Lari, Cerita, dan Zohri

Bandung Mawardi - Dokumen Solopos
24 Mei 2019 10:00 WIB Bandung Mawardi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (21/5/2019). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pada abad XXI, keinginan orang jadi pelari ”dipaksa” menuju pemenuhan kaidah-kaidah dan menghindari keburukan. “Lari melewati hutan-hutan dan mendaki pegunungan dan melintasi perkotaan membuatku merasa hidup,” demikian pengakuan Mathhew Inman alias The Otmeal.

Pengakuan itu tercantum di buku Alasan-Alasan Konyol dan Keren Kenapa Aku Suka Lari Jarak Jauh (2015). Ia berlari karena ingin meninggalkan ketololoan dan petaka. Ia berujar,”Memakan segunung selada dan menghitung kalori membuatku capek dan merasa seperti robot.”

Hidup pada zaman berlimpahan makanan dan godaan teknologi, The Otmeal harus meningkatkan hasrat untuk berlari dan terus berlari. Pilihan berlari kini membujuk makin banyak orang yang jamak mendingan menghabiskan hari dengan duduk bergawai sambil makan atau tiduran menonton televisi.

Berlari sebagai gaya hidup mulai menular kepada kaum muda di pelbagai kota. Raga diajak berlari, bukan ”dimalaskan” atau ”dihancurkan” dengan keseringan duduk dan berbaring.

The Otmeal punya lelucon,”Aku lari jarak jauh karena aku menolak dan akan selalu menolak menjadi kentang panggang.” Kalimat ”kurang ajar” seperti ini memang dicipta terus dan berkesinambungan agar berlari semakin menjelaskan kebaikan.

Buku kartun dengan kalimat-kalimat filosofis lucu, menjengkelkan, bijak, dan ajaib itu mungkin bukan bacaan Lalu Muhammad Zohri. Pelari Indonesia yang sedang membuat sejarah di lomba lari jarak 100 meter, bukan lari jarak jauh seperti yang membuat The Otmeal kegirangan.

Zohri berlari dan mendapat tiket ke Olimpiade Tokyo (2020). Ia sudah memenuhi ketentuan dengan mencatatkan waktu 10,03 detik pada lari jarak 100 meter diselenggarakan di Jepang pada 19 Mei 2019.

Ia berlari untuk rekor waktu dan memuliakan Indonesia di mata dunia. Zohri yang kini berusia 18 tahun tak sempat menandingi lelucon The Otmeal,”Aku berlari begitu kencang karena aku bergitu putus asa ingin berdiam diri.” Zohri berlari kencang dengan misi besar untuk Indonesia, bukan ketakutan jadi gemuk, minggat dari kemanjaan gawai, atau membuang tumpukan frustrasi.

Rekor Sembilan Detik

Konon, Zohri berjanji ingin berlari 100 meter dengan catatan waktu sembilan detik. Ia mau sembilan detik! Bermula lomba di Jepang, Zohri mendapat tiket ke Olimpiade. Ia tetap ingin mengikuti pelbagai lomba untuk meraih rekor sembilan detik.

Dulu, The Otmeal memiliki kenangan mengerikan dan menakjubkan di Jepang,”Waktu itu panas 104 derajat Fahrenheit (60 derajat Celcius) yang lembab. Aku lari mendaki gunung yang terletak di balik sebuah kota besar. Dan, akibat panas yang membara, gunung itu sepi pendaki. Jadi, aku sendirian.”

Ia merasa saat berlari dunia jadi hening. Pada puncak misi berlari, ia malah mengatakan,”Aku lari untuk mencari kehampaan.” Zohri tak mau mengikuti bualan The Otmeal. Zohri berlari untuk kehormatan diri dan Indonesia. Zohri pantang putus asa atau sembrono di putaran detik dan gerak kaki.

Lari itu memang cerita khas di Jepang. Kita bisa membaca novel Jepang mengenai lari meski Zohri belum sempat membeli dan membaca. Cerita bertokoh bocah dengan nama Akihiro. Ia mengalami masa sekolah dalam kemiskinan, setelah Perang Dunia II.

