Pemercepat Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Muhammad Husein Heikal - Istimewa
28 April 2019 02:00 WIB Muhammad Husein Heikal Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (26/4/2019). Esai ini karya Muhammad Husein Heikal, analis di Economic Action (EconAct) Indonesia. Alamat e-mail penulis adalah huseinheikal@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Mandeknya pertumbuhan ekonomi Indonesia belakangan ini di level 5% bukanlah kutukan, bukan pula sekadar takdir, melainkan diciptakan sendiri. Kitalah yang menentukan angka berapa atau sebesar berapa persen pertumbuhan yang ingin kita capai.

Kita membuat proyeksi, menetapkan target, berusaha meraihnya, bahkan melampauinya. Sesederhana itu. Upya meraih tentu membutuhkan usaha dan pemikiran tak sedikit. Tak mungkin target dapat diraih, apalagi terlampaui, bila kita hanya berleha-leha.

Pemerintah telah bekerja, bekerja, dan bekerja. Ini kita saksikan bersama. Lantas mengapa perekonomian kita masih tetap mandek? Ini keheranan yang wajar dilontarkan warga negeri ini. Untuk merespons keheranan ini saya mencoba mengajukan dua pertanyaan kritis.

Apa sebenarnya problem yang dihadapi oleh faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi; lalu bagaimana cara kita menyelesaikan problem-problem tersebut? Berdasar teori, pertumbuhan ekonomi ditopang empat faktor berupa konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi, dan ekspor (dikurang impor).

Pada tahun lalu konsumsi rumah tangga yang menjadi faktor dominan tumbuh dengan baik sesuai tren, yakni 5,05%. Anggaran pengeluaran pemerintah berhasil menekan angka defisit di bawah target dan tumbuh 4,8%. Investasi tak kalah baik, berhasil tumbuh positif 6,67%. Ekspor tumbuh 6,48%.

Sayangnya, pencapaian ekspor ini tak cukup menambal beban impor yang melesat tumbuh 12,04%. Nilai negatif ekspor memberi dampak penurunan pertumbuhan ekonomi. Nah, problem telah ditemukan. Selanjutnya mari eksekusi penyelesaiannya.

Empat Kali Defisit

Perlu diingat, sedekade belakangan kita mengalami empat kali defisit neraca perdagangan, yakni pada 2012 senilai US$1,7 miliar, pada 2013 senilai US$4,1 miliar, pada 2014 senilai US$1,89 miliar, dan pada 2018 senilai US$8,57 miliar. Defisit terjadi akibat ketidakseimbangan porsi ekspor dan impor.

Nilai impor mengalahkan nilai ekspor. Semestinya ketika impor semakin besar maka ekspor juga harus mengikuti atau bahkan melampaui agar menciptakan surplus. Mengapa nilai ekspor kita justru terus menurun dari waktu ke waktu? Sebab selama ini kita mengandalkan minyak dan gas untuk diekspor.

Fakta menunjukkan semakin hari cadangan minyak dan gas kita di perut bumi Nusantara ini kian menipis. Kini tak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Akibat kekurangan, mau tak mau kita harus mengimpor. Parahnya lagi, walau telah berada dalam situasi demikian, kita tetap mengekspor minyak karena ketidaksanggupan mengolah sendiri.

Kita tak lagi bisa berharap pada ekspor minyak dan gas. Semestinya sejak dulu kita menyadari dan bersiap menghadapi hal ini. Tidak seperti sekarang, ketika era kejayaan minyak dan gas sudah habis kita baru hendak berusaha mengembangkan potensi ekspor dari sektor nonminyak dan gas.

Selama ini kita benar-benar lalai dan tak ada banyak pilihan bagi kita. Sekarang adalah masa kita untuk bergerak menggenjot ekspor di sektor nonminyak dan gas. Saya kira jalan terbaik mendorong ekspor nonminyak dan gas adalah lewat ekonomi kreatif. Sudah kita lihat Tiongkok yang begitu gencar mengembangkan ekonomi kreatif di dalam negeri.

Membuat dan Menciptakan

Ekonomi Tiongkok tumbuh bergairah. Barang-barang hasil produksi Tiongkok merembes dalam jumlah besar ke berbagai negara, termasuk ke Indonesia. Label ”Made in China” teramat mudah ditemukan di mana-mana. Tiongkok juga merakit produk merek ternama iPhone, yang notabene berasal dari Amerika Serikat.

