Klenik dalam Politik Kita

Heri Priyatmoko - Dokumen Solopos
07 Mei 2019 09:02 WIB Heri Priyatmoko Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (4/5/2019). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sasnata Dharma Yogyakarta dan pendiri Solo Societeit. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Berita di jagat politik kita dan mengundang senyum ialah sejumlah orang berpakaian kejawen warna hitam membakar kemenyan dan menabur bunga di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Wonogiri.

Mereka adalah pendukung Sariman, calon anggota legislatif (caleg) di Daerah Pemilihan 5 Kabupaten Wonogiri dari Partai Berkarya. Kabarnya aksi ganjil ini merupakan buntut dari kesalahan KPU memasang foto tiga orang caleg Partai Berkarya pada kertas daftar caleg tetap yang dipasang di seluruh tempat pemungutan suara di Daerah Pemilihan 5 Kabupaten Wonogiri.

Kenyataan aneh dalam proses berpolitik rasional dan konkret ini tentu menyedot perhatian publik. Ini menggenapi keanehan beberapa caleg bertingkah irasional. Ada caleg pergi ke dukun (tiyang pinter) dan berziarah di kuburan tokoh besar minta doa restu.

Ada pula caleg yang bersemedi di tempat wingit dan menjalani ritual kungkum di tempuran sungai. Laku yang tak masuk nalar sehat ini mereka tempuh supaya memperoleh wangsit atau pulung, selain melindungi diri dari black magic atau “serangan” musuh yang tak tampak.

Usaha memenangi pertandingan di kontestasi politik lewat cara seperti ini merupakan tindakan irasional. Kita harus jujur, manusia modern Indonesia (dan jagat politik kita) sukar dilepaskan dari unsur klenik. Realitas ini menyadarkan kita bahwa sebagian caleg kembali hidup pada zaman kebudayaan pramodern.

Bapak sosiologi Indonesia, Selo Soemardjan (1996), merumuskan empat tahap dalam perkembangan kebudayaan secara berurutan, yaitu tahap irasionalisme dini, tahap irasionalisme fajar, tahap irasionalisme awal, dan tahap irasionalisme lanjut.

Batas tegas antara irasonalisme dan rasionalisme yakni sejauh mana manusia memakai daya pikir dan logika dibandingkan dengan perasaan atau daya percaya dalam proses membentuk persepsi mengenai lingkungan.

Kian tebal kecenderungan manusia (caleg) menggunakan perasaan dan daya percaya, kian tinggi kadar irasionalitasnya. Sebaliknya, makin kuat manusia (caleg) memakai daya pikir dan logika, tambah menjulang rasionalitasnya.

Doa dan Mantra

Mengikuti rumusan Selo Soemardjan, tingkah aneh caleg dan penuh ironi ini menunjukkan pola pikiran para pemain politik kontemporer masih berkutat di level irasional fajar. Pada tingkatan ini, persepsi masyarakat terhadap lingkungan tetap didominasi kepercayaan atas kekuatan gaib yang sumbernya ada di dalam lingkungan spiritual dan tak jelas wujudnya.

Kekuatan gaib itu tak lagi dianggap menjadi monopoli makhluk atau roh halus. Kekuatan tersebut bisa dimiliki manusia, khususnya dukun, yang sanggup (menurut kepercayaan orang banyak) menembus dunia ”halus” dan menemukan berbagai rahasia yang terkandung di dalamnya.

Melalui doa atau mantra, tiyang pinter meresepkan kekuatan gaib ke benda pilihan seperti tombak, keris, batu akik, dan lainnya. Bukan rahasia lagi bahwa para dukun turut “panen” saat musim kontestasi politik tiba, selain perusahaan sablon kaos dan percetakan alat peraga kampanye.

Berbekal kekuatan gaib yang dikuasai dan diyakini sebagian masyarakat, sang dukun menyediakan jasa atau memenuhi permintaan caleg agar berhasil duduk manis di kursi kekuasaan. Pemikiran caleg mundur ke tahap paling purba dengan disuguhi fakta: caleg kungkum di sungai dan semedi di lokasi yang dianggap sakral.

