Suap Proyek SPAM: Satu Keluarga Koruptor Dijebloskan ke Penjara

Pasangan suami istri Budi Suharto dan Lily Sundarsih, serta anaknya Irene Irma dan Yuliana Enganita Dibyo (menggunakan rompi oranye) dieksekusi KPK. (Istimewa/KPK)
30 Mei 2019 18:30 WIB Ilham Budhiman Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeksekusi satu keluarga terpidana korupsi ke penjara, Kamis (30/5/2019). Satu keluarga tersebut adalah pasangan suami istri Budi Suharto dan Lily Sundarsih, serta anak mereka Irene Irma dan Yuliana Enganita Dibyo.

"Jaksa eksekusi pada KPK telah melakukan eksekusi terhadap 4 orang terpidana dalam kasus suap terkait proyek sistem penyediaan air minum di sejumlah daerah," kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, Kamis (30/5/2019).

Budi Suharto dieksekusi ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas 1 Pria Tangerang, sedangkan Lily, Irene, dan Yuliana dieksekusi ke LP Klas II B Anak Wanita Tangerang.

"Mereka akan menjalankan masa hukuman sesuai dengan putusan pengadilan tindak pidana korupsi yang telah berkekuatan hukum tetap," kata Febri.

Budi Suharto merupakan Dirut PT Wijaya Kusuma Emindo (WKE), sedangkan istrinya Lily, adalah Direktur PT WKE. Sementara Irene adalah direktur PT Tashida Sejahtera Perkasa (TSP) bersama dengan Yuliana. Kedua perusahaan itu milik satu keluarga.

Keempatnya telah divonis 3 tahun penjara oleh majelis hakim pengadilan tipikor Jakarta Pusat karena terbukti bersalah menyuap pejabat di Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Total uang suap yang dialirkan sebesar Rp4,1 miliar, US$38.000 dan S$23.000, dengan maksud agar para pejabat itu tidak mempersulit pengawasan proyek sehingga dapat memperlancar pencairan anggaran proyek SPAM yang digarap oleh PT WKE dan PT TSP.

Para pejabat PUPR penerima suap itu adalah Kepala Satuan Kerja SPAM Strategis/Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) SPAM Lampung Anggiat Partunggul Nahot Simaremare, PPK SPAM Katulampa Meina Waro Kustinah, Kepala Satuan Kerja SPAM Darurat Teuku Moch. Nazar, dan PPK SPAM Toba 1 Donny Sofyan Arifin.

"KPK juga akan terus mencermati fakta yang muncul di persidangan terutama jika terdapat petunjuk awal adanya pelaku lain yang terlibat," ujar Febri.

Sumber : Bisnis/JIBI