Kompetensi Organisasi Perusahaan pada Era Ekonomi Digital

Octavia Permatasari - Istimewa
30 April 2019 09:00 WIB Octavia Permatasari Kolom Share :

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Senin (29/4/2019). Esai ini karya Octavia Permatasari, mahasiswa Pascasarjana Program Studi Service Management Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti. Alamat e-mail penulis adalah permatasarioctavia@gmail.com.

 Solopos.com, SOLO -- Sejak pergantian milenium, negara-negara berkembang secara konsisten mengungguli negara maju dalam pertumbuhan gross domestic product (GDP). Munculnya pekerjaan di industri-industri negara berkembang dengan keterampilan tinggi telah meningkatkan pendapatan.

Hal tersebut menyebabkan perubahan pada kebijakan pengeluaran yang lebih besar ke arah barang dan jasa. Menurut ahli ekonomi John Hawksworth dan Gordon Cookson di PricewaterhouseCoopers (PwC) pada 2006, E7 yang merupakan kependekan dari Emerging-7 adalah tujuh negara, yaitu Tiongkok, India, Brasil, Meksiko, Rusia, Indonesia, dan Turki, yang dikelompokkan bersama karena pertumbuhan ekonomi yang pesat.

Seperti yang diprediksi Goldman Sachs, pada 2050 pendapatan ekonomi Indonesia akan bernilai US$7.010 miliar. PwC juga memperkirakan E7 bisa mencapai 75% lebih besar daripada G7 dalam purchasing power parity (PPP) atau keseimbangan daya beli pada 2050.

Hal ini dikarenakan negara-negara E7 mempunyai pertumbuhan ekonomi dan pasar yang sangat tinggi serta populasi yang sangat besar dibandingkan dengan negara-negara maju terkaya di dunia, yang terhimpun dalam G7, yaitu Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Jerman, Prancis, Jepang, dan Italia. Indonesia merupakan salah satu negara di tingkat global yang menarik perhatian bagi investor saat ini.

Kondisi tersebut menyebabkan investasi yang tidak hanya dari lokal, tapi juga dari luar negeri untuk berlomba-lomba menempatkan dana di Indonesia. Salah satu industri yang paling menjadi sorotan adalah perusahaan rintisan berbasis teknologi atau startup yang saat ini kerap menjadi incaran merger, akuisisi, hingga konsolidasi perusahaan raksasa konvensional.

Pertumbuhan ekonomi suatu negara kini didukung perkembangan bisnis startup, yang akrab disebut unicorn, yang membentuk kapitalisasi pasar dan didorong oleh ekonomi digital. Ramainya bisnis startup membuat banyak perusahaan harus melakukan transformasi besar-besaran untuk tetap menjadi pemimpin di pasar dan menciptakan strategi bertahan dari pesaing baru.

Bisnis startup tumbuh dengan membuat ekosistem-ekosistem yang baru sehingga pasar menjadi luas, menyebabkan nilai makin tinggi karena tumbuh secara organik, yang artinya tidak ada lagi dominasi pemilik saham sehingga menciptakan sinergi. Dalam ekonomi bisnis, kita mengenal old business atau traditional market.

Di old business penjual, pembeli, barang, jasa, dan alat pembayaran berupa uang, kartu kredit, debit dan lain sebagainya bertemu secara fisik di suatu tempat. Bisnis startup yang berkembang pesat membentuk tempat yang disebut e-market.

Di e-market penjual, pembeli, barang, dan jasa bertransaksi secara virtual dengan menggunakan fintech atau financial technology, yaitu alat bayar elektronik, seperti e-money dan e-wallet, tanpa mengenal batas-batas negara; yang penting menghasilkan value atau nilai.

Dompet Digital

Keberadaan fintech mengubah masyarakat berkegiatan di sektor finansial. Untuk bertransaksi keuangan nontunai, misalnya, alih-alih menggunakan cara konservatif dengan memanfaatkan layanan transfer perbankan seperti yang dilakukan generasi ”lama”, masyarakat masa kini populer menggunakan layanan payments yang terbentuk melalui dompet digital atau uang elektronik yang disebut e-wallet.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total transaksi layanan payments pada November 2018 dalam bentuk uang elektronik mencapai Rp5,2 triliun. E-wallet merupakan bagian dari bisnis yang disebut dengan peer-to-peer (P2P) payments yang digunakan sebagai alat pembayaran yang terintegrasi dalam sebuah aplikasi di smartphone.

P2P payments adalah sebuah model bisnis ketika terjadi transaksi dari satu individu ke individu lain melalui perantara, yaitu Internet atau telepon seluler. P2P payments ini membentuk ekosistem digital. Contoh alat pembayaran yang menjadi primadona di Indonesia saat ini yaitu Gopay dan Ovo.

Berdasarkan survei pengguna dompet digital oleh DailySocial FinTech Report 2018, Gopay dan Ovo merupakan aplikasi terbanyak yang digunakan masyrakat Indonesia. Pengguna Gopay sebesar 79,39% dan Ovo 58,42%. Persaingan ketat dua fintech tersebut bukan hal asing bagi pengguna uang elektronik dalam beberapa waktu terakhir.

Keduanya seakan-akan adu cepat menggandeng restoran ternama dan menawarkan diskon serta uang kembalian (cashback) kepada konsumen. Adu promo alat pembayaran tersebut membuat para konsumen rajin menggunakan uang elektronik yang membuat gaya hidup tanpa uang tunai atau sering juga disebut cashless society kian menjamur.

Hal ini memunculkan kekhawatiran di kalangan badan usaha milik negara (BUMN). Walaupun sudah bergabung di pembayaran digital LinkAja, sekali BUMN tertinggal akan sulit mengejar kedua aplikasi pembayaran digital ini. Persaingan dapat terjadi kapan saja, yaitu dari waktu ke waktu.

Seiring berjalannya waktu, kompetisi berjalan semakin ketat, karena banyak saingan di pasar. Organisasi (badan usaha) harus mencapai keunggulan bersaing secara berkelanjutan dengan cara membuat sebuah strategi, yaitu pasar versus produk atau jasa.

Keunggulan Bersaing

Kompetisi di pasar dibandingkan dengan produk atau jasa yang sudah ada dengan produk atau jasa baru di pasar yang sudah ada dan pasar yang baru. Jika unggul pada keempat kategori tersebut, organisasi dapat mencapai keunggulan bersaing.

Selain itu, ekonomi digital menjadi sangat besar karena informasi tersebar secara cepat. Eksekutif dalam perusahaan perlu terus update dengan informasi terbaru, dari sumber yang terpercaya. Dalam transformasi digital di dalam perusahaan, informasi yang bergerak di internal harus menyamai cepatnya informasi yang bergerak di luar organisasi.

Tak bisa lagi sebuah informasi dikuasai oleh satu bagian. Shared information adalah salah satu mekanisme yang harus diimplementasikan agar organisasi bisa berjalan stabil dan semua eksekutif mendapatkan informasi yang koheren.

Tanpa value creation atau penciptaan nilai bagi suatu organisasi, masyarakat tidak akan menganggap organisasi tersebut pantas ada. Tentukan ini terlebih dahulu, maka suatu organisasi dapat dirasakan penting bagi masyarakat.

Ciptakan formula digital dalam DNA organisasi sesuai aspirasi yang diinginkan perusahaan. Kecepatan perubahan dan terciptanya nilai akan meningkatkan kemampuan organisasi dalam melakukan transaksi di pasar dan menciptakan model ekonomi bagi organisasi agar berkelanjutan dan tahan akan perubahan zaman serta dinamika pasar yang terus meningkat.