Sengkuni pada Hari Ini

Aris Setiawan - Dokumen Solopos
01 Juni 2019 11:15 WIB Aris Setiawan Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (29/5/2019). Esai ini karya Aris Setiawan, etnomusikolog dan pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah segelas.kopi.manis@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Narasi besar tentang kebangkrutan eksistensi pertunjukan wayang pada zaman ini terjadi manakala lakon-lakon beranjak dari panggung imajinasi ke lakon kehidupan nyata.

Dahulu kala orang menyaksikan pertunjuakan wayang kulit dengan atusias karena apa yang mereka saksikan tidak dijumpai di alam kehidupan yang sebenarnya.

Menyaksikan kisah cinta yang menyentuh hati, perang yang menyayat nurani, tragedi yang berbuah kesedihan memuncak hingga berurai air mata, serta kelicikan yang memantik amarah diikuti dengan sumpah serapah penonton.

Dalang Slamet Gundono dalam Festival Greget Dalang di Solo pada 1995 pernah mendapatkan hujatan dan cacian manakala dalam sebuah pertunjukan wayang kulit ia membawakan sebuah kisah di luar kelaziman, yakni membunuh Pandawa.

Tokoh yang selama ini menyuarakan kebenaran, menjadi panutan dengan akhlak yang baik atau mulia itu, di tangan Slamet Gundono mati alias kalah oleh keculasan dan kejahatan. Masyarakat marah, tokoh-tokoh yang diidolakan itu tidak boleh mati, harus senantiasa hidup agar memberi mereka teladan yang senyatanya dalam kehidupan sehari-hari.

Menyaksikan pertunjukan wayang selayaknya memasuki belantara dunia lain yang penuh imajinasi dan mimpi. Kelir yang hanya berwarna putih bersih itu dapat menjadi serangkaian bentuk baru dalam benak tiap penonton.

Lewat kelir itu mereka mendamba tentang kerajaan yang agung, hutan yang rimbun, gunung yang hijau, serta api yang berkobar. Dengan demikian, pertunjukan wayang tidak saja enak ditonton, tapi juga enak direnungkan.

Tokoh-tokoh dalam pertunjukan wayang mampu menginspirasi untuk ditiru, tapi juga dibenci untuk dicaci. Tokoh wayang menjadi sumber inspirasi bagi nama-nama anak di Jawa. Kita kemudian menjumpai nama Partha-Arjuna, Nakula-Sadewa, Bima, Guritno (Gatutkaca), Abimanyu, Yudi(stira), dan lain sebagainya.

Tidak satu pun kita jumpai nama anak dengan sosok antagonis seperti Duryudana, Durna, Dursasana, atau bahkan Sengkuni, namun belakangan ini nama Sengkuni begitu gaduh diperbincangkan, terutama dalam liminasa media sosial.

Paling Licik dan Picik

Tidak ada sosok yang paling licik dan picik selain Sengkuni. Dalam dunia wayang, ia digambarkan sebagai tukang hasut yang penuh dengan keculasan dan tipu daya. Sengkuni adalah tangan kanan paling dipercaya oleh pangeran penguasa Hastina, yakni Duryudana.

Apa pun saran Sengkuni senantiasa didengar, tidak peduli seburuk atau sejahat apa pun itu. Tujuan utamanya adalah menjatuhkan Pandawa, alias membunuh kebaikan. Sejak awal sebenarnya Sengkuni hidup dalam kedengkian yang memuncak.

Hal ini dipicu karena sudarinya yang cantik jelita, Gandari, diperistri oleh Dretarasta (kelak menjadi raja Hastinapura dan ayah Kurawa) yang buta. Ia marah. Bagaimana mungkin kecantikan saudarinya diperuntukkan orang yang tak pernah bisa melihat.

Seharusnya Gandari menjadi istri Pandu (adik Dretarasta, kelak menjadi ayah Pandawa), yang rupawan itu. Sengkuni bertekad menghancurkan Hastina dan penghuninya. Dengan kata lain, sejatinya tujuan utama Sengkuni adalah peperangan antar keluarga atau saudara.

Terserah siapa pun yang menang atau kalah, yang diinginkan hanya obat bagi luka bertabur dendam. Benar saja, perang itu terjadi, benama Batarayudha, Pandawa menang, Kurawa mati, tapi kemenangan itu membawa duka, ratapan dan tangis tiada ujung.

Dalam narasi yang demikian, sosok Sengkuni hari ini dimunculkan. Tukang hasut, dengan kata-kata picik berusaha mengadu domba. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan sangat gamblang mengungkapkan ada Sengkuni untuk memprovokasi massa pada demonstrasi tanggal 22 Mei lalu di depan Kantor Badan Pengawas Pemilihan Umum (detik.com, 23 Mei 2019).

Tada pagar #TangkapSengkuni sempat mengemuka di media sosial. Tidak disebutkan siapa sosok Sengkuni itu, namun kita dapat membaca dari ungkapan-ungkapan bernada provokasi atau hasutan yang diproduksi.

Dalam konteks kerusuhan pada demonstrasi tanggal 22 Mei lalu, tiba-tiba saja ada sosok yang mengungkapkan “polisi seperti Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menembaki umat Islam secara ugal-ugalan”. Bagi yang mengemukakan itu tidak penting apakah hal itu benar-benar terjadi atau tidak.

Mengadu Domba

Yang utama adalah membangun wacana sehingga mampu memunculkan letupan emosi massa secara radikal dan membabi buta. Sebagaimana dalam kisah pewayangan, ia tidak memiliki kemampuan lain selain menghasut dan mengadu domba.

Sengkuni menjadi lakon yang berpendar dari panggung-panggung pertunjukan wayang menjadi kisah-kisah karakter hidup manusia di alam nyata. Oleh karena itu, kita kemudian terlalu asyik melihat drama-drama sosial yang terjadi di sekitar kita dibanding dengan sanggit wayang dalam panggung pertunjukan.

Apa gunanya menonton wayang bila hidup lebih dramatis dibanding lakon pertunjukan yang disajikan? Apa jadinya bila dalam kehidupan nyata terdapat sosok Sengkuni yang lebih culas dibanding tokoh Sengkuni dalam kisah Mahabarata?

Panggung wayang tak ubahnya ramalan, bahwa apa pun yang ada di dalamnya serupa pertanda yang dapat terjadi pada masa mendatang. Bukankah hari ini kita menjumpai kebencian, kejahatan, kebrutalan, dan kekerasan melebihi apa yang dilakonkan dalam pertunjukan wayang?

Pertanyaannya kemudian, masih pentingkah kita menonton wayang bila hidup kita sudah sangat ”wayang”? Kendatipun demikian, kita patut bersyukur tentang adanya warisan berharga berupa lakon wayang di negeri ini.

Setidaknya, kita menjadi tahu siapa saja yang mirip dengan tokoh wayang, tentang perangai dan karakter seseorang, mengidentifikasi apakah yang diucapkan dan dilakukan itu baik atau buruk. Wayang menjadi tuntunan, mengarahkan laku hidup manusia menjadi baik dan bijak.

Wayang tidak semata-mata memberi contoh tentang keburukan dan tipu daya, tapi juga pengorbanan dan cinta kasih. Oleh karena itu, silakan memilih, Anda hendak menjadi (meniru) sosok siapa dalam pertunjukan wayang itu? Yang baik ataukah sebaliknya seperti Sengkuni!

Kolom 7 hours ago

Delusi Tiongkok