Mudik adalah Ritual Spiritual dan Kultural

Suwarmin - Dokumen Solopos
08 Juni 2019 05:00 WIB Suwarmin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (3/6/2019). Esai ini karya Suwarmin, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah suwarmin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO – ”Bu, aku mudik. Tapi, aja ditakoni kapan rabi ya.” Itu kalimat yang ditempel di tas ransel yang dibawa kerabat saat kembali ke kampung halaman beberapa hari lalu. Artinya: Bu, aku pulang mudik. Tapi, jangan ditanya kapan menikah ya.”

Bagi sebagian orang, acara silaturahmi keluarga yang menyertai mudik memang seperti hantu. Menyeramkan. Pasti akan ada pertanyaan-pertanyaan sederhana namun sulit dijawab. Meski sederhana, namun jika terlalu sering ditanyakan lama-lama menjengkelkan. Pertanyaan itu seperti “kapan menikah”, “kok masih sendiri aja”, dan sejenisnya selalu menghantui para jomlo.

Itu justru membuktikan momentum mudik adalah semacam penanda harapan atas perubahan jalan hidup seseorang. Dari gagal menjadi berhasil. Dari miskin menjadi kaya. Dari jomlo menjadi menikah. Dari menganggur menjadi bekerja. Dan seterusnya.

Mudik atau pulang hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang pergi atau merantau. Lebih dari 600.000 orang warga Soloraya akan pulang ke kampung halaman mereka masing-masing pada perayaan Lebaran 2019 ini.

Berdasarkan data yang diberitakan Harian Solopos beberapa waktu lalu, pemudik ke Soloraya merupakan jumlah terbanyak dari barisan pemudik ke Jawa Tengah. Provinsi Jawa Tengah adalah tujuan pulang pemudik paling banyak secara nasional diikuti Jawa Timur.

Tentu kali ini bukan kepulangan yang biasa. Ini kepulangan yang, sebut saja, sakral. Hanya pada momentum Lebaran atau Idulfitri jutaan orang pulang bersamaan ke tempat asal mereka, pulang ke rumah orang tua, atau ke tempat mereka menautkan diri.

Mudik adalah perayaan kultural. Perayaan rindu kampung halaman. Mudik dilakukan demi perayaan Lebaran yang penuh silaturahmi, saling bersalam-salaman, saling menihilkan dosa dan kesalahan. Orang zaman dulu menyebut sebagai mat sinamatan, saling menghargai atas kedirian masing-masing. Bagi yang kemarin-kemarin masih saling tak enak hati karena perbedaan pilihan politik saat pemilihan umum 2019, ini juga menjadi saat yang baik untuk saling mengikhlaskan perbedaan.

Cerita Kemilau tentang Masa Lampau

Kisah tentang kampung halaman, bagi orang-orang yang lama tak pulang, selalu menyimpan cerita kemilau tentang masa lampau. Masa lalu bagaimanapun selalu terlihat kemilau jika dilihat dari masa sekarang: rumah lama, tempat mereka bermain dakon, lompat tali, atau dhelikan pada masa kecil dulu.

Jalanan kampung dan sungai-sungai kecil; teman lama yang dulu sering bercanda bersama atau sesekali bertengkar dan marahan; dan harapan-harapan lama yang kini bersisa kenangan. Mungkin juga, menziarahi kembali cinta lama.

Pulang saat Lebaran sudah lama dikenal pula dengan sebutan mudik. Menurut Kamus Besar Bahas Indonesia (KBBI), mudik artinya berlayar atau pergi ke udik. Juga punya makna pulang ke kampung halaman. Sebagian orang memaknai mudik berasal dari kata serapan bahasa Jawa mulih dhisik atau pulang dulu.

Mudik semacam pencerahan, oase dari kering dan gersangnya jiwa karena lelah menjalani perlombaan kehidupan. Mudik selalu mengundang suasana khusus. Itu seperti burung-burung beterbangan, mau tak mau suatu saat akan hinggap pula.

Demikian juga dengan para pemudik itu. Setelah setahun bertualang di rimba kehidupan, kini saatnya menepikan diri, mengisi ulang baterai semangat dengan mencecap air dan masakan di rumah lama. Mudik bukan hanya soal pulang, bertemu orang tua atau sanak saudara. Mudik adalah tentang laku spiritual, sosial, kultural, yang saling kait mengait menjadi bangun ritual sosial-ekonomi sangat besar.

Mudik sebagai bagian situasi Lebaran menjadi penggerak peningkatan konsumsi rumah tangga. Mudik membuat belanja fesyen dan penganan meningkat tajam, mulai dari pedagang online sampai pemain ritel besar. Bagi sebagian orang, mudik adalah saat menunjukkan pencapaian diri setelah setahun lamanya mengejar aktualisasi diri. Mudik membuat pegadaian ramai orang menarik barang yanag semula digadaikan.

Mudik membuat toko emas diserbu pembeli: buat pelengkap out fit saat silaturahmi. Mudik membuat rental mobil laris manis, apalagi mudik kali ini bisa menjajal jalan tol  baru sekaligus sedikit bergaya di kampung halaman.

Penuh Kepura-Puraan

Fenomena itu sejalan dengan data Kementerian Perhubungan. Menurut Survei Potensi Pemudik Angkutan Lebaran Tahun 2019 yang dikeluarkan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan, uang yang akan mengalir ke daerah selama mudik Lebaran diperkirakan mencapai Rp10,3 triliun.

Seperti halnya mudik tahun-tahun sebelumnya, arus mudik Lebaran tahun ini juga berarti mengalirnya uang ke daerah-daerah. Ahmad Baidun pernah menulis tradisi mudik di satu sisi dapat memunculkan budaya eufimisme, yaitu penuh dengan kepura-puraan.

Memaksakan diri, belanja dan konsumsi melebihi batas kemampuan, serta menantang risiko dalam perjalanan (Syukiran, 2015). Menghamburkan sumber daya, khususnya sumber daya ekonomi, berarti membiasakan diri dengan konsumsi biaya tinggi.

Mudik bagi sebagian besar orang Jawa juga dimaknai sebagai saatnya sungkem kepada orang tua, menghaturkan bakti, memohon maaf, meminta nasihat. Sungkem menjadi ritual khas muslim Jawa yang berlangsung puluhan tahun yang dimaknai dari wujud bakti seorang anak kepada orang tua.

Dalam situasi seperti ini, mudik menjadi pelengkap kebahagiaan keluarga setelah setahun berpisah dan setelah sebulan lamanya berpuasa. Mudik bukan sekadar pulang ke kampung halaman, salat Idulfitri lalu salam-salaman.

Mudik punya tuntutan lebih. Itulah sebabnya meski teknologi komunikasi memungkinkan orang bertegur sapa setiap saat sembari melihat tampilan fisik, orang masih terpanggil pulang saat momentum Lebaran. Meski jalan tol seolah-olah mendekatkan jarak antarkota sehingga frekuensi pulang kampung bisa lebih sering, mudik tetap ritual yang wajib dilakukan karena mudik adalah perayaan kultural.

 

Kolom 7 hours ago

Delusi Tiongkok