Tradisi Lisan di Bali Pererat Toleransi Antarumat Beragama

Ilustrasi Pulau Bali (Antara)
20 Mei 2019 15:00 WIB Septina Arifiani Nasional Share :

Solopos.com, SOLO – Bali sebagai Pulau Dewata atau Pulau Seribu Pura dikenal kaya dengan tradisi lisan. Hingga kini kekhasan tradisi lisan Bali menarik untuk dikaji di tengah perkembangan arus globalisasi di era modern, industri pariwisata, dan pembangunan.

Globalisasi dan industri pariwisata Bali memberikan pengaruh yang cukup signifikan bagi keberlangsungan tradisi dan budaya Bali. Tradisi masyarakat Bali banyak yang termarginalkan hingga tersingkir karena pengaruh modernisasi. Tradisi dongeng yang dahulu menjadi media penanaman budi pekerti kini perannya telah digantikan oleh televisi.

Dari sisi ekologis Bali hampir mengalami krisis akibat kontak budaya, seperti problem perebutan lahan pertanian, hutan, dan air yang kian terbatas, dislokasi budaya atau perilaku konsumerisme yang melanda generasi muda Bali termasuk meniru perilaku wisatawan, dan adanya kesenjangan ekonomi.

Kemudian secara sosial, kemajemukan masyarakat Bali yang terdiri atas beberapa penganut agama yang berbeda membawa implikasi pada relasi sosial masyarakat Bali. Relasi sosial antar penganut agama di Bali yang terjalin melalui ikatan sejarah selama ratusan tahun, telah melahirkan tradisi menyama braya (persaudaraan antar manusia). Ungkapan menyama braya ini pun mengalami pasang surut akibat perkembangan zaman, konflik SARA dan kepentingan ekonomi serta pariwisata.

Berdasarkan kompleksitas permasalahan yang telah dipaparkan di atas, penggalian kembali nilai-nilai luhur karakter masyarakat Bali yang terkandung di dalam tradisi lisan Bali menjadi penting untuk dilakukan. Penggalian nilai-nilai luhur dalam tradisi lisan merupakan upaya menguatkan kembali pondasi karakter masyarakat yang telah ada.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Tim Peneliti Bidang Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi yang dipublikasikan oleh Badan Diklat dan Litbang Kementerian Agama dihasilkan empat temuan.

Pertama, Made Taro seorang maestro dongeng atau satua Bali adalah pemilik, pencipta, dan pengembang tradisi satua atau masatua atau dongeng di Bali.

Made Taro mulai merintis tradisi dongeng ini sejak 1973 dan kini telah menulis 41 buku dongeng yang berisi lebih dari 200 cerita dan telah menciptakan berbagai jenis permainan sebagai pendamping dongeng. Sebagian besar dongeng karya Made Taro bertema fabel dan dongeng-dongeng tersebut telah memuat 20 nilai pendidikan karakter yang diprogramkan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan kebudayaan.

Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam tradisi Satua di Bali merujuk konsep Tri Hita Karana dan konsep Karmaphala. Salah satu dongeng yang dianggap penting berkaitan dengan pendidikan karakter peduli lingkungan hasil karya Made Taro berjudul Ular Bukit Selan, Para Pewaris Pohon Jati, dan Raja Penggemar Ancruk. Ketiga dongeng tersebut mengandung nilai agar manusia tidak berbuat semena-mena terhadap lingkungan, termasuk terhadap pepohonan dan hewan.

Kedua, tradisi Burdah Burak di Desa Pegayaman Sukasada Kabupaten Buleleng merupakan tradisi Islam yang telah mengalami akulturasi dengan agama Hindu terutama pada jenis lagu dan pakaian yang digunakan para pemain. Selain itu relasi Masyarakat Muslim Pegayaman dan masyarakat Hindu di desa sekitarnya telah menciptakan harmoni antarumat beragama di antaranya melalui kegiatan saling berpartisipasi dalam tradisi perayaan Burak Burdah. Selain itu, tradisi Subak yang menjadi ciri khas masyarakat Bali dilakukan pula oleh umat Islam dengan iringan selawat Burdah.

Ketiga, sejarah hubungan Muslim dan Hindu di Bali telah terjalin sejak ratusan tahun yang silam dengan tradisi perekat berupa konsep Menyama Braya (bersaudara). Keberadaan masyarakat Muslim di Bali sebagian besar berasal dari hubungan antara Raja dan pasukan perangnya dimana masyarakat Muslim adalah para pasukan perang yang bertugas menjadi benteng kerajaan. Refleksi hubungan ini sekarang diwujudkan dalam tradisi Kesenian Rodat.

Kesenian Rodat diakui oleh masyarakat Bali sebagai bagian dari keunikan tradisi masyarakat Bali. Kesenian Rodat yang ada di Kampung Kepaon Denpasar Selatan adalah kesenian khas masyarakat Muslim berupa gerak/tarian seperti gerak seni bela diri yang diiringi lagu bernuansa Islam dan disertai musik klasik berupa jidur/gamelan dan kedencong/rebana yang dipukul secara bersahutan. Nilai-nilai pendidikan karakter dalam tradisi Seni Rodat yaitu nilai religius, keberanian, kerjasama, harmoni, toleransi, dan disisplin.

Keempat, sejarah Hindu Muslim di Desa Budakeling Bungaya Kangin Karangasem Bali berasal dari tokoh Kiai Jalil, sang penakluk sapi raksasa yang diberi istri oleh warga adat Budakeling sehingga dipersatukan oleh nasab. Harmoni Hindu Muslim di Desa Budakeling Kabupaten Karangasem bisa menjadi kuat dengan dilandasi tradisi lisan sejarah desa yang mempersaudarakan Hindu dan Muslim sejak dahulu.

Tradisi lisan masyarakat Muslim di Bali ini berfungsi sebagai sarana komunikasi dan harmoni antara Muslim dan Hindu. Salah satu wujud akulturasi budaya dalam tradisi lisan yang dikembangkan oleh orang Islam adalah pemberian nama pada penganut Islam seperti Made Ahmad, Nyoman Muhammad, dan lain-lain.

Rekomendasi yang diajukan berdasarkan hasil penelitian tentang Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Lisan di Bali adalah Kementerian Agama perlu mengembangkan kesenian Rodat, kesenian Burdah Burak, dan tradisi lainnya sebagai salah satu sarana komunikasi antar umat beragama.