Dihujat Ternyata Tetap Banyak Peminat

Sitatur Rohmah - Istimewa
29 April 2019 09:47 WIB Sitatur Rohmah Kolom Share :

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Sabtu (27/4/2019). Esai ini karya Sitatur Rohmah, ibu rumah tangga yang merupakan mantan penyiar dan mantan manajer radio siaran di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah sitatur@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Beberapa waktu yang lalu meme atau gambar bernada guyonan tentang sinetron bertema azab tersebar luas di masyarakat. Guyonan bernada negatif yang kemudian bisa ditangkap sebagai kesan masyarakat tentang sinetron bertema azab.

Kesan ini kemudian seolah-olah memberi label sinetron bertema azab sebagai tontonan buruk, tak mendidik, dan tentu saja tidak layak untuk dinikmati pemirsa televisi.

Kenyataan yang terjadi di stasiun televisi tidak sama dengan pendapat sebagian masyarakat tersebut. Jumlah jam tayang sinetron azab justru banyak dengan durasi bervariasi antara satu jam sampai dua jam.

Sinetron yang diproduksi oleh (hanya) beberapa rumah produksi ini disajikan dalam judul yang berbeda-beda. Ada yang dikemas sebagai tontonan bernuansa islami, cerita legenda, kisah inspiratif, atau kisah nyata, tetapi pada intinya sama saja yakni tema seputar balasan setimpal atas perbuatan sesorang.

Sebagai contoh adalah jadwal acara di Indosiar pada Kamis, 25 April 2019. Dalam jam siar televisi antara pukul 05.30 WIB sampai 14.30 WIB sinetron bertema azab ditayangkan delapan kali.

Jika dijumlah keseluruhan durasi sinetron azab ini sebanyak 12 jam atau sekitar 57% dari keseluruhan jam siar selama 21 jam. Bagaimana dengan penayangan iklan pada acara yang mendominasi sajian tontonan di televisi ini?

Saya mengamati pada salah satu penayangan sinetron dengan judul Pintu Berkah yang ditayangkan pada Kamis pukul 08.30 WIB-10.00 WIB. Durasi sinetron adalah 90 menit dengan pola siaran 10 menit cerita dan sembilan menit iklan.

Begitu seterusnya hingga ditutup dengan tayangan akhir cerita pada sesi akhir selama 25 menit. Dari sembilan menit masa tayang iklan, rata-rata diputar 24-25 iklan produk dan satu atau dua iklan acara lain di stasiun televisi yang sama dengan produk sebagai sponsor utama.

Menyatu dengan Cerita

Durasi masing-masing iklan rata-rata 15 detik hingga 20 detik, sedangkan iklan acara lain dengan sponsor utama berdurasi 30 detik. Pada beberapa spot iklan ada iklan bumper in bumper out atau iklan yang mengawali rangkaian spot iklan tersebut.

Pada satu kesempatan, saya sempat melihat iklan endorse atau iklan khusus yang dibuat seolah-olah menyatu dengan cerita atau menjadi bagian cerita. Dari gambaran tentang jumlah tayangan iklan tersebut, bisa kita coba cari tahu berapa kira-kira uang yang beredar dalam sinetron itu.

Layanan sistem monitoring iklan televisi Adstensity mencatat belanja iklan televisi pada 2018 mencapai Rp110,46 triliun. Menurut CEO Adstensity A. Sapto Anggoro, dari seluruh brand yang memasang iklan di televisi selama periode Januari–Desember 2018, belanja iklan tertinggi didominasi brand produk untuk perempuan. 

Data dari biro iklan yang melayani pemasangan iklan di televisi swasta di Indonesia menunjukkan biaya iklan di televisi swasta di Indonesia paling murah dipatok pada angka Rp5 juta per 30 detik.

Harga paling mahal dari iklan televisi adalah Rp 85 juta per 30 detik. Besar kecilnya tarif iklan dipengaruhi oleh konten (materi) acara dan prime time (jam tayang utama) televisi. 

