People (Tanpa) Power

Sholahuddin - Dokumen Solopos
18 Mei 2019 10:40 WIB Sholahuddin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (13/5/2019). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Seorang kawan menulis status di laman Facebook ”Ketika orang menyembah Tuhan, agama nampak ramah dan sejuk, tapi ketika agama yang disembah, agama nampak jadi sangar.”

Setelah sedikit merenung, saya menyadari kebenaran ”celotehan” kawan saya ini. Saya paham  betapa akhir-akhir ini begitu banyak pemeluk agama yang menampakkan wajah agama yang sangar, jauh dari esensi agama yang mengajak pemeluknya mencintai sesama.

Apa sesungguhnya yang salah dari cara beragama seperti itu? Pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Secara sosiologis agama muncul saat orang mengakui ada kekuatan besar yang tidak terjangkau  oleh dirinya.

Kekuatan besar di luar individu  itu berada wilayah makrokosmos (jagad gedhe), sementara individu dalam ruang mikrokosmos (jagad cilik). Kekuatan makrokosmos, dalam perspektif agama-agama langit, itulah Tuhan.

Saya meyakini Tuhan adalah sumber dari segala kebenaran. Sumber kebenaran itu yang mesti kita sembah dalam peribadatan. Ini sebagai wujud ketertundukan orang yang hidup di jagad cilik untuk tunduk kepada nilai-nilai kebenaran itu.

Jadi, agama hakikatnya adalah sistem keyakinan antara individu terhadap kekuatan makrokosmos itu. Sistem keyakinan itu kemudian mengejawantah dalam perilaku saat berinteraksi sosial.

Pengakuan akan adanya makrokosmos menyatu dengan diri setiap manusia, bahkan orang yang menyangkal adanya Tuhan (ateis) sekalipun. Saya ingat pernah membaca kisah di buku Mati Ketawa Ala Rusia.

Buku itu mengisahkan tokoh-tokoh partai komunis Rusia tengah naik pesawat untuk rapat partai. Di tengah perjalanan pesawat terguncang hebat, terancam kecelakaan. Para pentolan partai komunis (yang tentu saja ateis) ketakutan luar biasa.

Mencerminkan Kenyataan

Bak dikomando, mereka kompak langsung berdoa menyebut nama Tuhan, minta keselamatan. Saat membaca ini saya tertawa ngakak. Orang tidak percaya Tuhan kok berdoa. Meski hanya guyonan, kisah dalam buku humor itu sebenarnya mencerminkan kenyataan.

Setiap orang yang berada dalam krisis, dihantui ketakutan luar biasa, cenderung mendekati Tuhan, berdoa untuk dijauhkan dari ancaman itu. Siapa pun orangnya.  

Jadi, agama (secara sosiologis) sebenarnya  menyatu dengan diri manusia, yakni pengakuan akan adanya kekuatan tak terjangkau dirinya. Hanya keangkuhan yang mendorong sebagian orang tidak percaya adanya Tuhan.

Implementasi motivasi orang beragama itu yang mestinya mewujud dalam praksis kehidupan.  Orang beragama tentu orang yang damai, rendah hati, menjauhi situasi krisis, menciptakan tata kehidupan yang selaras, membangun narasi-narasi yang baik di ruang publik, sesuai niat orang mencari agama.  

Orang beragama juga akan menggunakan saluran-saluran legal untuk menyelesaikan semua konflik, ketidaksetujuan secara bijak. Dia tidak akan menempuh cara-cara ilegal, apalagi memanfaatkan kumpulan massa sebagai kekuatan penekan.

Dalam negara demokrasi seperti negara kita ada saluran-saluran yang tersedia sebagai mekanisme untuk menyelesaikan konflik. Menggunakan kekuatan massa (people power) untuk mencapai tujuan merupakan cara ilegal. Bukan hanya tidak dibenarkan, tapi berbahaya karena dapat mengancam rasa damai, mengancam keselarasan dalam kehidupan kenegaraan. 

Peribadatan orang beragama pada hakikatnya untuk meningkatkan kualitas keimanan diri, termasuk ibadah pada Ramadan yang  saat ini tengah dijalani umat Islam. Puasa adalah ketertundukan seorang individu atas kebesaran Tuhan.

Puasa (dan peribadatan lain) adalah empowering (penguatan, pemberdayaan) untuk mendorong orang yang menjalani mencapai derajat takwa. Takwa adalah puncak kualitas keimanan tertinggi.

Orang yang bertakwa akan punya kekuatan (power) memanfaatkan potensi diri berupa nurani dan akal sehat untuk mencerahkan kehidupan. Orang dengan derajat takwa juga akan powerful menundukkan hawa nafsu yang bertentangan dengan nilai-nilai universal.

Kelompok Sosial

Sebagai konsekuensi kepercayaan terhadap sistem keyakinan, tidak bisa dimungkiri para pemeluk agama membentuk kelompok-kelompok sosial (social group). Ada umat A, umat B, umat C, dan umat-umat lain.  Perbedaan sistem keyakinan dan membentuk kelompok-kelompok itu sebagai kenyataan yang tidak bisa diingkari.

Dalam bahasa agama, itu adalah fitrah, desain Tuhan yang menciptakan makhluk dalam keberagaman.  Bagi sebagian pemeluk agama, kelompok-kelompok sosial ini sebagai ancaman. Seolah-olah ada kompetisi antara kelompok itu untuk memperebutkan sesuatu.

Konflik antarpemeluk agama selama ini muncul karena egoisme kelompok yang didasari keyakinan yang berbeda. Muncul juga kelompok-kelompok agama yang menjadi kelompok kepentingan (interest group) untuk menyalurkan kehendak.

Kelompok berdasarkan agama ini menjadi kian kental saat ada momentum politik seperti yang terjadi dalam beberapa tahun  terakhir. Kelompok agama berkelindan dengan kekuatan politik menyalurkan hasrat berkuasa.

Mereka membawa kepentingan kelompok dibungkus simbol-simbol agama. Simbol-simbol agama yang digunakan itu tidak selalu selaras dengan pesan-pesan suci ajaran agama yang dianut. Itu yang menyebabkan wajah agama jadi tampak sangar, menakutkan.

Mereka menjadikan kelompok agama selayaknya memperlakukan sebagai Tuhan itu sendiri. Itulah yang dimaksud kawan saya sebagai orang-orang yang “menyembah” agama. Sesungguhnya wajah agama yang tampak sangar adalah bentuk anomali, menyimpang dari kenormalan.

Secara hakikat, orang beragama bertujuan mencari kedamaian, meraih keselarasan hidup di alam semesta maupun alam akhirat kelak.  Orang yang beragama secara benar akan menjadi makhluk yang punya kekuatan.

Bila beragama secara tidak pas akan melahirkan orang-orang yang tidak punya kekuatan, people tanpa power. Tak punya kekuatan mengendalikan diri. Tak punya kekuatan memanfaatkan potensi diri sebagai makhluk berakal. Mereka akan memanfaatkan people sebagai power untuk meraih tujuan. Selamat berpuasa...