Sejarah yang Sastrawi, Sastra yang Sejarawi

Windarto - Dokumen Solopos
14 Mei 2019 09:00 WIB Windarto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (10/5/2019). Esai ini karya A. Windarto, peneliti di Lembaga Studi Realino Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah winddarto@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Esai berjudul Biduk Sejarah yang Tak Elitis karya Rizka Nur Laily Mualiffa di Harian Solopos edisi 7 Mei 2019 menarik untuk dikaji ulang. Tentang hal yang dipersoalkan sebagai yang elitis dan tak elitis dalam sejarah, termasuk sastra, belum diungkap secara mendalam.

Konsekuensinya, keduanya hanya menjadi keluhan di satu pihak dan pujian di lain pihak. Baik yang elitis maupun tak elitis sama-sama dapat menyumbang kajian yang penting dalam historiografi lokal dan nasional.

Masalahnya adalah penulisan sejarah, khususnya di Indonesia, masih didominasi oleh pendekatan yang abai, bahkan lupa, terhadap berbagai peristiwa yang dipandang biasa-biasa saja. Dengan kata lain, sejarah hanya ditulis untuk kepentingan berbagai pihak atau lembaga yang dipandang berjasa bagi Indonesia yang kerap disebut sebagai historiografi Indonesiasentris (Purwanto, 2005).

Sejarah dari mereka yang dianggap berkhianat, misalnya, kepada Indonesia ditulis secara tidak berimbang. Contohnya, tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) yang hingga saat ini pun masih dimitoskan sebagai musuh negara, dan sebaliknya, yang anti-PKI didukung, diyakini, bahkan dipuja sebagai pembela negara.

Penulisan sejarah yang sebenarnya tidak akan pernah selesai dan cenderung subjektif adalah hasil konstruksi dari berbagai peristiwa yang amat beragam. Karena itulah, sejarah yang terabaikan, bahkan terlupakan, patut mendapat perhatian yang serius dan mendalam mengingat di sana ada beragam peristiwa yang selama ini masih tenggelam dalam pusaran politik sejarah.

Dengan kata lain, sejarah hanya menjadi historiografi yang merupakan perwujudan dari rasa disenangi atau tidak disenangi. Itulah mengapa rekonstruksi terhadap masa lalu perlu dikerjakan secara dekonstruktif agar peristiwa Gerakan 30 September, misalnya, tidak sekadar dilihat sebagai sejarah orang kecil yang memberontak.

Di Solo, sejarah yang dikaji secara mendalam oleh Takashi Shiraishi dalam buku Zaman Bergerak. Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (Grafiti, 1997) memperlihatkan bahwa bukan harapan-harapan “mesianisme/milenarian” yang menghasilkan gerakan kerakyatan.

Pengalaman Orang-Orang Kecil

Justru pengalaman baru dari orang-orang kecil, seperti para petani di berbagai pelosok desa, yang tidak lazim dan aneh ketika terlibat dalam vergadering (reli) dan voordracht (pidato) itulah yang menggerakkan bahasa ratu adil.

Dengan kata lain, mereka yang tertarik saat mendengar kasak-kusuk mengenai Sarekat Islam (SI) dan kemudian bergerak bersama tetangga serta kerabat ke tempat vergadering telah mengalami dunia baru yang belum pernah diketahui dan disangka-sangka sebelumnya.

Sebuah dunia yang tidak mengenal lagi tata hierarki Jawa atau Belanda lantaran para pejabat Belanda maupun para pemimpin bumiputra berlaku sejajar dan menyatakan bahwa semua orang bumiputra bersaudara dan sama-sama manusia seperti orang Belanda.

Mas Marco Kartodikromo yang merupakan jurnalis dan novelis awal Indonesia modern menggambarkan suasana vergadering pada puncak kongres SI pada 1914 dengan amat hidup. Selain diwarnai suasana riang dan gegap gempita, saat itu semua yang hadir di sana, termasuk andong-andong yang dihiasi bendera SI, suara musik, dan berbagai model pakaian yang dikenakan, seperti mendapat pengalaman yang sama sekali baru, luar biasa, menggairahkan, dan aneh.

Bayangkanlah para pemimpin SI dapat duduk sejajar dengan pangeran dan pejabat tinggi kepatihan serta kolonial Belanda sembari bersilang kaki, merokok, bahkan mengobrol satu sama lain tanpa perlu berjalan jongkok dan menyembah.

Adilinglung

Tak mengherankan perasaan akan adanya kekuatan dan solidaritas di antara mereka yang hadir tampak begitu kuat muncul terlepas dari umur, pangkat, dan status. Inilah salah satu jenis sejarah yang menantang untuk dikaji lebih lanjut agar pengalaman orang-orang yang buta huruf dan bahkan buta politik dapat dicatat dalam sejarah secara memadai.

Dengan cara ini, sejarah sebagai bagian dari pengetahuan bukan lagi berisi informasi yang dijejali dengan jejak langkah masa lalu dari para ”pahlawan” belaka. Sejarah juga dapat memuat beragam cerita tentang para pecundang atau mereka yang dipandang sebagai pemberontak.

Bagaimanapun sejarah bukan ditentukan oleh siapa yang kalah dan siapa yang menang karena dengan sejarah setiap orang diharapkan dapat belajar mengambil manfaat dalam merencanakan masa depan yang lebih cerah. Dalam konteks ini, sejarah, dan juga sastra, sesungguhnya menjadi narasumber yang mampu mencerdaskan masyarakat (pembaca).

Itu artinya keduanya dapat diandalkan untuk membebaskan masyarakat dari mitologisasi dan sakralisasi sejarah yang semata-mata hanya menghasilkan kebohongan demi kebohongan. Menjadi penting dan mendesak untuk lebih memberi tempat pada sejarah yang sastrawi dan sastra yang sejarawi.

Dari sanalah berbagai cerita yang aneh dan menakjubkan dari masyarakat (semoga) dapat membantu untuk menerapi demam ”keadiluhungan” sejarah dan sastra yang sudah sedemikian tampak ”adilinglung”.