Golkar: PDIP & PKB Kuasai Jateng karena Efek Jokowi

Ganjar Pranowo menjadi juru kampanye pasangan capres-cawapes Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Ambarawa, Jateng, Sabtu (13/4 - 2019). (Antara/Wisnu Adhi)
12 Mei 2019 19:00 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, SEMARANG -- Ketua Harian DPD I Partai Golkar Provinsi Jawa Tengah H.M. Iqbal Wibisono menilai kemenangan PDIP dan PKB dalam Pemilu Legislatif 2019 di Jawa Tengah tidak lepas dari pasangan calon presiden-wakil presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin.

"Pak Jokowi sebagai petugas partai PDIP, menurut Ibu Megawati [Ketua Umum DPP PDIP], benar-benar mampu menjadi daya tarik, bahkan magnet bagi pemilih, baik di kalangan manula maupun kaum milenial di Jateng," kata Iqbal Wibisono di Semarang, Minggu (12/5/2019).

Di samping karena faktor Jokowi sebagai presiden, juga sosok Ma'ruf Amin mampu menggugah kekuatan kultural. Bahkan, menurut Iqbal, perpaduan dua sosok nasionalis dan religius sangat tepat di Jateng. Hal ini menguntungkan bagi peserta pemilu yang mendukung pasangan calon nomor urut 01.

Ketika menanggapi beredarnya 77 nama calon anggota DPR terpilih pada Pemilu 2019 di daerah-daerah pemilihan Jateng, Iqbal menyarankan mereka yang namanya tercantum dalam daftar tersebut sebaiknya menunggu keputusan rapat pleno KPU.

"Lolos atau tidaknya 26 calon anggota DPR RI asal PDIP, 13 caleg PKB, dan 11 caleg Partai Golkar, serta caleg dari parpol peserta pemilu lainnya masih menunggu penetapan mereka sebagai calon terpilih melalui rapat pleno KPU," kata Iqbal.

Dia memperkirakan PDIP dan PKB tetap merajai di Jateng. Hal ini menunjukkan efek ekor jas Jokowi sangat berpengaruh terhadap kedua partai pemenang itu meskipun dua partai tersebut terasa lebih dahsyat berkonsolidasi dengan berbagai kekuatan struktural dan kultural.

"Hal inilah yang perlu dipahami bahwa ke depan partai politik apa pun ideologinya dan kekuatannya harus mampu menampil kadernya sebagai calon presiden maupun wakil presiden," ujarnya.

Bagi partai yang belum beruntung, Iqbal memandang perlu kerja keras dan harus berani menawarkan program-program yang mampu menghipnotis masyarakat, termasuk kaum milenial. Selain itu, harus berani menampilkan kader partai terbaik sebagai calon presiden dan calon wakil presiden yang diyakini akan menjadi harapan rakyat pemilih.

Menurut dia, tidak ada kata terlambat bagi partai politik untuk menjadi besar dan hebat manakala partai tersebut mampu mempersiapkan kadernya dengan baik secara profesional dan proporsional.

Sumber : Antara