Soekarno, Idulfitri, dan Indonesia

Bandung Mawardi - Dokumen Solopos
09 Juni 2019 21:09 WIB Bandung Mawardi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (8/6/2019). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pada peringatan ulang tahun Soekarno terbit buku berjudul 80 Tahun Bung Karno (1990) dengan editor Aristides Katoppo. Puluhan tulisan dari tokoh sejarah dan intelektual disajikan bersama dalam ikhtiar mengenang Soekarno.

Penerbitan buku itu untuk semakin mengukuhkan persatuan. Soekarno selalu mengingatkan pada persatuan. Perwujudan persatuan mengalami pasang surut gara-gara perbedaan ideologi sejak masa 1930-an sampai 1960-an.

Pada peringatan 70 tahun kemerdekaan Indonesia, Majalah Intisari menerbitkan edisi khusus berjudul 70 Kisah Soekarno: Republik, Sahabat, dan Wanita. Edisi yang ringkas dan memikat meski mengabsenkan persoalan agama dalam biografi Soekarno dan sejarah Indonesia.

Kini kita mendapati 5 dan 6 Juni 2019 saat orang-orang mengartikan Idulfitri. Dua tanggal diwarnai merah menandai libur nasional. Orang-orang mengalami itu bukan cuma liburan tapi ibadah dan peristiwa-peristiwa sosial dan kultural.

Politik masih membara, tapi kita berhak ”cuti” atau menghindari. Kita lebih baik menghayati Lebaran sambil mengenang Soekarno, tokoh yang memiliki peristiwa-peristiwa penting pada bulan Juni: kelahiran sang proklamator itu sampai pidato tentang Pancasila.

Kini kita memiliki Juni adalah pemaknaan Indonesia, Idulfitri, dan Soekarno (6 Juni 1901-21 Juni 1970). Kita bisa melacak peristiwa-peristiwa bertokoh Soekarno berkaitan Idulfitri dan sejarah Indonesia. Pada 18 Maret 1961, Soekarno menyampaikan khotbah tambahan Idulfitri di halaman Istana Negara.

Khotbah berjudul Islam, Agama yang Mempersatukan Tuhan dengan Manusia. Dulu, salat Idulfitri memang diadakan di halaman, bukan di masjid. Situasi itu ditanggapi Soekarno dengan pengharapan bersama umat Islam. Di Istana Negara, masjid memang ada tapi kecil.

Segala yang Besar, Megah, Kukuh, dan Anggun

Masjid tak mampu memuat ribuan orang. Di hadapan jemaah, Soekarno berkata,”Dalam cita-cita kita semuanya, kita mencita-citakan satu masjid di Jakarta ini, yang besar dan megah. Dan memang saudara-saudara mengetahui bahwa kita telah membuat rencana membuat Masjid Istiqlal yang besar sekali. Mungkin boleh dinamakan masjid itu yang terbesar di seluruh dunia ini, jikalau dikabulkan oleh Allah SWT. Jadi, menurut rencananya Masjid Istiqlal itu bisa menghimpun paling sedikit 25.000 manusia.”

Pengharapan itu mungkin berlebihan. Soekarno memang jarang memberikan dan membuktikan impian bertaraf tanggung. Ia sering ingin segala hal itu besar, megah, kukuh, dan anggun. Pada hari Idulfitri, Soekarno bercerita Indonesia harus memiliki masjid besar.

Perwujudan harapan itu demi ibadah dan kehormatan Indonesia. Kini kita membuktikan pengharapan Soekarno. Masjid Istiqlal jadi pusat ibadah dan peristiwa-peristiwa pendidikan, seni, sosial, dan kultural. Kehormatan Indonesia sebagian ada di situ. Soekarno tak lupa berkhotbah mengenai negara. Indonesia masih di perjalanan sulit bercap revolusi belum selesai. Idulfitri diartikan maaf menempatkan hubungan ”kita” dan negara.

Soekarno berucap,”Nah, sekalian kita kepada negara, saudara-saudara marilah kita perbaiki segala kesalahan kita terhadap negara itu, sebab negara adalah satu organisasi untuk membuat manusia yang hidup di dalam negara ini menjadi manusia yang hidup di dalam kemakmuran, manusia yang hidup di dalam keadilan, manusia yang bisa menjalankan dia punya agama dengan sebaik-baiknya.”

