Menghancurkan Alam dengan Cara Intim

Ichwan Prasetyo - Dokumen Solopos
01 Mei 2019 19:40 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Senin (29/4/2019). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis ichwan.prasetyo@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Dinamisasi wacana yang berkembang bisa jadi, atau kadang-kadang, lebih penting daripada karya yang menjadi sumber wacana itu.

Itulah yang saya tangkap ketika pada Sabtu (13/4) malam lalu saya diminta komunitas mahasiswa Program Studi Jurnalistik angkatan 2016 Fakultas Usuluddin dan Dakwah IAIN Surakarta menjadi pemantik diskusi dalam acara menonton bareng film Sexy Killers.

Ini adalah film dokumenter tentang pertambangan batu bara dan pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara di Indonesia. Film ini diproduksi oleh Watch Doc. Film ini adalah bagian terakhir dari Ekspedisi Indonesia Biru.

Pada 2015 lalu kala ekspedisi ini menjalani bagian awal, saya bertemu dua orang penggagas dan pelaksananya, yaitu Dandhy Dwi Laksono dan Farid Gaban. Mereka datang ke Solo dan mendiskusikan film dokumenter yang mereka buat pada bagian awal ekspedisi keliling Indonesia dengan sepeda motor itu.

Saat itu yang saya tangkap dari mereka berdua adalah keinginan kuat melihat Indonesia dan kemudian mendokumentasikan dalam bentuk film dengan sudut pandang yang ”tak pernah dipikirkan oleh jamaknya orang Indonesia”. Sexy Killers dalam pemaknaan saya masih konsisten dengan pilihan sudut pandang tersebut.

Beberapa saat sebelum pemutaran film Sexy Killers di kampus IAIN Surakarta, beberapa mahasiswa mengobrol dengan saya ihwal film itu. Ternyata mereka memiliki pemahaman yang sama bahwa film ini adalah kampanye mengajak menjadi golongan putih (golput) dalam pemilihan umum 2019 pada 17 April lalu.

Dari mana pemahaman seperti itu memanifestasi dalam kedalaman nalar mereka padahal mereka belum menonton film itu? Inilah yang saya maksud dinamisasi wacana yang berkembang bisa jadi jauh lebih penting daripada karya yang menjadi sumber wacana itu.

Mereka mendapatkan pemahaman itu dari gethok tular informasi ihwal film documenter itu di media sosial. Acara menonton bareng di kampus IAIN Surakarta itu memang acara yang kali kesekian dari sekian banyak acara menonton bareng film itu yang digelar di berbagai tempat di berbagai daerah di Indonesia.

Sampai Minggu (28/4) kemarin acara menonton bareng itu masih diselenggarakan dan akan diselenggarakan di berbagai tempat di negeri ini, padahal film utuh itu telah dipublikasikan secara terbuka di Youtube. Film ini memang sangat layak didiskusikan. Diskusi hanya mungkin diselenggarakan pada acara menonton bareng.

Gerakan Politik Bersama

Seusai menonton bareng, saya bertanya kepada seratusan mahasiswa yang hadir apakah menjadi golongan putih adalah satu-satunya pilihan untuk bersikap setelah menonton Sexy Killers? Ternyata “sikap politik” yang mereka artikulasikan saat itu tak bulat 100% memilih menjadi golongan putih. Bahkan suara tentang golongan putih dalam penangkapan saya malah minoritas.

Saya katakana menjadi golongan putih akan efektif sebagai sikap konkret atas konten di film dokumenter Sexy Killers itu asalkan yang menjadi golongan putih adalah 90%, minimal ya 80%. Butuh gerakan politik bersama, dengan segala derivasi sesuai sektor yang digeluti, untuk mengoreksi aktivitas pertambangan batu bara yang merusak lingkungan sebagaimana didokumentasikan dalam Sexy Killers.

Film dokumenter ini menceritakan dengan gamblang aktivitas pertambangan batubara di Indonesia yang berdampak merusak lingkungan. Kerusakan lingkungan tergambar dengan deskripsi dan narasi yang sangat jelas.

Kalau ditelaah dengan kacamata politik pengelolaan negara, film ini dengan gamblang menjelaskan kerusakan lingkungan yang terjadi terus-menerus seiring aktivitas pertambangan batu bara terjadi karena ada kekuatan oligarki di balik perusahaan-perusahaan pertambangan batu bara itu.

Pemerintah (pusat dan daerah) yang memilik wewenang mengoreksi aktivitas pertambangan yang merusak lingkungan seakan-akan tak berdaya karena kekuatan oligarki itu. Konsep oligarki dikaitkan dengan tiga orang pakar politik Indonesia, yaitu Vedi R. Hadiz, Richard Robison, dan Jeffrey Winters (Melampaui Oligarki? Bahasan Kritis Kekuasaan Politik dan Kesenjangan Ekonomi di Indonesia; Michele Ford dan Thomas B. Pepinsky; Prisma Volume 33, Nomor 1, 2014).

