Mula dan Akhir adalah Foto!

Yohanes Bara - Istimewa
21 Mei 2019 08:00 WIB Yohanes Bara Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (16/5/2019). Esai ini karya Yohanes Bara, Duta Damai Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Alamat e-mail penulis adalah yohanesbara@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Orang zaman sekarang berkomunikasi tak lagi hanya dengan audio atau teks, tetapi menggunakan visual atau paduan teks, audio, dan visual. Salah satu platform media sosial visual, Instagram, menampilkan lebih dari 500 juta unggahan Instagram story (gambar atau video vertikal berdurasi 10 detik) dalam sehari.

Jumlah itu belum termasuk foto atau video 60 detik yang diunggah di beranda pengguna Instagram. Pada mulanya fotografi adalah tentang kamera yang sangat terbatas dan mahal. Fotografer adalah sebutan hanya untuk yang profesional memfoto, mengabadikan peristiwa dalam gambar dua dimensi.

Sekarang kamera tertanam di gawai dengan kualitas resolusi cukup baik meski tetap tidak cukup untuk kebutuhan industri visual. Fotografer bukan lagi profesi eksklusif ketika siapa saja bisa mengambil gambar dan belajar tekniknya dari Youtube ditambah beberapa aplikasi Android untuk memoles foto menjadi seperti karya profesional.

Objek foto juga bukan lagi kalangan dan peristiwa terbatas, tetapi semua orang dengan segala benda dan kejadian di sekitarnya yang kemudian diunggah tanpa kurasi, menjadi sampah visual di jagat maya. Penemu kamera pertama pada 1826, Nicephore Niepce (Bentara Budaya Yogyakarta, Potret, 2008), mungkin tak menyangka penemuannya bisa menjadi h produk yang saat ini menempel di setiap dinding pasar modern, sudut-sudut jalanan, bahkan di tangan orang-orang kota, setiap saat sepanjang waktu.

Foto tidak lagi menjadi karya seni seperti pada era awal yang diabadikan dengan kamera buatan tangan yang rumit dan terus dalam uji coba. Keterbatasan teknologi mengharuskan perusahaan kereta api Alton Railroad di Chicago, Amerika Serikat, memboyong kamera Mammont seberat 635 kilogram untuk mengabadikan kereta api pada 1900.

Hari ini kamera termutakir produksi Canon, EOS R dan ESOS RP, bobot badannya saja tidak lebih dari 500 gram. Seorang fotografer era pertama hingga 1975 bisa disebut sebagai seorang seniman. Proses kerja di kamar gelap, mencampur bahan-bahan kimia, mengeringkan dengan menggantung satu per satu, hingga sebuah gambar hitam putih muncul pada selembar kertas adalah kerja bagai seorang seniman ukir yang mengubah bongkahan menjadi sebuah bentuk bernilai.

Peristiwa Receh

Kamera canggih pada gawai ternyata hanya untuk peristiwa receh dan pengisi konten media sosial pemiliknya. Pada momen penting seperti pernikahan dan wisuda, kebanyakan orang masih menggunakan jasa fotografi dengan biaya ratusan ribu rupiah, jutaan rupiah, sampai puluhan juta rupiah per peristiwa.

Ada konsep berjajar langsung jepret atau bergaya cinematic ala pesohor idola. Semua ada biayanya. Hari wisuda menjadi rezeki bagi pemilik studio foto beken di kota-kota. Setelah makan bersama keluarga, wisudawan bisa menuju studio yang menggunakan kamera terbaru dan peralatan canggih.

Momen sekali seumur hidup lainnya adalah pernikahan. Untuk momen ini calon pengantin kebanyakan memerhatikan dokumentasi pernikahan kelak agar terabadikan dengan sangat baik dan penuh kenangan. Sesi pemotretan sebelum menikah juga menjadi tren.

Atas pertimbangan pernikahan adalah suatu yang sakral dan hanya sekali, calon pengantin akan memilih studio foto yang dapat memberikan hasil dokumentasi bergaya kekinian dengan konsekuensi biaya tinggi yang mereka tanggung.

Membicarakan foto kita bisa belajar dari media yang menggunakan foto sebagai kekuatan utama, yakni National Geographic. Bagi fotografer, kamera adalah alat eksplorasi, paspor menuju dunia terpencil, dan instrumen perubahan. Karya mereka menjadi bukti bahwa fotografi bermakna bagi kehidupan. Demikian kalimat di Majalah National Geographic Indonesia edisi Oktober 2013.

Majalah yang terbit kali pertama pada 1888 ini mulanya berupa publikasi ilmiah setebal 98 halaman, tanpa foto, dan sampul cokelat polos menjemukan. Lalu, 16 tahun kemudian, pada 1904, percetakan berkata kepada editor Gilbert H. Grosvenor bahwa mereka memiliki 11 halaman kosong.

Grosvenor meraih paket kiriman Imperial Russian Geographical Society dan memilih 11 foto yang mengabadikan perempuan Lhasa di Tibet, wilayah yang saat itu dianggap salah satu tempat paling eksotis di dunia. Dengan yakin ia menunggu penerbitan majalahnya akan berujung pemecatan.

Pada Januari 1905 majalah itu terbit. Reaksi publik justru sebaliknya. Banyak orang menemui Grosvenor dan mengucapkan selamat. tulah awal mula foto menjadi kekuatan utama National Geographic hingga terbit selama lebih dari 100 tahun. Di Indonesia kita punya seorang proklamator perlente yang sangat sadar keabadian sebuah foto: Soekarno.

Momen-Momen Penting

Foto-fotonya sangat ikonik dan berwibawa. Menggambarkan ketegasan dan kegagahan seoarang pemimpin bangsa. Hal yang sama diteruskan oleh penerusnya: Soeharto. Ia ingin membuat brand Indonesia berswasembada pangan dengan foto-foto yang khas: menjunjung padi, bercaping, dan bersebelahan dengan Ibu Negara di tengah sawah sambil mengarahkan senyum ke juru foto.

Saking kuatnya foto-foto Soekarno dan Soeharto, Komisi Pemilihan Umum menerbitkan larangan penggunaan foto mereka untuk kepentingan kampanye pada pemilihan umum 2019. Foto nyatanya memang telah menjadi dokumentasi sejarah bangsa, mengabadikan proklamasi, siswa-siswa sekolah kelas pertama, momen-momen penting kelahiran bangsa, hingga peperangan.

Tak hanya foto yang tak lekang waktu. Menggunakan foto untuk mengabadikan sesuatu yang tak perlu abadi pun masih abadi sampai hari ini. Misalnya, memfoto anak jatuh, makan, mandi, atau memfoto semangkuk mi dan sepotong steak di restoran, bahkan memfoto punggung berlatar pantai yang tak penting dan tak perlu abadi.

Buaian foto membuat intelektual muda menjadi bodoh pada hari pertama ia menjadi sarjana, dengan bersedia bahkan berlomba berfoto berlatar gambar buku. Apakah itu menandakan ilmunya juga hanya ”gambar”?

Juga sesi-sesi foto dari pranikah sampai di panggung pernikahan yang justru mengabaikan tamu-tamu undangan dengan daftar antrean berfoto mereka. Apalagi kalau mengundang pejabat, lalu dicetak besar dan dipajang di ruang tengah. Apakah untuk menutupi kesakralan dan kekudusan pernikahan?

Kolom 12 hours ago

Menjaga Muruah KPK