Ambulans Gerindra Angkut Batu, Andre Rosiade: Kami Tak Tahu Kenapa di Sana

Politikus Partai Gerindra Andre Rosiade. (Bisnis/Jaffry Prabu Prakoso)
23 Mei 2019 16:00 WIB Feni Freycinetia Fitriani Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Andre Rosiade, mengaku kebingungan terkait diamankannya ambulans berlogo Partai Gerindra oleh kepolisian. Polisi menemukan batu kerikil dan amplop di dalam ambulans berlogo Gerindra Cabang Tasikmalaya tersebut.

"Terus terang kami tidak tahu mengapa ambulans ada di sana. Makanya kami ingin mengivestigasi juga. Apa sebenarnya yang terjadi, gitu lho," ujar Andre ketika dimintai konfirmasi, Kamis (24/5/2019).

Politikus Partai Gerindra itu mengaku sudah meminta kepada pihak Polda Metro Jaya untuk bisa bertemu dengan pembawa ambulans yang ditahan. Dengan begitu, dia bisa mendapat informasi yang lebih utuh.

Namun, ujar Andre, pihak kepolisian belum mengabulkan permintaan tersebut karena pelaku masih dalam proses investigasi.

"Hari ini pukul 10.00 WIB tim advokasi baru akan diberikan kesempatan bertemu dengan orang yang ditahan. Saya belum dapat informasi, mungkin siang menjelang sore nanti baru kami bisa informasikan apa hasilnya," jelas Andre.

Andre mengaku pihaknya juga akan menelusuri mengapa mobil ambulans Gerindra bisa ada di lokasi kejadian. Pasalnya, tidak ada instruksi dari DPP Gerindra bahwa ambulans harus datang ke Jakarta.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menepis tudingan adanya mobil ambulans berlogo Gerindra Tasikmalaya yang membawa batu-batu kerikil di dalam mobil.

"Saya kira tidak ada ya. Ambulans Gerindra jumlahnya ratusan ada di mana-mana dan tugasnya selama ini melayani warga di daerah masing-masing," kata Fadli di Kertanegara IV, Rabu (22/5/2019).

Fadli mengatakan tidak mungkin ada ambulans berisi batu kerikil. Pasalnya, elite Partai Gerindra menginstruksikan aksi dilakukan dengan damai dan tidak anarkis.

Bukan itu saja, Fadli juga menampik tuduhan polisi bahwa ditemukan amplop berisi uang di baju para pendemo yang mengikuti aksi massa 22 Mei di KPU dan Bawaslu.

"Massa yang berdemo merupakan bagian dari masyarakat yang merasa terpanggil. Mereka datang dari berbagai daerah di luar Jakarta dan tidak dimobilisasi oleh paslon 02," ucap Fadli.

Sumber : Bisnis/JIBI