Pengacara: Senjata Kivlan Zein untuk Berburu Babi

Mantan Kepala Staf Komando Strategis Angkatan Darat (Kas Kostrad) Mayjen TNI Purnawirawan Kivlan Zein (tengah) menghadiri unjuk rasa menuntut diusutnya dugaan kecurangan Pemilu 2019 di Kantor Bawaslu RI, Jakarta, Kamis (9/5 - 2019). (Antara/Aditya Pradana Putra)
30 Mei 2019 19:00 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Kuasa hukum mantan Kepala Staf Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen, Djuju Purwantoro, menyatakan pihaknya akan mengajukan praperadilan dalam kasus dugaan kepemilikan senjata ilegal. Dia beralasan senjata itu hanya untuk berburu babi.

"Rencananya begitu, alasannya normatif, ada aturan. Tapi untuk penangkapan dan penahanan Kivlan tak sesuai aturan," ujar Djuju di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (30/5/2019).

Djudju menegaskan hal yang dituduhkan kepada kliennya dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat No 12/1951 tentang senjata api, tidak sesuai dengan aturan. Alasannya, dia mengklaim Kivlan tidak pernah memiliki maupun menguasai senjata api.

Djuju menyatakan bahwa senjata api yang dimaksudkan itu untuk berburu babi, bukan untuk rencana pembunuhan terhadap empat tokoh nasional dan seorang pimpinan lembaga survei itu.

Tim kuasa hukum juga akan mengajukan permohonan penangguhan penahanan Jumat besok. "Pasti, besok kami ajukan. Penjaminnya ada istri, rekan dan pejabat," ucap Djudju.

Kivlan rencananya akan dipindahkan ke Rutan Polisi Militer Guntur, Jakarta Selatan selama 20 hari terhitung sejak hari Kamis ini, usai menyelesaikan berkas acara pemeriksaan dan diperiksa kesehatannya oleh dokter Polda Metro Jaya.

Tim kuasa hukum juga mengupayakan agar Kivlan Zein bisa bebas kurang dari 20 hari. Lantas, Suta Widhya, kuasa hukum Kivlan berpendapat kliennya tidak perlu ditahan.

"Sebenarnya tidak ada alasan untuk menahan, tapi kita ikuti prosedur walau tidak ada bukti-bukti. Kivlan tidak pernah memegang senjata setelah pensiun, dia seorang dosen dan pembicara di berbagai tempat," kata Suta.

Sumber : Antara