Evolusi Mahasiswa

Muhammad Afriyansyah - Istimewa
10 Mei 2019 05:00 WIB Muhammad Afriyansyah Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (7/5/2019). Esai ini karya Muhammad Afriansyah, mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah ansyahafri51@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Salah satu mata kuliah wajib mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhamamdiyah Surakarta adalah tentang evolusi yang diambil pada semester VIII, meskipun bisa diambil lebih awal pada  semester VI.

Dalam buku yang sering saya gunakan dalam perkuliahan, yaitu Biologi karya Neil A. Campbell, Jane B. Reece, dkk.--yang merupakan buku terjemahan dan di kalangan saya dan dan kawan-kawan terkenal dengan sebutan Buku Campbell--di semua jilid dan dalam setiap edisi senantiasa mengarahkan pada evolusi.

Berbicara evolusi tidak lengkap kalau tidak menyebut Charles Robert Darwin, seorang naturalis asal Inggris yang moncer dengan buku The Origin of Species by Means of Natural Selections setelah pelayaran ke Kepulauan Galapagos menggunakan kapal HMS Beagle.

Kisah yang terkenal dalam pelayaran tersebut adalah pengamatan pada burung finch yang mempunyai perbedaan morfologis (tampilan fisik) pada paruh, kaki, dan ukuran tubuh di antara spesies di Kepulauan Galapagos dengan yang ada di tempat lain.

Dari observasi tersebut, Darwin berkesimpulan perbedaan itu disebabkan aktivitas mencari makan dan beradaptasi dengan lingkungan sebagai akibat dari seleksi alam di habitat mereka. Evolusi sebagai cabang biologi menuai banyak pro dan kontra hingga kini.

Sebagai teori, evolusi memiliki mekanisme yang meliputi mutasi, aliran gen, rekombinasi gen, penyimpangan genetik, dan seleksi alam. Ujung dari mekanisme evolusi setelah melewati tahapan seleksi alam akan terbentuk individu yang adaptif (mampu menyesuaikan diri) terhadap lingkungan.

Esai ini tidak akan membahas lebih lanjut mengenai evolusi biologi, tapi akan mengulas evolusi mahasiswa menggunakan konsep mekanisme evolusi. Lima tahap mekanisme evolusi tersebut merupakan urutan yang mengarah pada spesiasi (proses yang mengarah pada terbentuknya spesies baru).

”Spesies baru” yang saya maksud di sini adalah ”spesies mahasiswa baru” atau mahasiswa dengan skill mumpuni dan siap bersaing. Bagaimana spesiasi/proses terbentuknya ”spesies mahasiswa baru” berlangsung? Mari kita ulas bersama.

Pada proses mutasi muncul individu mahasiswa baru yang berbeda dari kelompoknya yang disebabkan oleh sifat asli disertai tempaan dari proses belajar. ”Mutan mahasiswa” ini terkadang dianggap aneh oleh kelompoknya karena memiliki perbedaan yang cukup mencolok dengan anggota kelompok yang lain.

Menyisipkan Perbedaan

Ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Ia akan mampu bertahan dalam perbedaan atau akan tersingkir atau disingkirkan dari kelompoknya. Ketika  mampu bertahan dalam kelompok, ia akan menyisipkan perbedaan yang dimiliki pada kelompoknya sendiri atau bahkan kepada kelompok lain di luar kelompoknya.

Mekanisme kedua ini termasuk dalam aliran gen atau gene flow. Dalam mekanisme ini, ”mutan mahasiswa” akan mencoba memberikan pengaruh terhadap kelompoknya sehingga akan muncul lebih banyak lagi ”mutan mahasiswa”.

Beranjak pada mekanisme ketiga, rekombinasi gen, yang dalam mekanisme ini sudah mulai ada pencampuran ”gen” anggota asli dengan ”gen” anggota yang merupakan ”mutan” dalam kelompok tersebut. Hasilnya muncul keragaman baru lagi dalam kelompok mahasiswa tersebut sebagai akibat dari percampuran individu asli dan individu ”mutan mahasiswa”.

Seiring waktu, percampuran antara ”gen” individu ”asli” dan individu ”mutan mahasiswa” yang berlangsung secara berangsur-angsur dan berkelanjutan akan muncul penyimpangan genetik berupa perbedaan tampilan maupun perilaku dari kelompok mahasiswa tersebut.

Penyimpangan genetik menandakan pengaruh yang ditancapkan oleh individu ”mutan mahasiswa” sudah semakin mewarnai kelompok tersebut bahkan menjadi perubahan signifikan jika dilihat dari luar kelompok tersebut.

Selepas melewati empat mekanisme di atas, mahasiswa akan melewati mekanisme terakhir dari serangkaian mekanisme evolusi, yaitu seleksi alam. Seleksi alam didefinisikan berbasis perbedaan antarorganisme dalam kemampuan bertahan hidup dan bereproduksi.

Seleksi Alam

Mekanisme terakhir ini akan menentukan apakah individu (mahasiswa) yang telah melewati empat mekanisme sebelumnya akan mampu bertahan hidup dalam habitatnya (kelompok mahasiswa), kita sebut adaptif, atau akan punah karena tak mampu lagi bertahan karena minimnya kompetensi (kemampuan/skill personal), lemahnya kemampuan komunikasi, membangun jaringan, dan kemampuan mereproduksi pemikiran (ide-ide yang kreatif dan inovatif), atau justru akan migrasi untuk mempertahankan “jenisnya”.

Mekanisme seleksi alam pada mahasiswa berlangsung mulai dari ketika masih dalam kampus dan terlebih lagi akan semakin ketat ketika sudah wisuda dan terjun dalam kehidupan yang sebenarnya yang sarat tarikan kepentingan di sana sini.

Mekanisme evolusi mahasiswa memberikan gambaran kepada kita bahwa proses menempa diri menjadi mahasiswa dengan kompetensi tertentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, bahkan tak cukup dalam masa kuliah, sebagaimana pengertian evolusi: perubahan (pertumbuhan, perkembangan) secara berangsur-angsur dan perlahan-lahan (sedikit demi sedikit).

Memiliki skill khusus selain bidang akademis yang digeluti semasa kuliah, semisal komunikasi dan retorika untuk membangun jaringan dan memengaruhi orang lain, bagi mahasiswa akan memudahkan dalam berkompetisi di dunia yang sebenarnya setelah kelulusan dari kampus yang serba ideal menuju dunia yang real (riil)

Berorganisasi adalah wadah yang pas untuk menempa diri. Selamat melewati mekanisme evolusi. Jadilah ”spesies mahasiswa” yang adaptif, kreatif, inovatif, dan produktif, terlebih dalam hal gagasan-gagasan yang mencerahkan dan memajukan.