Videotron yang Layak Tonton

Helti Nur Aisyiah - Istimewa
26 Mei 2019 02:00 WIB Helti Nur Aisyiah Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (22/5/2019). Esai ini karya Helti Nur Aisyiah, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah aisyah76@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Kini ada yang berbeda di beberapa persimpanan jalan di Kota Solo. Sebagian persimpangan jalan menjadi semakin menarik, tetapi tidak di semua persimpangan. Sembari berhenti mengikuti tata tertib berlalu lintas saat lampu merah menyala, pengendara kendaraan bermotor bisa menikmati sajian tulisan atau gambar bergerak yang ditampilkan melalui videotron.

Sebenarnya videotron di Kota Solo sudah lama ada, tetapi belakangan ini makin marak pengadaannya. Videotron tidak hanya ada di beberapa jalan utama, melainkan juga di beberapa ruas jalan sekunder yang banyak dilewati kendaraan bermotor dan di depan beberapa entitas sebagai media promosi atau sekadar media sosialisasi informasi.

Videotron bukanlah satu-satunya media informasi yang dapat dipasang di luar ruangan (outdoor advertising). Ada pilihan lain, yaitu spanduk, billboard, megatron, dan lain sebagainya. Videotron menjadi media informasi dan periklanan yang kekinian seiring berkembangnya teknologi informasi akhir-akhir ini.

Beberapa waktu yang lalu terdapat tulisan ”Cause Visual Speaks Louder” di salah satu billboard di Kota Solo. Substansi tulisan tersebut benar. Gambar memang lebih menarik daripada sekadar tulisan, apalagi jika segmen pasar adalah yang tidak begitu suka membaca tulisan panjang. Pesan yang dari gambar tersebut akan sangat mengena.

Tulisan “Cause Visual Speaks Louder” itu tertulis jelas di billboard yang notabene sebatas gambar diam, tidak bergerak. Apa jadinya jika gambar yang dipasang merupakan gambar yang bergerak dan menampilkan narasi tertentu atau video. Tentu pesan yang disampaikan pada media iklan tersebut akan lebih ”berteriak”.

Pemilihan media informasi videotron pada era digital merupakan pilihan yang paling tepat mengingat maraknya pembuatan video sederhana hingga kompleks oleh netizen atau warganet. Ini terbukti dari makin banyaknya layanan mengunggah video di beberapa media sosial.

Tidak hanya itu, aplikasi penyuntingan video juga dengan mudah–cukup dalam genggaman tangan–dapat diunduh dari Playstore maupun Appstore. Kemudahan-kemudahan inilah yang mendorong setiap orang membuat video secara autodidak–bisa belajar dari tutorial-tutorial di Internet.

Melek Teknologi

Output dari proses pembuatan video tersebut pun tidak kalah menarik dari video yang diproduksi oleh orang yang menekuni ilmu khusus bidang videografi. Fenomena melek teknologi yang menghasilkan banyak videografer maupun vlogger amatir inilah yang mendorong makin banyak videtron guna mengikuti perkembangan teknologi.

Perlu perhatian khusus tentang pengoperasian media periklanan kekinian ini. Salah satu permasalahan yang perlu ditemukan solusinya adalah tentang redup atau terangnya cahaya yang dihasilkan oleh videotron tersebut. Walaupun videotron diletakkan di tempat yang strategis, tidak menutup kemungkinan cahaya–matahari atau lampu–di sekitar beberapa videotron tidak mendukung fungsi penayangan dapat berjalan dengan maksimal.

Ada beberapa kasus tentang pencahayaan videotron di Solo. Pertama, pada pagi hingga siang informasi yang ditampilkan terlihat jelas, tetapi kalau malam cahanya menjadi sangat menyilaukan. Kedua, pada pagi hingga siang informasi tidak terlalu terlihat, tetapi saat malam menjadi jelas (tidak silau).

Jika kondisi ini dibiarkan berlaru-larut akan merugikan pengiklan maupun pengguna jalan yang melintas di sekitar videotron. Kasus pencahayaan pertama mengakibatkan pengendara yang melintas tidak menonton videotron dengan alasan silau, sedangkan kasus kedua mengakibatkan informasi yang ditayangkan tidak sampai kepada penonton videotron.

Ekspektasi dari pemasangan iklan melalui media videotron adalah setiap warga yang melintas di sekitar videotron akan menonton dan menikmati. Ekspektasi tersebut bisa jadi tidak berhasil sepenuhnya hanya karena faktor ketidaksesuaian antara cahaya videotron dan cahaya matahari (pagi hingga sore) atau lampu (malam).

Videotron itu keren, tetapi pengoperasiannya harus efisien dan efektif. Efisien berarti perbandingan antara input dan output, sementara efektif berarti pencapaian target tertentu. Penayangan video di ruang tertutup bisa dikatakan efisien, tetapi belum tentu jika diletakkan di luar ruangan.

Simbiosis Mutualisme Periklanan

Jika tidak efisien, berdampak pada efektivitas pemasangan iklan. Artinya, target iklan melalui videotron bisa tidak tercapai. Bukankah pengiklan berharap iklan yang ditayangkan dapat dilihat, dipahami, dan dinikmati oleh calon customer dengan baik? Dampaknya adalah kenaikan penjualan produk. Lantas, bagaimana solusinya?

Pertama, mengatur cahaya yang dihasilkan videotron dengan tepat. Artinya, jika dipasang pagi hingga sore, informasi yang ditayangkan dapat terlihat jelas–menyesuaikan cahaya matahari. Sebaliknya, jika dipasang pada malam, cahaya yang dihasilkan tidak menyilaukan para pengendara yang melintas di sekitar videotron.

Kedua, ada petugas setiap pergantian waktu pagi, siang, sore, dan malam untuk memastikan informasi dan pencahayaan di videotron dapat dinikmati dengan baik. Ketiga, ada kerja sama antara penyedia jasa pemasangan iklan dan pemerintah khususnya yang mengurusi penerangan jalan umum untuk menyesuaikan cahaya videotron dan lampu pada malam hari.

Pemerintah harus ikut andil dalam penayangan videtron ini mengingat salah satu pendapatan daerah bersumber dari pajak periklanan (reklame). Selain itu, pemerintah juga bertanggung jawab atas kenyamanan warga yang melintas di sekitar videotron. Cahaya yang terlalu tajam dapat mengganggu penglihatan dan risiko terbesarnya adalah terjadi kecelakaan lalu lintas.

Keempat, pengendara aneka kendaraan yang sering melintasi jalan di sekitar videtron dapat menggunakan alat pembantu peredam silau pada malam hari, misalnya kacamata hitam, kacamata antiradiasi, serta kaca helm dan kaca film mobil yang ramah terhadap cahaya tajam.

Warga yang sering melintas di jalan tersebut sebaiknya sadar akan kesehatan mata, apalagi jika jalan tersebut satu-satunya jalan menuju ke tujuan perjalanan, tidak ada jalan alternatif.

Dengan solusi-solusi tersebut diharapkan akan tercipta simbiosis mutualisme, yaitu antara penyedia jasa pemasangan iklan, pengiklan, pemerintah, dan pengguna jalan di sekitar videotron sama-sama merasakan keuntungan.

Penyedia jasa pemasangan iklan mendapatkan penghasilan. Pengiklan mengalami kenaikan omzet. Pemerintah mendapatkan pendapatan dari pajak reklame. Pengguna jalan dapat menikmati video yang diproduksi oleh pengiklan hingga akhirnya tertarik untuk mencoba produk yang ditampilkan melalui videotron tersebut.