Nalar Beragama yang Ilmiah

Muhammad Afriansyah - Istimewa
11 Juni 2019 10:00 WIB Muhammad Afriansyah Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (4/6/2019). Esai ini karya Muhammad Afriansyah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah ansyahafri51@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Masih cukup membekas dalam memori kita kenyataan dalam rangkaian kontestasi politik pemilihan umum tahun ini amat kental diwarnai ”aroma Islam” di dalamnya. Ini menjadi penegas bahwa mayoritas warga negeri ini yang menganut Islam masih berikhtiar menunjukkan eksistensi dalam usaha yang oleh Kuntowijoyo disebut objektifikasi, mengontekstualkan ajaran-ajaran normatif Islam dalam realitas kehidupan.

Itu dalam bidang politik. Bagaimana dengan bidang kehidupan lain, semisal lingkungan hidup (ekologi)? Di mana Islam saat terjadi konflik agraria dan pencemaran lingkungan oleh limbah pabrik milik kaum kapitalis? Bagaimana respons dan tanggapan Islam terhadap berbagai problem dan bencana lingkungan hidup, baik yang terjadi secara alamiah maupun atas campur tangan manusia?

Berkaitan dengan berbagai macam bencana yang kerap kali menerpa negara kita, Dian Aulia Citra Kusuma dalam esai di Mimbar Mahasiswa yang terbit di Harian Solopos edisi Selasa, 21 Mei 2019, yang berjudul Logika Agama dan Nalar Sains, memberikan gambaran kepada kita bahwa pada umumnya masyarakat Indonesia masih selalu mengaitkan berbagai bencana alam (yang berkaitan dengan lingkungan hidup) dengan agama.

Banyak warga negeri ini yang menganggap bencana yang terjadi merupakan azab dari Tuhan atas maksiat yang dilakukan banyak orang. Dian menjelaskan segala bencana alam yang terjadi hari ini merupakan akibat ulah tangan manusia.

Analisis bencana yang digunakan seharusnya bukan berdasarkan atas agama semata-mata, namun pada fakta objektif berdasarkan ilmu pengetahuan terkait. Dengan kerangka Hukum Tiga Tahap (Law of Three Stages) ala August Comte, masyarakat yang senantiasa mengaitkan segala fenomena di sekitarnya dengan agama/kepercayaan/mitos masih dalam tahap teologis yang bercorak fiktif.

Berpikir Ilmiah dan Menganalisis Fenomena

Tahap selanjutnya adalah tahap metafisika yang bercorak abstrak, yaitu ketika fenomena alam yang terjadi adalah bagian dari hukum kausalitas (hukum sebab akibat). Tahap puncak adalah saintifik/positif yang bercirikan nalar ilmiah, berdasar bukti ilmiah, dan memenuhi syarat teramati, terulang, terukur, teruji, dan teramalkan.

Demikianlah kebenaran suatu pengetahuan menurut positivisme. Bagi paham positivisme, tahap teologis merupakan tahap terendah dari tingkat intelektualitas manusia. Tahap ini merupakan titik awal pemahaman manusia dalam memahami dunia.

Tahap metafisika menjadi tahap transisi dan yang tertinggi adalah tahap positif, tingkatan tertinggi dalam strata intelektualitas. Dalam tahap akhir ini manusia berpikir ilmiah dalam melihat dan menganalisis fenomena di sekitarnya.

Berdasarkan kerangka analisis bapak positivis sekaligus bapak sosiologi tersebut, Dian menggolongkan umumnya masyarakat Indonesia dalam tahap teologis, yaitu tahapan terendah. Pada bagian selanjutnya, Dian mengharapkan ada perubahan masyarakat menuju tahap positivis yang berpandangan ilmiah dan tidak lagi mengaitkan berbagai fenomena alam (termasuk bencana alam) semata-mata dengan ajaran agama.

Tampak ada usaha memisahkan antara berbagai fenomena alam dengan pemahaman masyarakat Indonesia pada umumnya terhadap ajaran agama. Ini merupakan fakta teologis sekaligus fakta sosiologis masyarakat Indonesia yang sejak dulu merupakan masyarakat yang religius dengan bermacam agama (dan juga kepercayaan).

Pemahaman semacam ini (yang mengaitkan bencana alam dengan persepsi agama) dianggap tidak ilmiah dan tidak rasional oleh August Comte dan dianggap kuno. Masyarakat harus meninggalkan pemahaman ini demi menuju masyarakat modern yang ilmiah dan rasional (tahap positivis).

Cukup menarik untuk kita cermati secara lebih mendalam esai dari Dian ini. Terdapat kerancuan cara berpikir dalam esai tersebut. Bahwa persepsi masyarakat terhadap agamalah (dan kepercayaan) yang menyebabkan masyarakat tidak berpikir rasional, sehingga seolah-olah pembaca diajak ”meninggalkan agama” dalam melihat fenomena (bencana) alam.

Antitesis

Barangkali cara berpikir ini merupakan antitesis terhadap umumnya masyarakat yang lebih percaya opini publik, baik di dunia nyata maupun dalam dunia maya (komentar warganet), yang tidak punya otoritas keilmuan dalam suatu hal, terlebih jika dikaitkan dengan agama (Islam yang paling banyak ”dibawa-bawa”).

Fenomena demikian diulas Tom Nicholes dalam buku Matinya Kepakaran atau The Death of Expertise. ”Pemisahan” kerangka berpikir religius dari respons masyarakat dalam melihat bencana alam bukan solusi jitu. Ketika hal ini diteruskan dan membudaya, masyarakat Indonesia akan terjebak paham sekulerisme.

Islam lewat otoritas keagamaan harus dihadirkan dengan nalar yang ilmiah namun tetap menggunakan kerangka reiligius. Artinya, otoritas keagamaan harus menghadirkan penyegaran pemahaman (ijtihad) kepada masyarakat agar dalam melihat dan merespons setiap fenomena (bencana) alam, tidak lantas menganggap ”itu merupakan takdir dari Allah”, namun juga melibatkan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan fenomena tersebut.

Dengan demikian, agama tidak lagi dipandang dalam ranah yang metafisik saja, tapi juga dalam ranah fisik yang rasional dan empiris (ilmiah). Dalam tataran praktis, mitigasi bencana akan lebih maksimal dilakukan sehingga meminimalisasi korban jiwa karena masyarakat juga percaya pada otoritas keilmuan serta pemegang kebijakan terkait yang telah mengimbau akan keselamatan jiwa serta tidak lagi mengultuskan kuncen (juru kunci).

Otoritas keagamaan harus bekerja sama dengan otoritas keilmuan dan pemegang kebijakan dalam mengedukasi masyarakat untuk mengubah cara berpikir dalam menyikapi fenomena bencana alam. Dengan demikian, terminologi logika beragama yang digunakan Dian tidak seksdar logika mistis (mitos) dalam melihat fenomena bencana alam, tapi menjadi nalar beragama yang ilmiah berdasarkan ajaran agama sekaligus ilmu pengetauan dan teknologi.

Kolom 6 hours ago

Delusi Tiongkok