Film Zaman Kesenian 4.0

Ratmurti Mardika - Istimewa
16 Mei 2019 09:30 WIB Ratmurti Mardika Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (11/5/2019). Esai ini karya Ratmurti Mardika, film-maker dan dosen Sinematografi di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah rat.mardika@artofact.media.

Solopos.com, SOLO -- Ada yang menggelitik saat perayaan May Day 2019. Foto mahasiswa membawa poster yang bertuliskan ”Mau Kerja Diganti Robot!” menjadi viral dan ramai diperbincangkan warganet di berbagai platform media sosial.

Dari poster yang dibawa itu dapat dibaca bahwa mahasiswa tersebut mengkhawatirkan masa depan. Mereka khawatir bagaimana harus berjuang bersaing dengan robot. Kekawatiran mahasiswa itu membuat saya teringat pada film Modern Times karya Charlie Chaplin (1936).

Dalam  film itu, Chaplin secara genius menggambarkan periode awal revolusi industri, mesin-mesin uap gigantik menggantikan peran manusia dalam menciptakan produk. Konflik yang dibangun dalam Modern Times adalah manusia yang tak punya keahlian dan kekuatan kapital akhirnya tersingkir, menggelandang, dan berurusan dengan penegak hukum.

Manusia-manusia semacam itu menjadi tidak bahagia. Kegeniusan Chaplin adalah bahwa film itu ternyata masih kontekstual dengan zaman ini. Chaplin seakan-akan bisa menebak ada orang-orang yang pada 2019 mengalami kecemasan karena ancaman persaingan dengan robot. Visioner bukan?
Senada dengan Chaplin, Harari dalam Homo Deus menjelaskan kemajuan teknologi artificial intelligent (AI) menandai revolusi industri 4.0, bersama dengan machine learning, big data, dan kecepatan konektivitas Internet, mampu menggantikan kerja-kerja manusia yang lebih sophisticated

Misalnya, komputer diprediksi akan mampu menggantikan peran dokter dalam menganalisis penyakit seorang pasien melalui rekaman data pasien, sensor denyut jantung, sensor tekanan darah, dan pemindaian pupil mata.

Ya, mungkin kecemasan akan kehilangan lapangan pekerjaan berdasarkan pada hal-hal tersebut di atas. Saya menganggap kecemasan ini lahir karena pengetahuan yang parsial dan kondisi manusia yang labil. Wajar.

Imajinasi sebagai Juru Selamat

Dalam buku sebelumnya, Sapiens, Harari menyebut salah satu kunci kesuksesan homo sapiens mampu bertahan adalah kemampuan manusia menciptakan fiksi, hal-hal yang bersifat fiktif atau tak empiris.

Kefiktifan dalam bentuk folklore, takhayul, dan semacamnya ternyata mampu membuat manusia relatif lebih mudah bekerja sama dan melakukan pengaturan. Nah, hal tentang kerja sama dan pengaturan inilah yang membuat manusia mampu mengatasi ancaman-ancaman yang sebetulnya mustahil dimenangi.

Dalam perburuan binatang yang berukuran super besar, homo sapiens sadar untuk menaklukkan makhluk tersebut tak bisa sendiri, namun memerlukan kerja sama dan pengaturan peran. Pada perkembangannya, pengaturan dan kerja sama ini akan mudah dilakukan dengan hal-hal fiktif yang dipegang teguh dan menjadi imajinasi bersama.

Selain itu, ternyata imajinasi yang fiktif itu juga menuntun manusia untuk menciptakan hal-hal baru, baik itu kefiktifan baru maupun hal-hal yang nyata, seperti teknologi. Di salah satu scene Modern Times ada adegan majikan memberikan instruksi kepada pekerjanya dari jarak jauh lewat video dan mikrofon.

Tentu, pada 1936 hal itu adalah imajinasi Chaplin belaka, namun belum sampai seabad kemudian, penciptaan teknologi mampu mengejawantahkan imajinasi Chaplin tersebut, dan sekarang kita memiliki teknologi panggilan video. Artinya, merujuk pada Sapiens, mungkin hal-hal fiktif imajinatif sebenarnya tak boleh dianggap remeh karena telah terbukti mampu menyelamatkan peradaban.

Secara harfiah Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan seni adalah keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya, keindahannya, fungsinya, bentuknya, makna dari bentuknya, dan sebagainya), seperti tari, lukisan, ukiran.

Seni meliputi banyak kegiatan manusia dalam menciptakan karya visual, audio, atau pertunjukan yang mengungkapkan imajinasi gagasan atau kemajuan teknik pembuatnya untuk dihargai keindahannya atau kekuatan emosinya.

Film dan Imajinasi

Film adalah salah satu percabangan dari seni yang berkutat pada penciptaan cerita atau dramaturgi yang menggunakan medium audio visual atau sinematografi. Jadi jelaslah bahwa seni, atau khususnya film, tak bisa lepas dari hal tak kasat mata yang bernama imajinasi.

Lebih dari itu, dalam perfilman imajinasi adalah fundamen penting sebelum berkutat pada kamera, mikrofon, aktor, penyutradaraan, pemeranan, penyuntingan, dan hal lainnya. Anda mungkin bisa membayangkan bila sutradara tak punya imajinasi terhadap cerita, bisa jadi proses produksi film akan berujung pada kekacauan atau bahkan masuk tong sampah.

Hemat saya, karena kita tak memerlukan banyak bahan baku dan modal untuk berimajinasi, maka perfilman walau dalam lingkup kecil sekalipun, bahkan setingkat usaha kecil menengah, adalah sektor yang akan mampu bertahan dalam perebutan pekerjaan antara manusia dan robot (AI).

Merujuk pada Harari lagi, salah satu hal yang tak belum bisa dicapai oleh AI, namun kita memilikinya (mungkin berlebih) adalah “suffering” atau penderitaan. Jika saya boleh menerjemahkan sesuai konteks adalah emosi, empati. Belum ada satu pun komputer di dunia ini yang bisa merasakan penderitaan dan atau jatuh cinta.

Emosi atau empati itu bisa terwujud nyata menjadi karya film yang mungkin bisa seperti film Modern Times, visioner, peka zaman, dan everlasting. Kemajuan teknologi seperti mata pisau yang bisa kita gunakan secara positif atau pun negatif. Kuncinya tetaplah di tangan kita, pemilik otoritas kebijaksanaan atas hal tersebut.

Nah, mungkin ini adalah jawaban atas kegalauan mahasiswa (atau siapa saja) yang takut tergantikan oleh robot. Menderita lalu berimajinasilah, galau dan berkesenianlah, karena itulah mungkin kita tak akan tergantikan oleh robot tercanggih sekali pun.