Hendropriyono: Massa Prabowo Mulai Ompong, Aksi 22 Mei Cuma Sedikit

Polisi berdialog dengan pengunjuk rasa yang berdemo di depan Kantor Bawaslu, Jakarta, Kamis (9/5 - 2019). (Antara/Aditya Pradana Putra)
20 Mei 2019 18:40 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono menyebut kekuatan massa pendukung capres-cawapres noor urut 2 Prabowo Subianto – Sandiaga Uno sudah mulai "ompong". Menurutnya, massa yang akan turun pada 22 Mei 2019 hanya sedikit.

Hendropriyono mengatakan hal tersebut karena menilai banyak massa pendukung Prabowo – Sandiaga yang sadar serta tak mau ikut aksi 22 Mei saat KPU mengumumkan hasil Pilpres 2019.

"Kekuatan massanya sudah mulai ompong, yaitu massa yang terdiri dari sebagian mantan HTI, sebagian mantan PA 212, mantan GNPF Ulama, karena sudah ada yang ikut sama kami di sini," kata Hendropriyono, Senin (21/5/2019).

Artinya, kata dia, para elite yang teriak-teriak people power dan menggelar aksi pada 22 Mei akan mengerrahkan massa ompong alias sedikit. Terlebih, lanjut Hendropriyono, Partai Demokrat telah menyatakan tidak mau kalau demokrasi berjalan inkonstitusional. Kemudian, PAN yang dua per tiga kadernya sudah tidak mau ikut aksi tersebut.

"Begitu juga PKS, di mana saya amati sudah banyak yang sadar bahwa negara ini akan dibawa ke mana. Kasihan rakyat kalau seperti ini," katanya.

Hendropriyono juga mengakui mengetahui identitas massa yang akan turun ke jalan pada 22 Mei 2019. "Massa yang sekarang bergerak hanya mantan 212, FPI, barisan sakit hati," ujarnya.

Selain itu, menurut dia, massa yang akan turun ke jalan pada saat pengumuman hasil Pemilu 2019 itu juga ditunggangi oleh mereka yang sakit hati dengan pemerintah saat ini. "Yang tadinya pejabat, dicopot enggak mau, bekas menteri dicopot, masak sampai segitunya, sudahlah, gantian sama yang muda," kata Hendropriyono.

Menurut dia, mereka adalah orang-orang yang tak mampu berpikir jernih. Hendropriyono menyebut, mereka adalah orang-orang yang rela mengorbankan apa pun demi sebuah nama dan jabatan.

"Yang ingin dapat nama, singgasana. Saya tidak mengerti kenapa sampai hati mengorbankan anak-anaknya sendiri, untuk apa?" kata Hendropriyono.

Sumber : Suara.com

Kolom 5 hours ago

Delusi Tiongkok