produk dagangan, isi dalam kemasan. Kemasan diproduksi melalui proses panjang desain komunikasi visual yang kadang dikaitkan dengan ketokohan action figure terkini, film, fesyen, bahkan tren.

Melalui kemasan snack, anak-anak bisa mengetahui mainan, film, atau action figure apa yang sedang ngetren. Di Daerah Istimewa Yogyakarta ada dua contoh berbeda kutub soal kemasan. Bakpia, penganan asal Tiongkok yang aslinya disebut Tau Lok Pia, yang diproduksi di Kampung Pathuk pada 1948  hanya berkemasan besek tanpa label.

Kemasan yang Keren

Ketika penganan khas itu semakin diminati sebagai oleh-oleh khas Jogja, pada 1990 dikemas dengan label yang hanya bertuliskan nomor rumah tempat produksi (bakpia25.com). Kini bakpia tak cuma berisi kacang hijau. Bakpia Kenes Kunokini menawarkan isi cokelat, keju, susu, green tea, biskuit, tiramissu, red velvet, teh tarik, Taro, dan Oreo.

Tentu bakpia model begini tak dalam kemasan besek atau kertas seperti umumnya. Bakpia Kenes ditawarkan sepaket rasa campur, dijajar dalam kemasan kertas karton keras dan bertuliskan varian rasa di bagian luar kemasan lalu dikemas lagi ke dalam karton lebih besar. Bentuknya jadi seperti laci mungil atau wadah perkakas kecil. Keren bukan?

Tak jauh dari pusat bakpia itu ada pedagang gudeg legendaris yang dijual oleh Mbah Lindhu, 97. Ia telah puluhan tahun berdagang. Sejak diberitakan Harian Kompas dan media-media daring, gudeg Mbah Lindhu semakin laris. Wisatawan harus antre untuk menikmati sepincuk gudeg Mbah Lindhu.

Penyajiannya tak neka-neka atau  tak melalui kerja kreatif desain komunikasi visual. Semua disajikan dengan daun atau selembar kertas kemasan nasi. Dengan tangan keriput itu, Mbah Lindhu mencomoti lauk, menyuwiri ayam, tetapi tetap saja menjadi penjual gudeg paling laris di kawasan wisata Malioboro.

Ini sebagai bukti perkembangan desain kemasan yang kian maju demi pasar, namun sekaligus membuktikan kemasan tak penting-penting amat. Penggunaan bahan alami untuk kemasan juga masih dipakai untuk pudak, makanan khas Kabupaten Gresik. Penganan berbahan sagu itu dikemas dengan pelepah daun pinang.

Di Kabupaten Gresik juga ada jenang jubung. Sesuai namanya, penganan berbahan ketan, gula, dan santan ini dibungkus jubung alias kulit pohon pinang. Pelepah  daun pinang dipilih karena teksturnya yang berpori-pori, tak bisa diganti daun pisang atau plastik.

Kemasan Botol Plastik

Pudak yang baru matang butuh pori-pori di pembungkusnya untuk menguapkan panas. Tentu akan menjadi basah dan cepat basi jika diganti plastik. Di Kabupaten Gresik, Kabupaten Tuban, dan Kabupaten Lamongan juga ada minuman khas bernama legen dan tuak.

Di sana, minuman ini menjadi konsumsi sehari-hari. Legen asli rasanya manis, tidak ada kecutnya. Sedangkan tuak asli berasa manis agak asam, segar, dan seperti bersoda (Listia Natadjaja dan Elisabeth Christine Yuwono, 2017). Dari asal katanya, legen berarti kelegen dan tuak diartikan sebagai nata awak (mengatur tubuh).

Dulu, tuak dan legen disajikan pedagang keliling dengan memikul ongklek. Ongklek adalah alat pikul yang di kedua sisinya digantungi bambu sepanjang setengah meteran yang ada lubang di ruasnya sebagai wadah utama tuak dan legen. Meminumnya pakai bambu yang dipotong seukuran gelas.

Legen dan tuak sekarang dikemas dengan botol plastik bekas air minum dalam kemasan. Menurut penikmat tuak dan legen, kemasan plastik ini membuat minuman itu terpapar matahari langsung yang membuat rasanya tidak senikmat ketika dinikmati dengan wadah bambu.

Daun pisang, pelepah pinang, daun-daunan, atau bambu digunakan bukan karena keterbatasan kemasan kala lalu. Pilihan itu melalui proses pembelajaran leluhur yang mengamati tekstur, aroma, warna, dan efek terhadap keawetan penganan tanpa bahan pengawet.

Tak Pertimbangkan Isi

Keterbatasan bahan-bahan alami itu membuat industri penganan mulai menggunakan kemasan plastik dan karton. Isi penganan dan kemasan pun tak imbang. Kemasan dibuat besar sedangkan isinya hanya sedikit. Kemasan yang semakin heboh akhirnya membuat pembeli, khususnya anak-anak, tak lagi mempertimbangkan isi.