Kali ini caleg menempuh jalur irasional tanpa perantara dukun atau orang, “berdialog” langsung dengan alam. Inilah ciri tahap irasionalisme dini. Manusia percaya dalam lingkungan spiritual ada kekuatan yang tak diketahui wujud, asal, dan tempatnya.

Manusia menyadari bahwa selain manusia, pohon, dan binatang di muka bumi, terdapat makhluk lain yang tak tertangkap pancaindra. Makhluk halus diyakini bisa membantu manusia mewujudkan asa, juga melindungi keselamatan diri dari gangguan.

Situasi ini kemudian melahirkan konsep takhayul, gugon tuhon, klenik, supertition (Inggris), atau bijgeloof (Belanda). Barangkali dalam kasus kesehatan, manusia Indonesia berlari ke dua tahap di atas masih dianggap wajar. Usaha pengobatan alternatif acap ditempuh selepas langkah medis tak mampu menyembuhkan sakit atau dompet sudah terkuras.

Upaya ini masih dipermaklumkan ketimbang pasrah, menyambut ajal. Dalam jagad politik praktis yang mestinya mengedepankan nalar sehat, para caleg menempuh jalan klenik tersebut nyata menunjukkan suatu kemunduran yang luar biasa.

Tak Hilang

Para caleg yang mandi di kali dan minta bantuan dukun secara psikologis mereka tak percaya dengan kemampuan dan kekuatan riil. Pengalaman sejarah pemilihan umum dan pustaka mengenai praktik politik Indonesia modern disingkirkan.

Seabad silam, jurnalis Darmo Kondo (25 Maret 1907) meramalkan kepercayaan orang Jawa terhadap gugon tuhon tak akan hilang ditelan zaman. Pewarta ini menyoroti kasus pohon gom yang tumbuh di Solo. Beredar kabar Sinuhun Paku Buwana VIII pernah duduk di sekitar pohon itu.

Petinggi istana Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini bersabda Gusti Allah telah menakdirkan pohon gom untuk mengusir penyakit gomen (sariawan). Siapa pun dipersilakan mencoba, ambillah sebilah sabit atau keris untuk memotong tangkainya.

Kala memotong tangkainya ucapkan ”ta metong durinya pohon gom, tetapi motong gomnya kenaku” insya Allah penyakit hilang. Masyarakat setempat penasaran dan mencoba mengikuti titah sang raja. Mereka juga takut duduk di bekas tempat duduk raja lantaran dianggap wingit.

Kasus di atas jelas berbeda dengan kasus politik praktis yang mestinya mengedepankan pikiran kritis. Para caleg menempuh jalan klenik jelas menunjukkan suatu kemunduran yang luar biasa pada proses pematangan berpolitik.

Para caleg yang mandi di kali dan minta bantuan dukun secara psikologis menunjukkan mereka tak percaya dengan kemampuan sendiri, strategi, dan kekuatan riil pendukung. Mempelajari pengalaman sejarah pemilihan umum bukanlah sebuah prioritas.

Melahap pustaka mengenai praktik politik Indonesia modern yang menyediakan langkah jitu dan suluh dalam berpolitik bukan suatu keutamaan. Sulit membayangkan bila perilaku irasional semacam ini terbawa sampai ke gedung lembaga legislatif.

Saat caleg bertanding di kontestasi politik dan menang, lalu ditugasi memperjuangkan nasib rakyat, bukan tidak mungkin malah menjauhi model pemikiran rasional, logis dan ilmiah.

Jalan rusak, ruang kelas roboh, dan pasar tradisional mau ambruk yang merupakan problem sosial dan harus dipikirkan dan ditangani secara rasional bisa-bisa wakil rakyat malah mendatangi dukun guna menyihir warga yang mengajukan protes supaya bungkam.

Caleg karbitan yang mengejar nafsu kekuasaan tanpa diikuti pendidikan politik yang baik pasti enggan berpikir tentang kemajuan perpolitikan Indonesia yang salah satu syaratnya menyingkirkan hal-hal berbau klenik itu.

Pemilih cerdas yang mengutamakan akal sehat pasti emoh mencoblos para caleg doyan klenik ini ketimbang menangguk kecewa dan menanggung beban lima tahun berikutnya.