Robison dan Hadiz menggambarkan oligarki sebagai sistem relasi kekuasaan yang memungkinkan konsentrasi kekayaan dan otoritas serta pertahanan kolektif atas konsentrasi kekayaan. Winters menjelaskan oligarki sebagai politik pertahanan kekayaan antar-aktor yang memiliki sumber daya material berlimpah.

Dalam konteks yang digambarkan film Sexy Killers oligarki itu tampak sangat jelas dari relasi antara para pemilik pertambangan batu bara dan pemilik perusahaan pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara dengan kekuasaan (penguasa). Relasi mereka sangat erat dalam bingkai kepentingan politik.

Perusahaan pertambangan batu bara dari hulu hingga hilir melibatkan relasi antara pengusaha dan penguasa membentuk kekuatan oligarki yang sangat kuat. Inilah dalam pemaknaan saya yang menyebabkan aktivitas pertambangan yang merusak lingkungan itu seakan-akan tak dikoreksi sama sekali.

Kekuasan Material

Bagaimana mau mengoreksi kalau otoritas pemegang kekuatan mengoreksi justru berada dalam satu kepentingan politik dengan yang seharusnya dikoreksi? Menurut Winters, dari semua sumber daya kekuasaan politik di Indonesia, kekuasaan material (termasuk sumber daya pertambangan batu bara) jelas adalah yang paling terkonsentrasi, serbaguna, tahan lama, dan kurang terbatas.

Dalam pemaknaan saya, pemahaman utama yang harus mengemuka setelah menonton Sexy Killers adalah kesadaran bersama bahwa ketercukupan energi listrik ternyata mengorbankan bumi, mengorbankan kelestarian lingkungan. Setelah kesadaran di setiap pribadi menguat akan memanifestasi menjadi kesadaran kolektif.

Kesadaran kolektif ini yang akan menjadi kekuatan untuk mengoreksi kekuatan oligarki yang menguasai pertambangan batu bara dari hulu hingga hilir dan berakibat kerusakan lingkungan sangat parah itu. Bisakan ini mewujud? Ini bukan utopia?

Kalau kita sepakat dengan postulat bahwa demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, tentu pembangunan kesadaran kolektif ini bisa terwujud dan kemudian berdaya menjadi kekuatan bersama.

Protes masyarakat Karimunjawa bersama para aktivis Greepeace terhadap aktivitas kapal tongkang pengangkut batu bara yang merusak terumbu karang di taman nasional Karimunjawa adalah secuil bukti bahwa kesadaran kolektif bisa efektif menjadi kekuatan koreksi.

Bayangkan bila kesadaran kolektif itu mewujud menjadi gerakan bersama seluruh elemen bangsa mengoreksi kesewenang-wenangan pertambangan batu bara dari hulu hingga hilir yang merusak lingkungan. Tentu ini adalah keniscayaan yang dilandaskan pada postulat.

Tentu saja saya maklum sepenuhnya bahwa praksis politik pengelolaan bangsa ini acap kali tak setia pada postulat hidup berbangsa dan bernegara. Seorang kawan baik saya mengatakan politik pengelolaan negara kita acap kali, bahkan bisa dikatakan selalu, berlawanan dengan akal sehat.

Yang jelas, dalam pemaknaan saya, Sexy Killers sangat berhasil menggugah kesadaran para penonton tentang kondisi riil lingkungan hidup kita. Ketercukupan listrik, kepuasan kita kala tak ada lagi “byar-pet” di rumah, sekolahan, kantor ternyata berdampak sangat serius bagi lingkungan hidup kita.

Gerakan politik yang kini sangat dibutuhkan adalah mendesakkan agenda pemercepatan peningkatan penggunaan sumber energi baru dan terbarukan. Dalam tataran formal tampaknya batu bara masih jadi pilihan favorit.

Peraturan Pemerintah No. 79/2014 mengatur bauran energi primer di Indonesia. Pada 2025 targetnya adalah pangsa energi baru terbarukan paling sedikit 23%, pangsa minyak bumi kurang dari 25%, pangsa batu bara minimal 30%, dan pangsa gas bumi minimal 22%.

Pada 2050 targetnya adalah pangsa energi baru terbarukan paling sedikit 31%, pangsa minyak bumi kurang dari 20%, pangsa batu bara minimal 25%, dan pangsa gas bumi minimal 24%. Dari aspek regulasi ini kelihatan betul batu bara masih jadi pilihan favorit dalam pencukupan kebutuhan energi.

Dengan ”semangat oligarki” yang masih dominan di negeri ini, kita masih akan melihat laju kerusakan lingkungan akibat relasi pengusah tambang batu bara dengan penguasa yang sangat intim. Kerusakan lingkungan terjadi karena relasi intim ini.