Pengunggah Tweet Klenik Jokowi Sudah Minta Maaf, Eh...Masih Dihujat

Musni Umar (Detik.com)
13 Mei 2019 07:00 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Pengunggah Tweet soal Klenik Jokowi, Musni Umar yang juga Rektor Universitas Ibnu Chuldun (UIC)  Jakarta telah menyampaikan permohonan maafnya terkait kicauannya pada Selasa (7/5/2019). Meski demikian, permintaan Musni tak membuat netizen berhenti menghujatnya.

"Di medsos, digoreng lagi. Goblok lah. Macam-macam. tapi saya tenang-tenang saja, karena saya tidak melakukan seperti itu. Tapi saya tetap harus melakukan klarifikasi," ujar Musni ketika dimintai konfirmasi Detik.com, Minggu (12/5/2019).

Peristiwa ini bermula saat akun Twitter Musni Umar @musniumar berkicau soal keyakinan sebagian masyarakat soal klenik yang dikaitkan dengan kekuasaan di Indonesia. Salah satunya ada perang ilmu gaib dalam mempertahankan Jokowi.

Awalnya, Musni nge-tweet pada 7 Mei 2019 yang berbunyi:

"Saya dikontak Kunto dari Jawa Timur. Dia kenal saya dari medos. Katanya Bung Karno kuat punya pulung. Pak Harto kuat yang punya pulung Ibu Tien. Gus Dur, ibu Mega tidak punya pulung, maka lemah. Kalau ibu Ani wafat, SBY dan PD hancur. Jokowi Pitulungan. Sekarang sedang perang ilmu gaib untuk pertahankan Jokowi."

Setelah ramai dan mendapat tanggapan banyak pihak, Rektor Universitas Ibnu Chuldun (UIC), Jakarta, itu akhirnya meminta maaf.

"Saya mohon maaf ke semuanya, tidak hanya Pak Jokowi, termasuk Pak SBY. Termasuk Bu Ani karena Bu Ani juga ada di situ," ujar Musni Minggu (12/5/2019).

Musni mengaku menulis sebagai seorang akademis, yaitu sosiolog. Namun hal itu menjadi bumerang karena dikonsumsi secara luas. Menurutnya, hal itu terjadi karena dampak pilpres sehingga orang mudah terbawa emosi.

"Saya melihat ada fakta, fenomena sosial di masyarakat ada yang mempercayai hal-hal seperti itu," ucap Musni.

Ia mencontohkan orang-orang yang percaya hal-hal gaib dan pergi ke Gunung Kawi. Ia juga mencontohkan dirinya saat menikah diberi primbon oleh ayahnya.

"Ternyata di luar dugaan saya, reaksinya luar biasa keras. Mencaci maki saya, menghina saya, mengaitkan dengan saya rektor dan macam-macam, lebih sadis lagi," kata Musni.

Ia mengambil hikmah dari kasus ini agar lebih hati-hati dalam menulis sesuatu di Twitter. Sebab, menurutnya, ada keterbatasan karakter di Twitter.

"Saya rasa ini resiko di era sosmed dan itu mengambil pelajaran kata per kata harus dipelajari," tutur Musni.

Namun dia kaget juga, setelah meminta maaf, dia masih dicela di medsos.

Sumber : Detik.com