Jika Anda pernah mengajak anak-anak ke toko modern, biasanya mereka akan merengek minta dibelikan cokelat seukuran kelereng dikemas wadah unik berbentuk telur yang dipajang dekat kasir dengan hadiah-hadiah terbaru. Mereka tak membeli isi, mereka membeli wadah dan hadiahnya.

Demikian juga snack dengan kemasan bergambar kartun-kartun terbaru, dibeli karena gambarnya bagus, bukan karena isinya sehat atau perlu dikonsumsi. Snack, makanan cepat saji, minuman dikemas dengan sangat apik, bahkan warna dan bentuknya dibuat semenarik mungkin untuk membuat kemecer hanya dengan melihat gambarnya di banner di pinggir jalan, sehalaman koran, iklan pop up, hingga Go-Food dan Grab-Food dalam genggaman.

Semua itu dengan satu tujuan: belilah dan makanlah. Mengapa orang menjadi rakus melahap makanan berkalori tinggi dan minuman bergula, padahal jelas tak menyehatkan? Masyarakat makmur mengalami obesitas sedang di pinggiran negeri ada yang mengalami stunting. Dua masalah yang disebabkan kelebihan pangan dan kekurangan pangan.

Dalam buku Sapiens: Riwayat Singkat Manusia (2019) yang ditulis Yuval Noah Harari, ada penjelasan DNA manusia modern masih sama dengan leluhur era pemburu dan pengumpul pada 30.000 tahun silam. Ketika menemukan pohon buah, manusia zaman itu harus makan sebanyak mungkin yang ia bisa sebelum segerombolan monyet datang melahap tanpa sisa.

Gangguan Kesehatan

Itulah mengapa meski berada di dunia berlimpah pangan, insting manusia zaman ini adalah makan sebanyak mungkin. Kegilaan atas pangan akhirnya tak hanya menimbulkan masalah lingkungan, budaya, tetapi juga kesehatan.

Kegentingan gangguan kesehatan karena banyak, kekurangan, dan/atau salah makan ditunjukkan oleh penelitian Pusat Studi Regional Pangan dan Gizi Asia Tenggara yang menunjukkan jumlah penderita tengkes (stunting) di Indonesia terbanyak kedua setelah Timor Leste di Asia tenggra (Kompas, 27 Mei 2019).

Tengkes tak melulu karena minimnya pangan di lingkungan, tetapi ketidaktahuan orang tua akan kebutuhan gizi anak, sampai-sampai pemerintah mesti membuat program literasi pangan. Pemerintah melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Sosial, serta Kementerian Kesehatan.

Salah satu literasi pangan yang dibuat adalah menu bekal siswa pendidikan anak usia dini (PAU) yang ditentukan oleh sekolah. Di PAUD Wangi Melati di Batang, Jawa Tengah, warga desa itu kebanyakan petani tetapi anak-anak mereka tak mengonsumsi sayuran, buah, dan makanan berkabohidrat.

Anak-anak lebih suka makan makanan dalam kemasan, minuman bersoda, dan sirup. Anak-anak itu menangis dan mogok makan saat isi bekal tak ada mi instan dan keripik. Ironisnya, orang tua tak menganggap ini sebagai masalah karena postur tubuh anak mereka gemuk.

Menjelang Idulfitri 1440 Hijriah, promosi aneka produk makanan semakin gila-gilaan. Berhalaman-halaman koran lokal dan nasional penuh dengan promosi produk makanan, demikian juga media online sampai papan iklan berukuran raksasa di pusat-pusat keramaian.

Tanda Status Sosial

Dulu, sekaleng Khong Guan bagaikan ”surga makanan” bagi anak-anak. Mereka tak akan beranjak jika belum menikmati semua jenisnya. Kala itu harganya yang belum terjangkau membuat sekaleng Khong Guan menjadi tanda status sosial pemilik rumah.

Hal ini juga yang membuat tamu memicingkan mata memastikan isinya biskuit atau rengginang. Anak-anak juga senang sekali menggenggam kacang telur lalu berlarian di halaman bersama saudara seusia. Seorang nenek atau ibu tak jemu-jemu mengulang-ulang cerita pada setiap tamu tentang cara ia membuat lemper, madumangsa, lempeng, tapai ketan, tapai singkong, dan camilan buatan sendiri lainnya.

Mudik saat Lebaran menjadi momentum bersilaturahmi dengan kerabat dan keluarga. Mudik juga berarti melepas rindu kepada panganan tradisonal yang tak berkemasan menarik dan tak berisi sedikit.

Rindu membuka tapai ketan buatan ibu yang hanya dikemas daun pisang dari kebun tetangga, bukan snack berkemasan warna-warni yang isinya sedikit. Pada Lebaran semua orang rindu pada isi dan kembali menikmati isi, bukan pada kemasan dan penampilan belaka.