Menata Hati, Refleksi Trisuci Waisak

Jayasilo Lilik - Istimewa
19 Mei 2019 22:19 WIB Jayasilo Lilik Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (18/5/2019). Esai ini karya Jayasilo Lilik, anggota Forum Vihara Surakarta (Forviska). Alamat e-mail penulis adalah liliksurya99@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Detik-detik Trisuci Waisak jatuh pada Minggu, 19 Mei 2019. Umat Buddha mengingat kembali tiga peristiwa bersejarah pada kehidupan Buddha saat bulan purnama pada Waisak, yaitu peristiwa kelahiran bayi Siddharta Gotama, peristiwa pertapa Gotama mencapai pencerahan sempurna sebagai Buddha, dan peristiwa mangkatnya Buddha mencapai pari nibbana.

Hari-hari ini kehidupan bersama kita terasa ada luka yang masih terasa pedih manakala terkena percikan air, luka yang belum sepenuhnya menutup sempurna. Dukung mendukung kepada pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dalam pemilihan umum serentak 2019 demikian marak dengan ujaran-ujaran kebencian.

Seusai pemungutan suara ujaran kebencian masih saja marak bahkan setelah pengumuman hasil pemilihan umum nanti sudah ada beberapa pihak yang berencana menyebarkan ajakan-ajakan yang didasari kebencian. Kita sering lupa pemilihan presiden adalah hal yang wajar, proses yang wajar yang berlangsung lima tahun sekali, bukan proses yang hanya sekali untuk selamanya.

Kita rela bercerai, bertikai, bahkan mengorbankan nyawa kita untuk satu peristiwa yang rutin kita jalani dalam kehidupan bernegara kita dengan melupakan kepentingan yang lebih besar, yaitu kepentingan dan keberlangsungan negara kita Indonesia ini.

Pada masa Buddha masih hidup terjadi suatu peristiwa yang hampir menyebabkan terjadi pertumpahan darah di antara dua suku yang bertetangga. Dia menghentikan pertengkaran antara dua suku itu, yaitu Suku Sakya dan Suku Koliya.

Cerita ini dimulai ketika Suku Koliya dan Suku Sakya memperebutkan air Sungai Rohini yang digunakan untuk mengairi ladang-ladang mereka. Air sungai dibendung di bendungan yang dibangun di antara kedua kota, yaitu Kota Kapilavastu dan Kota Koliya.

Waktu itu bulan Jettamula, kedua suku itu sedang menuai hasil ladang mereka. Banyak pekerja harian dikerahkan untuk memanen hasil tanaman mereka. Ketika mereka sedang bersama-sama memanen di tepi sungai itu, salah seorang penduduk Koliya yang sedang bekerja, berkata,”Apabila air sungai ini dibagi dua, tentu saja tidak cukup untuk mengairi ladang-ladang kita. Sedangkan ladang-ladang kita ini menggunakan sistem pengairan tunggal. Seharusnya, kitalah yang menguasai air sungai ini.”

Saling Mengejek

Penduduk Suku Sakya yang mendengar kata-kata mereka, lalu menjawab,“Hai, kalian jangan berkata begitu! Ladang-ladang kami juga menggunakan sistem pengairan tunggal, seharusnya kamilah yang memiliki air sungai ini. Enak saja! Kami tidak akan berikan air sungai ini kepadamu!”

Lama-kelamaan pembicaraan mereka makin sengit, saling mengejek dan menjelek-jelekkan pihak lainnya sehingga timbul pertengkaran. Mereka mulai saling memukul. Pekerja-pekerja yang lain mulai saling menyerang, akhirnya menjadi pertengkaran besar.

Pertengkaran itu menjadi semakin buruk karena mereka saling mengejek dan menjelek-jelekkan pihak lainnya. Pekerja-pekerja suku Koliya berkata,“Hai, penderita kusta! Bawa anak dan istrimu pergi dari sini! Kami tidak mau dirugikan oleh gajah, kuda, dan senjata-senjata yang dimiliki orang-orang buangan miskin seperti kalian ini, yang hidup hanya di bawah pohon jujube seperti binatang!”

Pertengkaran semakin sengit, akhirnya masing-masing pihak lalu melaporkan pertengkaran ini kepada pemimpin mereka, yang melaporkan lagi ke atasan mereka. Demikian seterusnya sampai akhirnya laporan pertengkaran ini sampai ke istana raja. Kedua pihak kerajaan ini segera menyiapkan bala tentara untuk menyerang pihak lainnya.

Dengan segera Suku Sakya yang datang bersama bala tentara berteriak,”Hai, orang-orang Koliya, kami akan tunjukkan kekuatan dan kekuasaan kami, yang kalian katakan kami tinggal bersama dengan saudara perempuan kami.”

Bala tentara Suku Koliya yang datang juga berteriak,”Hai, orang-orang Sakya! Kami tidak takut! Akan kami tunjukkan kekuatan dan kekuasaan kami, meskipun kami hidup miskin di bawah pohon jujube.”

Ketika itu Sang Buddha melihat dengan mata batinnya, mengetahui bahwa kedua suku itu akan berperang.  Dia berpikir,”Kalau aku tidak pergi kepada mereka, mereka akan saling menghancurkan. Adalah tugasku untuk menghentikan pertempuran mereka.”

Sang Buddha dengan kekuatan kesaktiannya, terbang di udara menuju tempat di mana kedua suku akan bertempur. Dia lalu duduk dengan posisi meditasi, mengambang di udara di tengah-tengah Sungai Rohini. Ketika Raja dari kedua pihak itu melihat Sang Buddha berada di udara, di tengah-tengah Sungai Rohini, dengan segera mereka membuang senjata dan langsung bernamaskara kepada Sang Buddha, diikuti seluruh bala tentara.

