E-Sport Masuk Kurikulum

Agus Kristiyanto - Dokumen Solopos
13 Juni 2019 09:46 WIB Agus Kristiyanto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (11/6/2019). Esai ini karya Agus Kristiyanto, guru besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga di Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah aguskriss@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Komunitas pendidikan dan keolahragaan dewasa ini sedang gerah disuguhi adu opini yang meruncing tentang pantas dan tidaknya e-sport masuk dalam sistem kurikulum sekolah. Persoalan tersebut bergulir sangat cepat setelah Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi membuat pernyataan yang cukup kontroversial.

Imam menilai e-sport layak masuk ke dalam kurikulum karena menilai ”olahraga elektronik” tersebut dapat membentuk kepribadian yang kuat dan mengajarkan nilai kerja sama. Kementerian Pemuda dan Olahraga bahkan sudah mempersiapkan anggaran senilai Rp50 miliar untuk mewujudkan rencana tersebut.

Saat ini memang sedang digelar kompetisi memperebutkan piala Menteri Pemuda dan Olahraga yang berlangsung sejak 18 Januari lalu hingga September 2019 mendatang. Inti kompetisi adalah mendorong kampanye e-sport di tingkat pelajar. Kompetisi bertajuk Youth National e-Sport Championship 2019 tersebut diklaim melibatkan tim dari 600 SMP dan SMA di 22 kota di Jawa dan Sumatra. Sebuah event baru yang cukup kolosal, fenomenal, dan sangat menarik perhatian publik milenial.

Kapasitas dan fungsi olahraga di sekolahan memiliki misi sistematis dalam bentuk olahraga pendidikan. Olahraga digunakan sebagai alat agar tujuan pendidikan pada umumnya tercapai melalui medium aktivitas fisik. Olahraga pendidikan (physical education) substansinya tidak terpaku pada pilihan jenis-jenis sport (cabang olahraga olympic) semata, tetapi meluas pada lingkup aktivitas fisik (physical activity) untuk pendidikan sehingga bersifat sangat terbuka dan kaya pilihan.

Ada persoalan inti yang menarik yang pantas dibahas sehubungan dengan e-sport dan kurikulum. Pembahasan tersebut menjadi penting sebagai dasar argumentasi apakah e-sport layak menjadi substansi, bahkan menu inti, materi pembelajaran di sistem persekolahan. Mata pelajaran yang berkorelasi sangat tinggi dengan e-sport tentu saja adalah mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan.

Dalam UU No. 3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional ditegaskan olahraga adalah segala kegiatan yang sistematis untuk mendorong, membina, serta mengembangkan potensi jasmani, rohani, dan sosial. Jelas bahwa olahraga memiliki kata kunci berupa aktivitas sistematis perwujudan multiranah yang terintegrasi secara fisik, rohani, dan sosial.

Interaksi Edukatif

Hal inilah yang menjadi argumentasi awal untuk menilai kembali e-sport itu sesuai tidak dengan definisi tersebut. Bagaimanakah perwajahan ideal interaksi edukatif di pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan? Proses interaksi edukatif dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan  berlangsung secara khas.

Peserta didik berekspresi (fisik, mental, sosial) dalam proses belajar dengan cara melakukan aktivitas fisik secara eksploratif. Melalui aktivitas fisik, peserta didik bergerak dan digerakkan untuk mencapai tujuan pendidikan secara umum.  Aktivitas fisik sebenarnya bisa dipilih dan berupa apa saja, yang paling populer adalah dengan meminjam olahraga, seperti atletik, senam, bolavoli, sepak bola, bola basket, aneka beladiri, dan sebagainya.

Dalam acuan standar persekolahan terdapat setidaknya dua ranah kurikulum di sekolahan. Pertama, tataran intrakurikuler. Setiap peserta didik berhak memperoleh kesempatan yang seluas-luasnya bergerak dalam bentuk aktivitas gerak locomotion, yakni berpindah tempat dengan jalan, lari, lompat, memanjat, dan sebagainya.

Aktivitas manipulatif dilakukan dalam bentuk melempar, menangkap, menggiring, memukul bola, dan sebagainya. Peserta didik diskenariokan terbangkitkan dalam memenuhi esensi kurikulum yang sebenarnya, yakni berbasis kompetensi. Tatkala peserta didik bermain sepak bola, mereka sebenarnya tidak sedang berlatih sepak bola tetapi meminjam nilai-nilai edukasi sepak bola, termasuk keterampilan teknik dasar yang memang harus dikuasai.