Sekarang mari kita hitung kira-kira berapa pengiklan membayar supaya tampil dalam sinetron azab yang katanya dihujat, tapi diam-diam banyak peminat. Dalam 90 menit masa tayang sinetron, kira-kira ada empat kali pemutaran break iklan.

Masing-masing break iklan menayangkan 25 iklan produk. Berarti jumlah total iklan yang diputar selama siaran sinetron azab ini berlangsung adalah 100 kali. Durasi rata-rata iklan adalah 15 detik.

Tanpa memerhatikan jam waktu tertentu dengan harga iklan yang lebih mahal (prime time), bisa kita ambil rata-rata tarif iklan terendah dari kebanyakan stasiun televisi senilai Rp4 juta per 15 detik. Kalau 100 dikalikan dengan empat juta maka diketahui pendapatan stasiun televisi dalam sekali tayang sinetron azab Rp400 juta.

Ini hanya dalam satu kali jam tayang satu sinetron. Untuk keseluruhan tayangan dari semua stasiun televisi yang menayangkan sinetron dengan tema serupa bisa Anda kalkulasi sendiri.

Dari sisi kualitas tontonan, sinetron azab masih belum bisa dikatakan sinetron yang berkualitas, apalagi mendidik. Dari sisi jalan cerita, setting, alur, bahkan karakter tokoh secara awam sebenarnya masyarakat menyadari bahwa seharusnya tontonan ini dihindari. 

Setop Menonton

Menurut saya, penonton televisi mestinya konsisten dengan apa yang disuarakan. Penonton berhak mendapatkan tontonan yang berkualitas. Perlu diketahui bahwa kegiatan menonton televisi akan sangat mudah diketahui oleh lembaga survei.

Hasil survei kemudian akan diketahui jam-jam prime time, acara dengan penonton terbanyak, bahkan sampai pada menit-menit tertentu dari keseluruhan jam tayang. Hasil survei ini akan menjadi dasar stasiun televisi membuat program acara dan menatanya dalam jadwal acara.

Sedangkan bagi pemasang iklan, data prime time atau regular time akan menjadi data jam-jam bagus untuk memasang iklan. Bagaimana supaya pemirsa televisi bisa mendapatkan tontonan yang berkualitas? Yang pertama adalah berhenti menonton acara yang tidak mendidik.

Ketika tidak ditonton maka rating acara akan menurun. Posisi rating ini akan jadi pertimbangan untuk pembuatan program selanjutnya. Dengan kata lain, buatlah acara yang buruk menjadi memiliki rating yang rendah supaya tidak ditayangkan lagi.

Caranya? Setop menonton, contohnya adalah setop menonton tayangan sinetron azab ini. Yang kedua adalah penguatan karakter dalam pendidikan di keluarga. Penanaman akhlakul karimah dapat membuat anak seperti memiliki alarm yang akan berbunyi ketika menemui sesuatu yang berbeda dengan nilai yang selama ini ia pelajari.

Demikian juga mengenai tayangan televisi. Anak dengan karakter yang baik akan bisa memilah mana tontonan yang bagus untuk ditonton dan mana yang tidak. Langkah ketiga adalah kebalikan dari langkah pertama, yaitu mengapresiasi sebaik-baiknya tontonan yang bermutu.

Makin banyak ditonton rating acara akan berada di posisi bagus. Hal ini akan jadi pertimbangan produser acara dan pengiklan membuat acara lain yang serupa. Dengan demikian hak kita sebagai penonton untuk bisa mendapat tayangan berkualitas akan terpenuhi. 

Sebenarnya penonton adalah raja. Pilihan raja akan jadi penentu jadwal mata acara. Sekarang kembali kepada kita sendiri, suguhan apa yang kita sajikan untuk anak-anak tercinta di rumah? Memberikan "asupan bergizi" atau sekadar menambah pundi-pundi pemilik stasiun televisi?