Biduk Sejarah yang Tak Elitis

Rizka Nur Laily Muallifa - Istimewa
13 Mei 2019 09:20 WIB Rizka Nur Laily Muallifa Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (7/5/2019). Esai ini karya Rizka Nur Laily Muallifa yang aktif di komunitas Bentara Muda Solo dan telah menerbitkan buku kumpulan puisi berjudul Menghidupi Kematian. Alamat e-mail penulis adalah muallifa13@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Belakangan saya mengambil sikap tak terlalu terpukau dengan diskusi-diskusi sastra di Kota Solo. Sikap itu saya ambil karena saya merasa diskusi-diskusi itu–-sejauh empat tahun belakangan—tak mengalami perubahan yang berarti.

Diskusi tetap tampak angkuh dan elitis. Sekian orang awam tak cukup berani untuk turut serta dalam diskusi-diskusi menyoal sastra. Diskusi sastra di Kota Solo itu angker. Hal yang begitu itu tak terjadi dalam obrolan memerkarakan sejarah. Satu hal yang bertaut intim dengan sastra.

Saya mengingat pada 2018 sebagai awal mula komunitas-komunitas sejarah di Solo masuk ke jagat awam. Keberadaan komunitas-komunitas itu bisa jadi sudah ada pada tahun-tahun sebelum itu. Komunitas-komunitas sejarah di Kota Solo sadar betul bahwa membawa lembar-lembar masa lalu kepada awam perlu rumus tersendiri.

Awam bukan kaum intelek yang betah atau bahkan berkemauan menghadapi buku, membaca dan memaknai paragraf-paragraf memuat narasi kemewahan dan kepongahan masa lalu dalam huruf-huruf tercetak.

Awam juga bukan tipikal yang sekadar puas mendapati (dan memotret) sekian bangunan megah bercap cagar budaya atau cukup bernilai sejarah tanpa tahu apa dan bagaimana bangunan itu mengada. Sekian komunitas sejarah tak memilih buta tetapi bergairah menangkap gejolak seperti itu.

Sejarah yang mangkrak di buku dan kerap berhenti jadi debat antarsesama intelektual di gedung bercap menara gading coba dibuka. Di Kota Solo, sekian komunitas sejarah berkemauan mengajak awam menjelajah dan turut merasa dan memaknai gaung masa lalu kota yang masyhur.

Komunitas Laku Lampah memilih tajuk acara jalan-jalan memahami sejarah di Kota Solo dengan sebutan Soerakarta Walking Tour. Inilah yang kiranya memulai model pemaknaan dan pengenalan sejarah kepada awam dengan merangkainya dalam keriangan melakukan perjalanan di kawasan-kawasan bercap sejarah.

Juru Dongeng

Soerakarta Walking Tour mengajak awam memaknai sejarah Kota Solo hampir pada tiap akhir pekan. Mereka memilih satu bangunan atau satu kawasan khusus untuk didatangi dan ditelaah bersama. Satu atau dua penggawa komunitas bertindak sebagai juru dongeng melisankan cerita masa silam dari sekian literarur yang terbaca.

Peserta berhenti di sekian titik dan masyuk mendengar cerita yang disampaikan. Tak jarang pula sekian peserta yang berlatar belakang sejarah turut menyumbang atau bahkan merevisi cerita yang dituturkan si juru dongeng utama. Di sinilah terjadi diskursus. Menghadapi cerita-cerita pelbagai rupa, awam tak lekas percaya.

Rupa ragam cerita itu memantik keingintahuan awam yang paling ingin. Menggali sekian sumber secara mandiri sebagai pengajuan pembanding, penguatan, atau justru bahan untuk melemahkan salah satu versi cerita yang dituturkan para sejarawan komunitas.

Penuturan cerita-cerita di tempat terjadinya cerita pada masa silam itu adalah laku yang dinikmati awam pengagum sejarah. Aktivitas yang sungguh membuat riang alih-alih menjemukan dipaksa mengingat sekian nama dan tanggal seperti yang jamak dalam pelajaran sejarah di sekolahan.

Sekian nama dan tanggal lekas moksa seusai mengalami ulangan harian dan ujian akhir semester. Awam pengagum sejarah tak cuma mengingat tokoh, nama tempat, dan tanggal-tanggal keramat.

Lebih inti daripada itu awam merasai dan tersulut menggelar imajinasi bertaut dengan rangka pemikiran sekian tokoh, latar belakang sosial-budaya-religius, gengsi melawan kolonialisme, pengelolaan ekonomi, dasar-dasar pendidikan, penguatan pertahanan militer, dan lain sebagainya.