Kedua, dalam tataran ekstrakurikuler. Sekolah memfasilitasi program rutin untuk membina dan mengembangkan minat serta bakat peserta didik pada cabang olahraga tertentu. Orientasi inti ekstrakurikuler adalah membangun prestasi berdasarkan sumber daya yang tersedia. Proses berlatih dengan prinsip-prinsip latihan serta dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga dilakukan secara khas demi mengoptimalkan prestasi olahraga peserta didik yang berminat dan bertalenta olahraga. Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan  pada ranah ekstrkurikuler berperan sebagai pelatih olahraga.

Disrupsi Keperilakuan Fisik

Pendidikan jasmani sejak semula hadir dalam bentuk memadukan tujuan belajar, bermain, dan berolahraga. Lingkungan strategis peserta didik pada era digitalisasi teknologi berpotensi mengalami perubahan bentuk dan pilihan-pilihan baru. Digitalisasi teknologi pada era revolusi industri 4.0 menuntut adaptasi yang super cepat.

Terdapat tantangan tersendiri terutama dalam penyiapan sumber belajar, instruksi, modul, sintak, dan panduan audio visual. Semuanya untuk melengkapi fungsi guru (bukan menggantikan). Tantangan utamanya adalah instruksional keolahragaan berbasis e-learning dan i-learning.

Cara dan tren berolahraga generasi milenial dipastikan akan menggeser bentuk partisipasi olahraga generasi sebelumnya. Kemunculan fenomena i-sport atau e-sport membuktikan ada varian baru dalam partisipasi olahraga yang akan terus digandrungi oleh generasi milenial (generasi Y) dan diteruskan i-generation (generasi Z).

Hal ini akan membentuk proses transformasi dan partisipasi olahraga di lingkungan sosial yang berimbas pada keinginan kolektif peserta didik untuk membawa ke ranah pendidikan formal. Bagaimana para pengambil kebijakan pendidikan dan pihak sekolah menyikapinya butuh tahap yang panjang dan berbagai pertimbangan.

Pihak yang getol memasukkan e-sport ke kurikulum sekolah biasanya memiliki dalih yang positif tentang olahraga elektronik tersebut. Mereka bersikukuh bahwa e-sport tak berbeda dengan olahraga bridge maupun catur yang telah lama masuk sebagai cabang olahraga yang secara resmi diterima di ajang multi-event maupun single-event olahraga.

Ekspresi e-sport jauh lebih memberikan nuansa adu adrenalin dan memberikan efek semangat berkompetisi lebih dinamis dibanding dua cabang olahraga tersebut. Pihak yang kurang setuju menyanggah secara lembut bahwa bridge dan catur memang cabang olahraga yang selama ini tidak pernah dipinjam dan direkomendasikan sebagai menu pengisi kegiatan intrakurikuler Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan di sekolah.

Kontraproduktif

Sistem kurikulum telah diatur untuk diisi dengan aktivitas aquatik, uji diri, permainan bola besar dalam situasi nonvirtual. Jalan tengah terbaik adalah jika memang harus dimasukkan, diprogramkan di kegiatan ekstrakurikuler sebagai menu tambahan. Sebagaimana para calon astronaut menggunakan simulator untuk belajar beradaptasi dengan situasi antigravitasi.

E-sport memang merupakan pengejawantahan dari perilaku belajar, bermain, dan berolahraga. Pada era digitalisasi teknologi 4.0 salah satu dampak utama implementasi digitalisasi teknologi adalah perubahan revolusioner  yang disebut disrupsi (eliminasi) komponen tertentu dalam keperilakuan.

Sangat disayangkan jika dalam implementasi e-sport di kurikulum Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan justru yang terjadi nanti adalah disrupsi perilaku fisik-motorik-produktif peserta didik secara masif. Melalui aktivitas e-sport peserta didik memang bisa gembira, belajar kerja sama, membangun strategi, dan pengembangan bakat, tetapi dalam situasi aktivitas psikomotorik yang serbavirtual.

Tingkat kegandrungan yang tinggi terhadap e-sport sebagai isi ekstrakurikuler akan dipastikan kontraproduktif jika peserta didik justru lebih terhipnotis oleh pesona e-sport. Pada saat bersamaan, terjadi pemerosotan perhatian dan minat pada intrakurikuler yang hingga detik ini secara umum masih dijalankan oleh pihak sekolah secara sangat memprihatinkan.

Kolom 7 hours ago

Delusi Tiongkok