Pelajar di Daerah Wisata Wajib Belajar Kesehatan Reproduksi, Ini Alasannya!

Ilustrasi Kesehatan (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
14 Mei 2019 23:40 WIB Chelin Indra Sushmita Nasional Share :

Solopos.com, SOLO – Pendidikan kesehatan reproduksi (kespro) pada siswa SMA sangat penting dan mendesak dilaksanakan. Sebab, degradasi moral generasi muda terkait seksualitas terus meningkat. Selain globalisasi yang masuk melalui Internet, kunjungan wisatawan juga berpotensi membawa pengaruh negatif dalam proses degradasi moral. Hal ini berarti para remaja di daerah destinasi wisata rawan terpapar gaya hidup hedonis dan liberal.

Pendidikan Agama Islam (PAI) sangat strategis mengkonstruksi benteng moral agama kepada para siswa untuk menghadapi gaya hidup hedonis dan liberal itu. Kesadaran bahwa pendidikan kespro sangat urgen dari para pemangku kepentingan [dalam hal ini kepala sekolah, guru PAI, Kankemenag setempat, dinas terkait, dan pihak terkait lainnya] sangat diperlukan untuk membangun moralitas generasi muda tersebut.

Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama dalam keterangan yang diterima Solopos.com, Selasa (14/5/2019), mengatakan, untuk mengetahui sejauh mana pendidikan kesehatan reproduksi dilakukan kepada para pelajar, penelitian dilakukan di SMA negeri di tiga provinsi yang menjadi destinasi wisata, yaitu Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Hasil penelitian itu menunjukkan secara umum pelaksanaan pembelajaran pendidikan kespro di SMAN belum termuat dalam kurikulum PAI. Pelaksanaan pendidikan kespro pada siswa SMAN di Provinsi Bali, NTB, dan DIY dilakukan melalui kegiatan kerja sama antara sekolah dengan instansi lain, seperti Puskesmas, Dinas Kesehatan, BKKBN, BNN, PKK (Provinsi NTB).

Di samping itu, pelaksanaan pendidikan kespro juga dilakukan melalui organisasi sekolah seperti PIK-R, KSPAN, dan PMR. Siswa SMA memiliki pemahaman yang cukup tentang kesehatan reproduksi, tetapi ketika pemahaman tentang kespro dilihat dari perspektif agama sangat variatif, yaitu 16,7% cukup untuk siswa SMAN di Bali, 49,2% siswa SMAN di NTB, dan 53% siswa di SMAN DIY.

Faktor pendukung dalam pelaksanaan pendidikan kespro adalah dukungan kepala sekolah dengan memberikan fasilitas tempat konsultasi anak bermasalah. Sekolah telah membentuk organisasi PIK-R, KSPAN, dan PMR.

Untuk itu Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) direkomendasikan melakukan revisi kurikulum 2013 untuk mengintegrasikan pendidikan kespro dalam pendidikan agama dan budi pekerti, bukan hanya pendidikan agama Islam.

Jajaran Kemenag dan Kemendikbud perlu menyusun model pendidikan kespro yang terintegrasi dalam PAI dan Budi Pekerti. Demikian juga untuk pendidikan agama selain Islam. Kemendikbud juga perlu memperhatikan kecukupan sarana dan prasarana pembelajaran (termasuk laboratorium) yang terkait dengan pendidikan kespro di SMA.

Kemenag dan Kemendikbud perlu segera membuat surat keputusan bersama yang mendorong sekolah dan guru pendidikan agama untuk mengutamakan pendidikan kespro dan mengintegrasikannya dalam pendidikan agama.