Kisah Tragis Warga Gaza Puasa Ramadan di Antara Potongan Mayat

Warga Gaza mengantre takjil gratis untuk berbuka puasa (Reuters/Mohammed Salem)
13 Mei 2019 21:40 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, GAZA – Kisah tragis dialami warga Palestina di Jalur Gaza. Mereka memulai Ramadan 2019 di tengah situasi keamanan dan ekonomi yang terburuk. Israel melancarkan serangan bertubi-tubi untuk menggempur kelompok militan di Jalur Gaza, Palestina.

Meski demikian, dikabarkan Reuters, Senin (13/5/2019), pemerintah Israel membuka kembali dua perbatasan dengan Jalur Gaza. Hal ini dilakukan seusai bentrokan di Jalur Gaza pada awal Ramadan 2019. Bentrokan antara kelompok militan Palestina dengan pasukan militer Israel membuat warga sipil ketakutan. Mereka khawatir terjadi perang besar seperti lima tahun lalu.

Sementara ini, kedua belah pihak bersepakat melakukan gencatan senjata sejak Senin (6/5/2019). Namun, ancaman serangan lanjutan menimbulkan kekhawatiran. Muslim di Gaza menjalani ibadah puasa Ramadan dengan berbagai bahaya yang mengancam.

Ramadan di Gaza jauh berbeda dengan negara lain yang disambut meriah. Kegelapan menghapus keceriaan muslim menyambut Ramadan di Gaza. Sejumlah orang melewatkan ramadan di rumah sakit karena terluka parah. Sebagian lainnya berada di pengungsian atau memilih bertahan di reruntuhan bangunan. Mereka melewatkan waktu sahur dan berbuka di antara puing-puing bangunan dan potongan mayat yang berceceran di tanah.

Serangan yang dilakukan militer Israel menghancurkan sejumlah bangunan di Jalur Gaza. Ada sekitar 600 unit rumah di Gaza utara yang rata dengan tanah akibat serangan udara Israel. “Saya belum pernah melihat peristiwa mengerikan seperti ini selama hidup. Tapi, kemarin saya melihat mayat terpotong-potong, tubuh terbakar, dan bangunan rata dengan tanah,” kata salah seorang warga Gaza, Ziyad Hammash, 60.

Warga Gaza lainnya, Sumayya Usruf, mengaku kehilangan suami, sepupu, dan anaknya yang berusia empat tahun akibat serangan udara Israel. Mereka meninggal tertimpa reruntuhan apartemen. “Ini ramadan yang sulit. Kami tidak akan bisa menikmatinya dengan ceria,” katanya.

Eskalasi kekerasan akhir pekan lalu bermula akibat bentrokan di perbatasan Gaza. Kala itu, militer Israel menuduh penembak jitu palestina melukai dua anggota IDF dalam demonstrasi rutin setiap Jumat. Mereka pun menembak dua orang Palestina dalam kerumunan massa., Jumat (3/5/2019).

Guna membalas dendam, Palestina menembakkan 600 roket ke Israel, Sabtu-Minggu (4-5/5/2019). Akibatnya, empat orang tewas akibat serangan itu. Israel kemudian melancarkan serangan udara di Gaza hingga Senin pagi yang menghancurkan Gaza.

Akibatnya, sekitar 30 orang Palestina meregang nyawa. Sementara 300 orang lainnya terluka parah dan masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.