Resep Rahasia Sajian Visual Diplomasi Budaya

Fanny Chotimah - Istimewa
20 Mei 2019 10:00 WIB Fanny Chotimah Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/5/2019). Esai ini karya Fanny Chotimah, penulis dan pembuat film yang aktif di komunitas film Kembang Gula di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah fannychotimah@ymail.com.

Solopos.com, SOLO -- Perempuan berambut hitam lurus dan panjang ditemani anjing ras Alaskan Malamute berwarna abu-abu putih. Mereka berada di kebun mawar, memetik bunga-bunga mawar yang sedang mekar. Langit biru dan cahaya matahari bersinar terang membuat semuanya indah dan sedap dipandang.

Gambaran ini bukanlah sebuah lukisan realis, namun cuplikan adegan di kanal Youtube milik Dianxi Xioge, seorang perempuan di Provinsi Yunan, Tiongkok. Konten kanal Youtube berisi video dirinya memasak masakan tradisional Yunan.

Dianxi memetik sayuran di kebunnya atau mungkin di kebun tetangganya, atau mengambil tanaman liar di sekitar kampungnya, menyembelih ayam sendiri, memerah susu sapi dengan kedua tangannya. Sepertinya hal itu mudah sekali dan hampir tidak ada transaksi menggunakan uang untuk itu semua.

Dia tak perlu pergi ke pasar apalagi supermarket. Semua yang dibutuhkan tersedia dan bisa diolah, termasuk bunga mawar sekalipun. Dia bisa mengolahnya menjadi apa pun, sebagai hidangan pembuka, hidangan utama, dan hidangan penutup. Setelah matang hidangan pun disantap bersama keluarga besarnya.

Saat ini pengikut kanal sudah mencapai lebih dari dua juta subscribers internasional, termasuk saya. Ada warganet yang mencurigai apakah dia mendapat dukungan dari pemerintah Tiongkok karena sulit dipercaya seorang perempuan muda tinggal di sebuah desa di Tiongkok (konon teknologi Internet sangat dibatasi di negeri tersebut) mengolah resep-resep tradisional, videonya tampak seperti garapan profesional yang sangat dipikirkan betul sinematografi, gambar-gambar indah, termasuk teknis pencahayaan.

Interaksi Dianxi dengan tetangganya yang mengenakan kerudung sebagai identitas kaum muslim baru tampak di unggahan terbaru yang entah disengaja atau tidak, hadir saat bulan puasa ini. Jika benar kecurigaan terkait propaganda pemerintah Tiongkok bahwa kanal Dianxi Xiaoge memang sebuah strategi budaya dengan agenda-agenda tersembunyi, bagi saya tetap menarik untuk dicermati dengan segala kontradiksinya.

Membatasi Media Sosial

Pemerintah Tiongkok yang membatasi diri atas keterbukaan informasi melarang Google, Youtube, dan Facebook di negara itu. Dianxi tetap menggunakan Youtube untuk berbagi,  katakanlah resep tradisional dan sebagian kehidupannya, untuk tujuan entah apa. Kita pada era media sosial dan gadget mungkin kita sudah sangat kenyang dijejali gambar-gambar makanan ala kafe, restoran mahal, masakan modern, atau tutorial memasak oleh juru masak terkemuka hingga influencer media sosial yang mengunggah foto maupun video memasak.

Dengan menyaksikan sebuah kesederhanaan kita jadi terpesona. Youtube secara efektif menjadi favorit warga dunia dalam mencari hiburan alternatif. Dianxi menggunakan bahasa lokal, mungkin bahasa Yunan, tanpa terjemahan teks bahasa Inggris yang membuat viewers dan subscribers internasional secara terpaksa atau dengan ikhlas ingin mempelajari bahasa tersebut agar bisa paham apa yang disampaikan.

Dianxi tidak berbicara langsung kepada kamera seperti kebanyakan Youtubers. Pendekatan kamera menggunakan metode observasional. Pesan disampaikan melalui simbol-simbol visual, bukan verbal. Katakanlah ketika Dianxi mengunjungi tetangga muslim untuk membuat keripik dari susu sapi, pengunjung kanal Youtube dia melihat keakraban mereka dan pemandangan yang meski agak janggal karena hampir tak pernah kita saksikan sebelumnya.

Tidak Melarang Warga Beragama

Adegan ini saya maknai sebagai sajian toleransi kehidupan di kampung Yunan. Bahwa pemerintah Tiongkok yang kita anggap sebagai komunis ternyata tidak melarang warganya memeluk agama sesuai dengan keyakinan. Mungkin sebuah penyederhanaan, namun itu merupakan kesan spontan respon visual yang, mungkin, kita saksikan.

Stigma-stigma tentang Tiongkok yang terus direproduksi pascaperang dingin sepertinya sedang mereka perbaiki. Sepertinya kita sudah jengah disodori platform pariwisata dengan keindahan dan narasi hardsale dan manipulatif. Kehadiran Dianxi yang sederhana dengan menjalani kehidupan di kampung yang (seolah-olah) nyata membuat narasi memasak bukan sekedar acara memasak untuk melestarikan resep tradisi, tapi memasak untuk kebahagiaan sehari-hari.

Dianxi menunjukkan memasak sebagai laku kehidupan untuk membangun peradaban bangsa. Memasak sebagai rasa syukur atas segala yang tumbuh di sekitar kita, atas lembah sungai dan gunung yang menghidupi kita. Aroma masakan seperti memanggil kita untuk datang dan hidup damai di kampung.

Ini semua tentu dalam pemaknaan lepas dari pro dan kontra terkait Dianxi hanya alat pencitraan pemerintah Tiongkok, sementara masih banyak rakyat Tiongkok yang miskin dan kelaparan. Tiongkok dengan cerdas telah memanfaatkan cara pandang abad ke-21 dengan kembali mencari akar pada masa lalu yang sepertinya menawarkan kebahagiaan di sana.

Menonton video semacam ini menjadi laksana kontemplasi, mengingatkan kehidupan seperti apa yang diimpikan manusia pada  zaman seperti sekarang ini. Cerita lama yang mungin dicoba untuk digoreng kembali. Kerinduan melihat kampung yang asri dan manusiawi yang kecil kemungkinan kita kelaparan di sana.

Cerita tentang sudah merasa cukup dengan apa yang kita miliki. Perasaan seperti itu membawa kedamaian tersendiri. Saya menyadari Dianxi Xiaoge bukan sekadar kanal masak-memasak. Ada ramuan rahasia yang bercampur dengan bumbu-bumbu masak yang sedap dan bisa membuat ketagihan.

Saya teringat kutipan Brillat Savarin dalam buku Physiology of Taste (1848), bahwa nasib bangsa-bangsa tergantung pada cara mereka memberi makan diri mereka sendiri. Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah cukup beradab dalam memberi makan diri kita sendiri?