Wabah Campak Terparah Landa Warga AS karena Tolak Vaksin

ilustrasi pemberian vaksin. (Solopos/Dok)
07 Juni 2019 07:00 WIB Ginanjar Saputra Internasional Share :

Solopos.com, WASHINGTON — Wabah campak melanda lebih dari 1.000 warga Amerika Serikat (AS). Otoritas kesehatan Amerika Serikat (AS) mengatakan jumlah penderita campak itu menjadi yang tertinggi dalam 27 tahun terakhir.

Dikutip dari Liputan6.com, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS memperbarui catatan tersebut pada Rabu (5/6/2019). Secara terperinci, 1.001 penderita campak telah dilaporkan sejak awal 2019.

Dikutip dari Time.com pada Kamis (6/6/2019), sebagian besar dari wabah campak tersebut ditemukan di negara bagian New York, terutama yang menyasar komunitas Yahudi Ortodoks.

Hal ini kian diperparah dengan temuan bahwa banyak penganut Yahudi Ortodoks enggan memberikan vaksin campak pada anaknya karena berbagi pertimbangan, termasuk keraguan dari sudut pandangan keyakinan yang mereka anut.

Meski jumlah kematian berbanding sangat kecil dengan tingkat epideminya, namun wabah campak tetap menjadi perhatian serius otoritas kesehatan AS, setidaknya selama setahun ke depan.

Amerika Serikat terakhir kali menyaksikan wabah campak pada 1992 silam, di mana kala itu penyakit tersebut tercatat sebanyak lebih dari 2.200 kasus.

Beberapa dekade sebelumnya, campak sempat menjadi penyakit umum di kalangan masyarakat AS, sebelum dilumpuhkan oleh kampanye vaksinasi sejak 1960-an.

Pada sekitar tahun 2010, serangan campak di AS dilaporkan rata-rata tidak lebih dari 100 kasus per tahunnya.

Adapun tingkat vaksinasi lokal terhadap ancaman campak disebut tidak mengalami gangguan berarti. Namun, penolakan orang tua terhadap suntikan yang direkomendasikan terhadap anak-anak mereka bisa berdampak semakin buruk, jika tidak segera ditangkal dengan sosialisasi memadai.

Di lain pihak, pada awal Maret lalu, Badan PBB untuk urusan kesejahteraan anak-anak (UNICEF) mengatakan, ada 10 negara yang bertanggungjawab atas tiga perempat dari lonjakan global kasus campak tahun lalu.

Sementara itu, seperti dikutip dari VOA Indonesia, 98 negara melaporkan lebih banyak kasus campak pada 2018 dibandingkan dengan 2017.

Badan dunia tersebut memperingatkan bahwa konflik, kepuasan diri, dan gerakan anti-vaksin yang semakin meningkat, mengancam upaya keras yang telah dilakukan selama beberapa dekade untuk menjinakkan penyakit tersebut.

"Wabah Ini merupakan peringatan dini. Kita memiliki vaksin yang aman, efektif dan murah terhadap penyakit yang sangat menular -- vaksin yang menyelamatkan hampir satu juta jiwa setiap tahunnya selama dua dekade terakhir," kata Henrietta Fore, direktur eksekutif UNICEF.

Kolom 6 hours ago

Fisika di SMK