Wisatawan Klaten Lapor ke Kantib Usai Makan Gudeg Ditagih Rp106.000

Pedagang di kawasan depan Pasar Berigharjo menjajakan dagangannya, Minggu (9/6 - 2019). (Harian Jogja/Lugas Subarkah)
11 Juni 2019 22:45 WIB Lugas Subarkah Nasional Share :

Solopos.com, JOGJA- Seorang wisatawan keberatan dengan harga nasi gudeg yang baru saja ia makan di warung lesehan depan Pasar Beringharjo, atau kawasan Malioboro Jogja. Ia pun melapor perihal harga yang dianggapnya terlalu mahal itu kepada Kantib Pasar Beringharjo, Sabtu (8/6/2019) kemarin.

Pagi itu, pembeli yang merupakan wisatawan dari Klaten ini membayar Rp106.000 untuk empat porsi makanan dengan rincian dua nasi ayam dan dua nasi telur. Kebetulan saat itu pemilik warung tidak memasang daftar harga.

Mendapati laporan tersebut, petugas Kantib pun mendatangi warung lesehan terlapor dan mendapati si pemilik sedang memasang daftar harga. Petugas langsung menanyai penjual gudeg itu soal laporan yang masuk.

Setelah dicek, ternyata harga yang diberikan penjual kepada pembeli yang melapor itu sudah sesuai dengan harga yang telah tertera dalam daftar harga. Saat petugas berusaha menghubungi pelapor, posisinya sudah di Klaten.

Melalui telepon, pelapor mengatakan membeli dua nasi ayam dengan harga masing-masing Rp35.000, nasi telur dengan harga masing-masing Rp30.000 dan dua air mineral masing-masing Rp6.000. Sehingga totalnya malah lebih dari yang ia bayarkan, yakni Rp142.000.

Sedangkan menurut keterangan pedagang, harga dua nasi ayam masing-masing Rp30.000, dua nasi telur masing-masing Rp17.000 dan air mineral masing-masing Rp6.000. Sehingga totalnya sesuai dengan harga yang diberikan, yakni Rp106.000.

Kabid Penataan, Pengembangan dan Pendapatan Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Jogja, Gunawan Nugroho, mengatakan kesalahan penjual tersebut adalah tidak memasang daftar harga. "Sehingga nuthuk atau tidaknya itu jadi relatif," katanya.

Sebelumnya ia juga telah mengimbau untuk semua pedagang di Malioboro agar memasang daftar harga. Hal ini bertujuan agar konsumen bisa tahu dan menghitung sendiri berapa harga yang harus dibayarkan, sehingga tidak merasa dijebak.

Meski demikian, menurutnya yang menjadi dasar keberatan dari pelapor juga tidak aple to aple karena membandingkan harga nasi ayam di warung gudeg dengan nasi ayam di warung pecel, yang jelas memang lebih mahal di warung gudeg.

Menurutnya, harga Rp30.000 untuk satu nasi ayam di warung lesehan gudeg masih terbilang wajar, apalagi di momen Lebaran. "Tapi karena tidak mencantumkan daftar harga, jadi keaannya konsumen dijebak," kata dia.