Tren Kegilaan pada Akademisasi

Ilutrasi iklim akademis - freepik.com
03 Mei 2019 06:00 WIB Depri Adri Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (30/4/2019). Esai ini karya Depri Adri, mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Institut Agama Islam Negeri Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah depri.adri123@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pada siang hari saya dan teman-teman biasa berada di kafe di lingkungan kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Seusai menyelesaikan kuliah kami selalu menyempatkan diri datang ke kafe itu.

Kami juga sering mengadakan diskusi komunitas di kafe tersebut. Pada siang beberapa hari lalu saya memikirkan sesuatu. Saya merasakan ada perubahan di kafe ini. Saya mulai menyadari kafe semakin ramai. Pengunjungnya semakin banyak.

Perubahan ini membuat saya berpikir, keramaian kafe adalah buah semakin bertambahnya jumlah mahasiswa di kampus ini. Setiap tahun jumlah mahasiswa yang diterima di kampus ini selalu meningkat. Kondisi ini membikin kampus jadi kian sesak. 

Meningkatnya jumlah mahasiswa ini bukan hanya terjadi di IAIN Surakarta, tetapi terjadi di hampir semua kampus di Indonesia. Beberapa pihak menyebut peningkatan jumlah mahasiswa adalah cermin dari semakin baiknya kualitas kampus.

Kiranya kita perlu menelusuri dasar pemikiran  seseorang masuk ke perguruan tinggi. Faktanya, motif mayoritas orang menempuh pendidikan di perguruan tinggi adalah agar memperoleh pekerjaan yang lebih layak.

Pendidikan disempitkan menjadi semata-mata gelar akademis. Beragam informasi dihafalkan, lalu dimuntahkan ulang dalam berbagai ujian supaya bisa mendapatkan gelar. Gelar akademis lalu dianggap jalan satu-satunya untuk mendapat pekerjaan yang layak serta karier yang gemilang. 

Beragam penelitian dan data menunjukkan gelar akademis tidak menjadi faktor penentu kesuksesan seseorang yang berimplikasi langsung pada peningkatan kemakmuran suatu bangsa. Barangkali kita perlu menilik apa yang terjadi dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Persoalan Mendasar Pendidikan

Dalam jurnal yang ditulis Reza A.A. Wattimena berjudul  Pendidikan Gila Gelar: Pemikiran Julian Nida-Rumelin tentang “Kegilaan Akademisasi” (Akademisierungswahn) di Uni Eropa dan Amerika Serikat serta Arti Pentingnya untuk Keadaan Indonesia mengurai persoalan mendasar dari sistem pendidikan di Amerika Serikat dan Uni Eropa serta kesesuaiannya dalam pendidikan di Indonesia. 

Dalam jurnal tersebut, Reza menjabarkan beberapa argumen penting dari Julian Nida-Rumelin terkait ”kegilaan akademisasi” yang terjadi di Amerika Serikat dan Uni Eropa. Menurut Nida-Rumelin, yang menjadi masalah dalam pendidikan bukanlah institusi maupun praktik dunia pendikan itu sendiri, melainkan ideologi pendidikan yang tidak manusiawi.

Nida menjelaskan yang dimaksud dengan ideologi ialah cara pandang terhadap dunia. Ideologi semacam ini telah bercokol di perguruan tinggi di Amerika Serikat dan Uni Eropa selama bertahun-tahun. 

Di dalam sistem pendidikan di Amerika Serikat dan Inggris, sebagaimana dijelaskan Nida-Rumelin, jika orang tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat college, ia hanya memiliki satu ijazah, yaitu ijazah sekolah menengah atas.

Tidak ada pendidikan lebih jauh yang memberikan keterampilan kepadanya sehingga ia bisa bekerja dengan pendapatan yang layak. Jika dipaksa melanjutkan pendidikan ke tingkat college, itu akan membutuhkan biaya amat tinggi.

Pendidikan di tingkat ini juga membutuhkan kemampuan berpikir abstrak dan melakukan penelitian ilmiah. Tidak semua orang memiliki kemampuan ini. Banyak orang terampil di dalam berbagai bidang, namun tak memiliki kemampuan berpikir abstrak maupun melakukan penelitian ilmiah.

Sebagaimana ditulis Reza dalam jurnal tersebut, di dalam dunia pendidikan sekarang ini, terutama yang terkena dampak langsung dari globalisasi, ada kesalahan berpikir mendasar. Nida-Rumelin menyebut sebagai ”kesalahan berpikir ekonomi pendidikan”.  

Ketika seseorang yang bergelar sarjana lulusan perguruan tinggi memiliki pendapatan yang lebih tinggi daripada yang tidak bergelar dianggap memiliki sumbangan lebih besar dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Jika memiliki gelar akademis dianggap lebih gampang mendapat pekerjaan, orang-orang bergelar akademis dianggap berperan lebih penting dalam perkembangan ekonomi daripada orang-orang yang tidak bergelar akademis. 

Anggapan dasarnya adalah semakin banyak orang bergelar akademis di suatu negara, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Faktanya tidak seperti itu.

Ketika jumlah sarjana bertambah, sementara uang untuk menggaji mereka semakin berkurang, maka lapangan kerja pun semakin sempit. Ketika lapangan kerja berkurang, maka pengangguran juga bertambah, terutama penganguran yang berpendidikan, yakni pengangguran lulusan universitas.

Melampaui Paradigma

”Kesalahan berpikir ekonomi pendidikan” ini menunjukkan dengan jelas bahwa bertambahnya orang yang bergelar akademis tidak berbanding lurus dengan kemajuan ekonomi masyarakat.

Sebaliknya, peningkatan jumlah orang yang bergelar akademis bisa mendorong terciptanya pengangguran. Ironisnya, sistem pendidikan semacam ini telah menjadi tren internasional, tak terkecuali di Indonesia.

Dari uraian di atas, kiranya cukup memberi gambaran bahwa membanjirnya jumlah mahasiswa tidaklah merupakan indikator tingginya mutu pendidikan.

Terlebih, jika paradigma pendidikan yang dianut hanya semata-mata untuk mengejar gelar akademis. Sistem pendidikan semacam ini juga terbukti tidak secara langsung menciptakan kesejahteraan ekonomi di tingkat nasional.

Tidak bisa dimungkiri, perguruan tinggi telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan wacana keilmuwan. Paradigma pendidikan yang menjadikan gelar akademis sebagai jalan satu-satunya untuk meraih kesuksesan yang berimplikasi secara langsung dalam menciptakan kesejahteraan ekonomi tingkat nasional sungguh merupakan sebuah kegilaan yang tidak memiliki faedah.

Kesalahan dalam paradigma pendidikan perlu disadari bersama. Tidak hanya sebatas itu, pemerintah dan masyarakat Indonesia secara luas membutuhkan perubahan pemahaman yang mendasar tentang pendidikan dari berbagai segi.

Dalam hal ini, Reza A.A Wattimena mengajukan tawaran menarik. Guna melampaui ideologi pendidikan tersebut, maka diperlukan sebuah paradigma yang baru. Di dalamnya terdapat pemahaman bahwa pendidikan akademis dan nonakademis sejatinya setara.

Pemahaman ini lalu diterjemahkan ke dalam pengakuan resmi dari pemerintah dan masyarakat luas terhadap kesetaraan pendidikan ini. Pengakuan ini akan berdampak luas tidak hanya bagi pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga mutu keseluruhan hidup warga negara tersebut.