Inilah salah satu hal yang mesti kita lakukan. Membuat dan menciptakan barang-barang yang bernilai jual dan berkualitas di pasar internasional. Pasar dunia penuh kompetisi yang tak mudah ditembus. Oleh karena itu, sesuai mazhab klasik bahwa kita harus mempunyai satu keunggulan mutlak maupun keunggulan komparatif.

Doktrin Merkantilis yang meyakini surplus perdagangan dicapai dengan memanfaatkan sepenuhnya sumber daya alam yang tersedia telah patah. Jauh hari Adam Smith sudah berujar pemanfaatan sumber daya alam sepenuhnya kelak akan membahayakan negara itu sendiri, yaitu berupa peningkatan impor besar-besaran.

Hal ini terjadi karena semakin menipisnya persediaan sumber daya alam di satu sisi, sementara di sisi lain jumlah penduduk semakin meningkat, hingga akhirnya produksi domestik tak lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat negara tersebut. Kini, itulah yang terjadi di Indonesia. Tentu ini tak bisa dipertahankan dan harus segera dibenahi, tak lain lewat ekonomi kreatif.

Selain membenahi urusan ekspor, sebenarnya ada dua alternatif lain yang dapat digenjot untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi kita. Apa itu? Tak lain ialah investasi dan pariwisata.

Dari empat faktor pertumbuhan ekonomi yang disebut di atas, investasi sebagai faktor yang tak memerlukan modal banyak. Kunci investasi ialah kepercayaan. Sayangnya, kepercayaan ialah satu ”hal kecil” yang memerlukan banyak pengorbanan mental (non-modal). Ketika kepercayaan telah diraih maka kesuksesan akan menghampiri kita.

Tahun Politik

Sebagian besar dari kita tentu memperkirakan bahwa investasi kita menurun pada tahun ini. Penyebabnya tak lain karena surutnya kepercayaan. Tahun ini tahun politik yang amat membosankan bagi kita, apalagi investor. Tahun pemilihan umum adalah tahun yang rawan, sekalipun pemilihan umum telah selesai.

Para investor masih lebih memilih wait and see. Sebagaimana yang diungkap The Economist bahwa risiko investasi di Indonesia sangat tinggi, apalagi pada masa-masa pemilihan anggota legistlatif dan (terutama) pemilihan presiden. Ini sejalan dengan yang diungkap Kepala Ekonom IMF (2001-2003) Kenneth Rogoff di Project Syndicate (11/1).

Selama tahun ini dan berikutnya, risiko ekonomi terbesar akan muncul di negara-negara tempat investor berpikir pola-pola yang telah ada tidak mungkin berubah. Mari kita lihat apakah pada 2020 nilai investasi yang masuk ke dalam negeri meningkat signifikan? Saya kira masih cukup sulit.

Mengapa? Sebab kita belum membenahi akar perkara, yakni birokrasi. Panjangnya rantai birokrasi dalam pengurusan investasi memang belum terputus semua. Kerumitan proses awal membuat investor urung menanamkan modal. Inilah yang menjadi masalah besar dan mesti diselesaikan. Kalau ini beres, modal akan masuk dengan deras ke Indonesia.

Di sektor pariwisata, kita memiliki potensinya. Kalau kata kunci investasi ialah kepercayaan, kata kunci pariwisata ialah keamanan. Keamanan berkait erat pula dengan persepsi. Berdasarkan data Travel and Tourism Competitivness Index (2017), Indonesia berada di peringkat ke42.

Kunci Sukses Pariwisata

Daya saing ini meningkat dari peringkat ke-50 sebelumnya. Sayangnya, kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto baru mencapai 5,8%. Oleh karena itulah pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat mesti bersinergi untuk membuka kunci sukses pariwisata.

Kita harus membangun citra yang baik untuk mengundang para wisatawan berkunjung, menikmati keindahan alam Nusantara, tanpa merasa khawatir atau bahkan merasa tidak nyaman. Selama ini hanya Bali yang dikenal oleh wisatawan asing, padahal ada begitu banyak tempat lain yang tak kalah indah di berbagai sudut negeri kita ini.

Itu semua adalah potensi. Tinggal bagaimana cara kita mengembangkan lewat strategi dan terobosan. Pembenahan ekspor, ditambah investasi dan pariwisata, adalah jalan terbaik yang dapat diadopsi sesegera mungkin.

Tiga cara ini ialah jurus pamungkas untuk mengerek kembali pertumbuhan ekonomi ke level 6% atau bahkan melaju ke level 7%. Ini tak hanya soal angka, pertumbuhan ekonomi kita juga harus menjadi lebih berkualitas dengan penyebaran yang merata di segala penjuru negeri.