Kalimat apik bagi pemenuhan gagasan negara yang dikehendaki jutaan orang. Kalimat itu diucapkan pada situasi politik masih memiliki lakon saling serang ideologi dan persatuan dipertaruhkan. Soekarno menghendaki maaf berlaku bagi negara. Khotbah singkat itu berpokok pada masjid dan negara.

Soekarno memberikan amanat di salat Idulfitri yang diselenggarakan di Masjid Baiturrahim, Istana Merdeka, 15 Februari 1964. Indonesia masa itu semakin tegang. Soekarno menjadi tokoh sasaran pujian dan makian. Tatanan politik mulai tak keruan.

Amanah Tanah Air

Gejala-gejala sengketa sudah tampak tapi Soekarno masih ingin Indonesia bergerak di jalan revolusi tanpa takut, capek, dan murung. Revolusi tetap belum selesai. Soekarno mengerti dalam posisi sulit. Ia masih mungkin memberi seruan dan menginginkan Indonesia bersatu mengacu pada Nasakom.

Soekarno pada hari sakral itu berseru,”Tuhan mengamanahkan kepada kita, tanah air kita. Tuhan mengamanahkan kepada masyarakat kita, kita harus selamatkan amanah Tuhan ini yang bernama masyarakat dan kita selamatkan tanah air Indonesia dengan berjuang.”

Bahasa nasionalis dan heroik disampaikan kepada umat Islam agar tanggap dan bersikap atas lakon Indonesia masa 1960-an. Soekarno tak lupa mengucapkan maaf dalam tatanan kata mengesankan otoritatif.

”… inilah kesempatan yang sebaik-baiknja untuk saya minta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia atas kesalahan-kesalahan yang telah saya perbuat, kesalahan-kesalahan yang saja tahu dan kesalahan-kesalahan yang saja tidak tahu.”

Soekarno minta maaf itu peristiwa terbuka dan pantas dicatat dalam sejarah Indonesia bertepatan dengan peringatan Idulfitri. Malapetaka 1965 membuat Indonesia terguncang. Soekarno dalam dilema kekuasaan. Zaman itu serbasalah dan serbamarah. Soekarno di kegamangan revolusi saat orang-orang mulai rajin protes dan persekongkolan-persekongkolan perlahan mericuhkan kekuasaan.

Soekarno memberi lagi amanat di peringatan Idulfitri di Istana Merdeka, 23 Januari 1966. Politik semakin pelik. Pada hari suci, keinsafan dan kebahagiaan masih mungkin dialami meski tak penuh. Soekarno memulai dengan pengakuan.

”… kalau saya diharuskan berbicara di masjid, tiap-tiap perkataan saya itu harus betul-betul keluar dari lubuk hati saja yang sedalam-dalamnya, yang seikhlas-ikhlasnja. Betul-betul dari lubuk hati saya jang sedalam-dalamnya, seikhlas-ikhlasnya. Tidak boleh dicampuri dengan agitasi.”

Ketabahan dan Penerimaan

Soekarno tak mau bicara sembarangan, gampangan, dan murahan. Ia mungkin semakin mengerti nasib Indonesia sedang gonjang-ganjing menanti kepastian. Kita mengingat sikap Soekarno dalam amanat berikut.

”Akulah yang sudah mengutuk Gestok. Dan akulah yang telah mempersiapkan Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili orang-orang yang berbuat Gestok. Tetapi, akulah yang sejak mulanya permulaan bulan Oktober berkata: tenang, tenang, tenang.”

Anjuran itu dimaksudkan agar ada ketabahan dan penerimaan semoga Allah memberi jawaban doa: pemecahan politik pelik. Hari-hari berisi gontok-gontokan politik terus terjadi. Soekarno ingin mengakhiri itu semua dengan saling memaafkan dan persatuan.

Idulfitri tentu bemakna besar atas pencapaian persatuan Indonesia, bukan congkrah atau perpecahan. Soekarno dalam mengalami Idulfitri (1961, 1964, 1966) mendasarkan khotbah pada nasib Indonesia.

Pada hari suci, ia mengamanatkan kepada umat untuk memberi makna Indonesia dalam lindungan dan berkat Allah. Politik memang gampang amburadul tapi pijakan kepada agama itu kewajiban.

Kini, kita sejenak mengingat Soekarno, Idulfitri, dan Indonesia berbarengan Indonesia yang belum beres pada kehormatan berdemokrasi dan keikhlasan saling meminta dan memberi maaf.