Kepentingan Negara

Sang Buddha bertanya,”Apa yang kalian pertengkarkan, Raja Mulia?”

Kami tidak tahu, Yang Mulia.”

”Siapa yang tahu?”

”Panglima mungkin tahu.”

Panglima kemudian berkata,”Pangeran mungkin tahu.”

Sang Buddha bertanya kepada pemimpin kedua pihak itu, satu demi satu, akhirnya sampailah kepada pekerja harian. Pekerja harian itu menjawab,”Pertengkaran ini hanya karena air sungai Rohini, Yang Mulia.”

Sang Buddha bertanya pada kedua Raja itu,”Berapakah nilai air sungai itu, Raja Mulia?”

”Sangat kecil nilainya, Yang Mulia.”

”Berapa besarkah nilai negeri ini, Raja Mulia?”

”Negeri ini tidak ternilai, Yang Mulia.”

”Bukanlah hal yang baik dan pantas apabila hanya karena air yang sedikit ini kalian menghancurkan negeri yang tidak ternilai ini.”

Sang Buddha mengucapkan syair,”Sungguh bahagia jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci, di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa membenci.” (Dhammapada, Sukha Vagga nomor 1).

Peperangan dan pertumpahan darah hampir terjadi di antara dua suku yang bertetangga, bahkan berkerabat, karena persoalan yang sangat sepele, yaitu ucapan dari satu atau dua orang pekerja harian. Ada kotoran di hati kita menurut ”dhamma”, yaitu keserakahan, kebencian, dan kebodohan.

Pekerja harian di tepi Sungai Rohini saat itu hatinya dikuasai keserakahan, yaitu ingin menguasai air sungai untuk kelompoknya sendiri. Demikian mudah dan rapuh hati kita sehingga ucapan seseorang bisa mempengaruhi kita, terseret dalam keserakahan, kebencian, dan kebodohan.

Ucapan seorang semenjana saja bisa memengaruhi dan menggerakkan begitu banyak orang, apalagi ucapan tokoh agama atau tokoh masyarakat yang mempunyai banyak pengikut, tentu luar biasa dampaknya.

Mewaspadai Kegelapan Hati

Kita tidak bisa meminta-minta dan memohon kepada siapa pun supaya mempunyai hati yang bersih dari keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kegelapan hati (moha). Diri sendirilah yang bisa menata hati kita sehingga menjadi bersih. Ada beberapa cara menata hati supaya terbebas dari lobha,dosa,moha.

Pertama, menjaga sila. Kita membuat pagar diri dengan praktik moralitas menjalani lima praktik sila, yaitu tidak membunuh, tidak mengambil barang yang tidak diberikan, tidak berbuat asusila, tidak berbohong atau mengucapkan kata-kata yang bisa menimbulkan konflik, dan tidak meminum minuman yang membuat lemah kesadaran.

Tentu akan lebih kuat pagar diri kita dengan praktik sila yang lebih banyak seperti delapan sila, 10 sila, atau 227 sila seperti yang dijalani para bhikkhu. Kedua, mengisi hati dengan cinta kasih. Senantiasa mengisi hati kita dengan ujaran cinta kasih.

Ucapkanlah selalu dalam hati ”semoga saya bahagia, semoga semua makhluk bahagia”. Mengulang-ulang kalimat bermakna cinta kasih tersebut sampai terasa kesejukan cinta kasih mengisi relung-relung hati kita, kemudian ujaran cinta kasih tersebut dedikasikan dan diberikan kepada semua makhluk.

Keempat, mewaspadai munculnya keserakahan, kebencian, dan kegelapan hati. Praktik meditasi berkesadaran akan membantu kita mewaspadai munculnya kotoran-kotoran hati. Ketika muncul keinginan berlebihan menuju keserakahan, kita mengetahui dan menyadarinya sejak dini.

Ketika muncul ketidaksukaan mengarah kepada kebencian, kita mengetahui dan menyadarinya. Ketika muncul kegelapan hati (fanatisme, gelap mata, kebodohan), kita mengetahui dan menyadarinya sejak muncul kali pertama.

Tempat Lupa dan Lengah

Manakala kotoran hati ini kita awasi akan tenggelam perlahan-lahan tapi pasti. Manakala kita lengah, kotoran hati akan berkobar-kobar membakar keserakahan kita, kebencian kita, kegelapan mata kita.

Kelima, mengutamakan kepentingan negara daripada kepentingan pribadi dan kelompok. Manusia tempat lupa dan lengah, lupa pada tujuan yang lebih besar dengan hanya ribut dan sibuk pada hal-hal yang tidak penting.

Lupa memikirkan masa depan generasi mendatang dengan hanya memikirkan kepentingan sesaat, mengagungkan kepentingan diri sendiri, kepentingan kelompoknya saja, dengan melupakan kepentingan lebih besar yaitu kepentingan negara.

Buddha mengingatkan kepada Suku Sakya dan Suku Koliya (yang nyaris berperang menumpahkan darah karena mempersoalkan penggunaan air Sungai Rohini) betapa lebih berharganya keberadaan suatu negara dibandingkan sekadar air Sungai Rohini.

Akankah kita mengikuti Suku Sakya dan Suku Koliya yang rela meletakkan senjata, meletakkan ego, meletakkan kebencian dan mau bergandengan tangan untuk kepentingan, keberadaan, dan kejayaan negara? Selamat merayakan Trisuci Waisak. Semoga semua makhluk hidup bahagia.

Kolom 12 hours ago

Menjaga Muruah KPK