Di Saga, Jepang, Akhirio hidup bersama nenek. Ia mendapatkan pelbagai petuah hidup meski sempat memendam tumpukan kekecewaan dan kesedihan. Kemiskinan tak mungkin menciptakan tawa dan girang setiap hari.

Akihiro perlahan mengerti setelah berlari. Di sekolah, ia melihat teman-temannya berlatih kendo dan judo. Akihiro terpikat memandang busana dan gerakan mereka. kepada nenek tercinta, ia meminta izin agar diperkenankan bergabung di kendo atau judo.

Nenek memberi restu dengan pemberitahuan ketentuan-ketentuan yang sulit dipenuhi. Uang pendaftaran dan pembelian seragam menjadikan keinginan Akihiro yang terasa mustahil diwujudkan. Mereka miskin! Segala keinginan dan penjelasan Akihiro dimentahkan oleh duit.

Nenek tak ingin melihat cucu cemberut. Ide pun diajukan nenek agar Akihiro tetap berolahraga di sekolah tapi bukan kendo dan judo. Akhirio mendingan memilih lari saja. Si cucu agak bingung dan ragu. Berlari itu gratis, tak perlu membeli seragam.

Nenek menghindari argumentasi serius dan filosofis. Urusan terpenting tentu gratis dalam berolahraga. Lari! Tokoh dalam novel berjudul Saga No Gabai Baachan (2013) gubahan Yosichi Shimada itu menanggapi ide nenek.

Olahraga Tanpa Uang

Akhiro mengaku,”Meski merasa ada sesuatu yang aneh, karena masih kanak-kanak, aku pun setuju dan memutuskan untuk mulai olahraga lari. Di sekolah tidak ada klub atletik, sehingga cuma aku yang berlari di lapangan sekolah.”

Pada usai pelajaran di sekolahan, Akihirio biasa melihat teman-teman bermain bola lempar. Ia tak bergabung tapi memilih berlari sejauh 50 meter. Berlari cepat. Lari! Lari! Lari! Ia pantang berlari cuma sekali. Akihiro terus berlari sampai merasa letih.

Kebiasaan itu dilaporkan kepada nenek. Akihiro berharap nenek girang. Laporan malah mendapat kritik dan saran. Nenek memberi tahu agar Akihiro jangan berlari terlalu kencang. Perut bisa cepat lapar. Di mata nenek, lapar adalah masalah genting bagi kaum miskin.

Akihiro melapor saat berlari mengenakan sepatu. Nenek berujar,”Dasar bodoh! Kau harus lari bertelanjang kaki! Sepatumu nanti rusak!” Sang nenek berpikiran sepatu harus awet. Sepatu rusak bakal menimbulkan masalah besar bagi keluarga miskin.

Akihiro mendengar dan berusaha mengerti segala perkataan nenek. Akihiro memutuskan tak bermufakat pada usulan nenek. Ia tetap berlari mengenakan sepatu. Pada suatu hari, pengelola sekolah mengadakan festival olahraga. Akihiro ikut di kejuaraan lari. Setiap hari, ia terbiasa berlari.

Di festival olahraga, ia ingin memberi bukti keampuhan berlari. Ia berjanji ingin ”berlari memotong angin.” Ada deskripsi apik di novel itu: Langit tampak begitu biru. Sorak-sorai para orang tua dan keluarga yang hadir di sekitar sana terdengar membahana naik ke udara. Aku berlari terus tanpa memedulikan sekitar, kemudian tanpa kusadari aku telah memutuskan pita finis dan tiba di nomor satu garis akhir.

Ia jadi juara tanpa dilihat orang tua atau nenek. Bapak meninggal saat Perang Dunia II, ibu bekerja di kota, dan nenek setiap hari mencari nafkah. Kemenangan tanpa saksi keluarga. Akihiro jemu bersedih.

