Menelusuri Karya Ulama Nusantara tentang Nasionalisme dan Kebangsaan

Ilustrasi berdoa (IslamiCity)
06 Mei 2019 15:40 WIB Septina Arifiani Nasional Share :

Solopos.com, SOLO - Perkembangan Islam di Indonesia telah melahirkan banyak ulama-ulama besar yang memiliki kemampuan tinggi dalam menulis karya-karya Islam yang juga diakui di dunia internasional.

Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, meneliti karya ulama Nusantara terkait dengan tema Nilai-Nilai Kebangsaan dan Keagamaan. Bangsa Indonesia membutuhkan kajian kajian karya-karya ulama Nusantara yang mempererat dan memperkuat nasionalisme dan kebangsaan di tengah meningkatnya sikap intoleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini.

Berdasarkan hasil penelitian di enam lokasi, maka disimpulkan hasil penelitian, sebagai berikut: 

Pertama, Zulkarnain Yani mengangkat tema tentang Semangat Kebangsaan dalam Kitab Al-Nagham Karya K.H. Ahyauddin Ibn K.H. Anwar Ibn Haji Kumpul Seribandung dari Sumatra Selatan. Berdasarkan hasil kajiannya, disimpulkan bahwa Kitab al Nagham karya K.H. Ahyauddin Ibn K.H. Anwar Ibn Haji Kumpul Seribandung merupakan salah satu mutiara yang terpendam yang ada di pondok pesantren Nurul Islam Seribandung, Ogan Ilir, Sumatra Selatan. K.H.

Ahyauddin, melalui kitab al-Nagham, ingin menyampaikan pesan-pesan berupa semangat kebangsaan berupa cinta Tanah Air, patriotisme, persatuan dan kesatuan bagi seluruh warga negara di manapun berada.

Kedua, Saeful Bahri mengangkat Intelektual Sebagai Akar Persatuan Muslim; Studi Terhadap Misbah al-Zhalam karya Syaikh Haji Mansur Datuak Nagari Basa (1908-1997). Berdasarkan hasil kajiannya, disimpulkan Kitab Mishbah al-zhalam adalah salah satu karya ulama Sumatra Barat yang mempunyai arti penting dalam pergumulan intelektual di Sumatera Barat.

Pada awal abad 20, Sumatra Barat merupakan salah satu produsen berbagai corak pemikiran. Beragamnya pemikiran membuka peluang perdebatan dan perselisihan di kalangan masyarakat awam. Dalam konteks ini Mishbah al-zhalamhadir sebagai bentuk respons ulama Kaum Tua terhadap situasi yang terjadi.

Ketiga, Muhammad Tarobin yang mengkaji Agama dan Tradisi: Fikih Salat, Teologi dan Filosofinya dalam Kitab Nur al-Salah karyaTengku Muhammad Saleh (1901-1966). Berdasarkan hasil kajiannya tersebut, disimpulkan bahwa pengajaran tentang salat dalam kitab Nur al-Salah tidak semata diajarkan sebagai fikih tetapi perlu disampaikan dengan pendekatan multidisiplin, dilengkapi dengan pendekatan-pendekatan lain yang sesuai dengan latar belakang masyarakatnya.

Keempat, Mahmudah Nur yang mengkaji Kepemimpinan Abuya Muqri; Antara Agama dan Magi (Telaah terhadap Naskah Catatan Harian Abuya Muqri). Berdasarkan kajiannya terhadap Naskah Catatan Harian Abuya Muqri tersebut disimpulkan bahwa kemampuan dalam agama dan magi menjadi indikator paling penting bagi para kiai di wilayah Banten. Tanpa keduanya, para kiai tidak mempunyai kedudukan yang penting dalam masyarakat Banten.

Kelima, Rakhmad Zailani Kiki yang mengkaji Pemikiran Keagamaan dan Kebangsaan K.H. Muhammad Ali al-Hamidi Betawi dalam kitab Ruh al-Mimbar. Berdasarkan hasil kajiannya, disimpulkan topik keagamaan dan kebangsaan diangkat oleh K.H. Muhammad Ali Alhamidi dikarenakan pada saat dia menulis dalam hal ini Kitab Ruhul Mimbar Jilid 1, suasana keadaan bangsa Indonesia baru saja merdeka, rentan terpecah belah, apalagi adanya Agresi Militer Belanda Pertama.

Karenanya alasan tersebut tema-tema keagamaan dan kebangsaan yang ditulis oleh K.H. Muhammad Ali Alhamidi dalam ruang lingkup persatuan dan kesatuan bangsa untuk menyemangati umat, menumbuhkan semangat nasionalisme melalui khatib-khatib yang membacakan tulisan-tulisan dari pemikirannya tentang keagamaan dan kebangsaan dari atas mimbar.

Keenam, Muhamad Rosadi yang mengkaji Pemikiran K.H. Abdullah bin Nuh (1905-1987) dalam Kitab Ana Muslimun Sunniyyun Syafi’iyyun. Berdasarkan kajiannya, K.H. Abdullah bin Nuh merupakan sosok ulama pejuang yang turut serta merebut kemerdekaan bangsa Indonesia sekaligus mengisi kemerdekaan melalui pemikiran yang dituangkan dalam bentuk kitab.

K.H. Abdullah bin Nuh juga mewajibkan agar menjauhi takfir kepada sesama muslim; kewajiban untuk bersikap husnudzdzon (prasangka baik) kepada sesama muslim; mencintai dan mengagungkan orang-orang shalih sebagian dari ajaran agama; keyakinan bahwa mencari keberkahan orang-orang salih bukan bid’ah; keyakinan bahwa mencintai dan mengagumi orang salih baik masih hidup atau sudah meninggal memperkuat keimanan, Pembahasan mengenai hal ini diperkuat dengan syair yang berjudul Pangeran Abdul Hamid Diponegoro al Mujahid