Bangunan-bangunan bercap cagar budaya atau bertaburan sejarah tak cuma diingat nama dan tanggal pembangunannya. Bangunan-bangunan itu mengandung pengetahuan bertaut pertahanan militer, pendudukan wilayah, pemberontakan kaum nasionalis, pangan, ekonomi, pembagian kekuasaan, dakwah keagamaan, penyadaran kesehatan, derma sosial, sampai arsitektur.

Di Kota Solo, kita menjumpai kemegahan masa lalu itu di kawasan Kota Lama. Kawasan Kota Lama Solo di antaranya meliputi kawasan Gereja Protestan Indonesia (GPI) Penabur, Benteng Vastenburg yang hanya tersisa tembok-temboknya, kawasan Loji Wetan, Bank Indonesia, Balai Kota Solo, dan lain sebagainya.

Awam diajak merasai aroma kedigdayaan pemerintah tradisional yang dijalankan Keraton Kasunanan Surakarta dan Praja Mangkunegaran, strategi pemerintah kolonial mempertahankan wilayah kekuasaan, sampai pada fragmen-fragmen pesta pora bangsa kulit putih di societeit, bioskop, dan karnaval.

Jalin Menjalin

Selain Laku Lampah, awam pengagum sejarah di Kota Solo juga bisa bersama-sama menelaah sejarah bersama Solo Societeit dan Soeracarta Heritage Society. Ini dua komunitas sejarah yang di dalamnya sekian intelektual dan praktisi sejarah terlibat.

Masing-masing komunitas sejarah di Kota Solo memilih pendekatan yang berlainan satu sama lain dalam upaya menginklusifkan sejarah di Kota Solo. Laku Lampah lekat dengan Sorekarta Walking Tour, Solo Societeit memilih dakwah melalui media baik melalui artikel-artikel di sejumlah media atau siaran di radio dan televisi.

Sejarawan kuliner dan salah satu penggagas Solo Societeit,  Heri Priyatmoko, paling sering menulis sejarah berbumbu sastrawi di pelbagai media. Soeracarta Heritage Society di bawah pantauan sekian intelektual sejarah senior lebih intensif pada kajian dan diskusi.

Diskusi rutin setiap bulan yang diadakan di ruang-ruang publik seperti Rumah Banjarsari dan Rumah Budaya Kratonan itu selalu terbuka untuk awam. Di pelbagai diskusi yang digagas Soeracarta Heritage Society, awam lebih fokus dan nyaman menyimak kisah-kisah sejarah, termasuk untuk menautkan puspa ragam cerita saling bertautan yang telah lebih dulu mampir di gerbang informasi dan pengetahuan diri.

Soeracarta Heritage Society juga mencari jalur penghubung merawat sejarah kota dengan otoritas pemangku kebijakan. Bagaimanapun, begitu vital kelindan antara Soeracarta Heritage Society sebagai komunitas masyarakat yang peduli sejarah dengan kebijakan-kebijakan pemerintah kota di bidang yang sama.

Edisi Kota Lama Solo yang digelar di Rumah Banjarsari pada 22 Februari 2019, misalnya, menghadirkan Kepala Bidang Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Kota Solo, Sungkono.

Dalam diskusi itu, Sungkono menolak disebut narasumber dengan penjelasan ia belum banyak memiliki pengetahuan tentang sejarah Kota Solo dan khususnya Kota Lama Solo yang dikehendaki jadi pokok bahasan malam itu.

Tegukan-tegukan teh kental wangi khas wedangan Solo mengiringi kekhidmatan Sungkono berbagi kisah atas pekerjaan dan ragam kendala mengamankan sejarah Solo yang agung. Malam itu, Sungkono membawa hasil kajian kawasan Kota Lama Solo yang sudah dicetak jadi bendel laporan khas pemerintah.

Cetakan yang susah berterima sebagai buku. Peserta diskusi bergiliran memberi komentar terhadap hasil kerja pemerintah kota itu. Mulai dari masukan substansial sampai teknis pencetakan buku. Sungkono tampak antusias mencatat dan berulang kali mengapresiasi dan memberi penjelasan sebagai arus balik atas apa-apa yang disampaikan para peserta diskusi.

Awam pengagum sejarah mendukung langkah Soeracarta Heritage Society yang berkemauan menjajal upaya demi kebijakan-kebijakan pemerintah kota yang ramah sejarah. Akhirnya, sekian komunitas sejarah di Kota Solo kendati menapaki biduk kesejarahan melalui pusparagam pendekatan, semuanya tetap jalin-menjalin. Semua memintal kemolekan sejarah kota untuk tetap eksis di pelbagai zaman. Mengukuhkan kota yang adigang, adigung, adiguna!