Ia menulis surat mengabarkan kepada ibu telah jadi juara dalam lomba lari. Kemiskinan membuat Akihiro jadi pelari. Ia sempat bahagia meski kemiskinan belum jua berlari jauh dari kehidupan bersama nenek di Saga.

Pembaca di Indonesia mungkin masih mengingat Akihiro dan kebiasaan berlari sampai menjadi juara di festival olahraga. Semua itu bermula dari kemiskinan dan usulan nenek. Lari sempat menjadi pilihan terhormat dan memberi sepercik kegirangan menjalani hari-hari dalam kemiskinan.

Akihiro ada di novel, tak pernah hadir di Indonesia untuk turut dalam lomba-lomba lari berhadiah medali dan uang. Ia pemicu imajinasi pemuliaan kemauan bocah menjawab kemiskinan, pemenuhan hak bergirang dengan lari. Peristiwa itu berlangsung pada masa lalu.

Kini, orang-orang Indonesia memiliki tokoh bukan dalam novel. Tokoh itu bernama Lalu Muhammad Zohri asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. Zohri berlari dan meraih arti bertaraf internasional. Berlari itu memunculkan hikmah.

Untuk Indonesia

Pada 2018, Presiden Joko Widodo mengucapkan terima kasih kepada Zohri yang telah mengharumkan nama Indonesia di kancah olahraga internasional. Presiden Joko Widodo tak meniru peran nenek dari Saga: memarahi dan memberi usulan enteng mengenai lari.

Indonesia abad XXI berbeda dengan situasi Jepang setelah kehancuran akibat bom atom di Nagasaki dan Hiroshima. Presiden Joko Widodo tak sedang berada dalam novel tapi pengalaman bersama dalam misi pemajuan olahraga Indonesia.    

Zohri berasal dari keluarga miskin, mirip dengan kondisi Akhiro dan nenek di Saga. Lari membuat Zohri mendapatkan kegirangan yang berkelimpahan. Zohri diundang bertemu Presiden Joko Widodo.

Ia mengenakan busana khas olahraga, tapi tak ada anjuran berlari mengelilingi Istana Bogor. Percakapan sambil berjalan memunculkan kebahagiaan dan kejutan. Dua lelaki berbeda status berjalan bersama memikirkan Indonesia.

Kita bisa menduga dua lelaki itu ingin Indonesia ”berlari” menjadi negara bermatabat atau maju. Nasib Akihiro tak seberuntung Zohri. Akihiro mendekam di novel yang telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa. Kita menantikan ada pengarang mau menulis novel bertokoh Zohri untuk pemajuan olahraga dan sastra di Indonesia.

Penulisan novel mengenai Zohri mungkin bisa dibumbui renungan lari oleh Haruki Murakami dalam buku berjudul  What I Talk About When I Talk About Running (2016). Pengarang novel berjudul Norwegian Wood dan 1Q84 itu gemar berlari dan membuat renungan lari.

Haruki Murakami memiliki dalil menulis novel mirip dengan melakukan maraton penuh. Ia memutuskan rajin berlari pada usia 33 tahun. ”Pada usia itulah aku memulai kehidupanku sebagai pelari, dan meskipun terlambat, saat itulah titik awal diriku bersungguh-sungguh menjadi novelis,” demikian pengakuan pengarang sering dicalonkan meraih Nobel Sastra.

Zohri terus berlari saja tanpa janji muluk menjadi novelis. Ingat, ia pelari, bukan novelis! Zohri telanjur membuat “novel” terindah mengenai lari tanpa kata-kata di ratusan halaman. Publik menanti Zohri bakal hadir di novel berbahasa Indonesia garapan pengarang asal Indonesia.

Bisa saja itu novel biografis bersahaja meski tak wajib memuat kata pengantar dari Presiden Joko Widodo atau pameran komentar para elite politik dan pengusaha di halaman depan dan sampul. Zohri sedang menuju Olimpiade 2020. Kita mengiringi dengan berdoa dan belajar (lagi) mengenai lari. Cerita lari belum basi.

Kolom 2 hours ago

Bahaya Lethong