Ke Mana Perginya Etika Kesuksesan?

Aloysius Waryono - Istimewa
26 April 2019 09:30 WIB Aloysius Waryono Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (24/4/2019). Esai ini karya Aloysius Waryono, guru SMKN 2 Klaten, alumnus Pascasarjana Teknik Metalurgi Institut Teknologi Bandung. Alamat e-mail penulis adalah al.waryono62@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Kesuksesan adalah sebuah impian yang mempunyai makna yang sangat beragam. Sukses bagi si A tidak sama maknanya bagi si B. Sukses  bagi si B tidak sama artinya dengan si C. Sukses bagi si C tidak sama isinya dengan si D. Demikian seterusnya. Kesuksesan itu tidak ada ukurannya.

Menurut Edy Tuhirman, CEO PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia, sukses adalah sebuah perjalanan yang harus dinikmati prosesnya, bukan hasilnya. Ibarat meniti deretan anak tangga, kesuksesan yang diraih seseorang bukanlah saat ia mencapai anak tangga terakhir.

Setiap anak tangga yang didaki itulah sukses yang sesungguhnya. Jika ingin mengenyam kesuksesan, nikmatilah setiap prosesnya meskipun proses itu harus dilalui dengah susah payah. Kesuksesan lahir dari kerja keras itu sendiri.

Apabila kerja minimal tetapi hasil atau pendapatannya maksimal; apabila hanya duduk di kursi empuk dan dengan tanda tangannya meminta bagian terbesar dari kerja keras orang lain; apabila meraih kesuksesan atau kemenangan dengan menghalalkan berbagai cara, itu bukan kesuksesan atau kemenangan yang sesungguhnya.

Kesuksesan atau kemenangan belum tentu prestasi. Kesuksesan yang diraih dengan mengorbankan keringat, tangis, darah, dan nasib sesama itu bukan sukses yang sebenarnya. Kemenangan yang dicapai dengan kecurangan, kebohongan, dan kebencian itu juga bukan menang yang sejati.

Dalam kehidupan masyarakat kini, etika seolah-olah sudah tidak diperlukan lagi. Tujuan dapat menghalalkan berbagai cara. Kalau perlu sambil menghancurkan yang lain. Saat ini yang menentukan kesuksesan adalah kekuatan atau kecurangan; bukan kejujuran, kerja keras; atau prestasi.

Banyak yang hanya mau tahu bahwa sukses itu mendatangkan kebahagiaan dan kemakmuran. Tidak mau tahu bagaimana proses atau cara bisa mencapai puncak kesuksesan itu. Etika bahwa tujuan yang baik harus diraih dengan cara yang baik tidak berlaku lagi. Yang penting sukses, sukses, dan sukses.

Lahir dari Kerja Keras

Banyak yang ingin segera memetik hasil dengan cara-cara yang instan atau jalan pintas tanpa mau melewati proses yang panjang dan sulit, padahal kesuksesan lahir dari kerja keras. Kadang-kadang harus jatuh, gagal, dan gagal lagi. Itu hal yang biasa. Itulah proses.

Kegagalan bukan dosa yang harus dihindari. Kesuksesan adalah proses kerja keras itu sendiri. Kesuksesan dan kegagalan akan mewarnai semua kehidupan, termasuk peristiwa pemilihan umum. Pemilihan umum sebagai pesta demokrasi rakyat kini sudah selesai dan telah berlalu.

Pesta yang seharusnya diwarnai kegembiraan dalam memilih pemimpin dan wakil rakyat yang berkualitas, kompeten, jujur, dan memiliki track record atau rekam jejak yang baik terasa  kehilangan etika, esensi, dan tujuan.

Pesta demokrasi yang baru saja berlalu dengan riak-riaknya terasa mengalami disorentasi sehingga yang terjadi adalah konflik sosial antaranak bangsa. Hampir setiap hari dapat disaksikan, untuk meraih kesuksesan dan kemenangan, anak-anak bangsa saling  bermusuhan,  menyerang, merendahkan, menolak, memfitnah, dan menghancurkan.

Ukurannya hanya kata sukses, menang, berhasil, dan terasa sulit menerima kekalahan. Hilangnya faktor etis membuat orang lupa akan inovasi, prestasi, kejujuran, persaudaraan, persatuan, dan kepentingan umum.

Kelunturan faktor etis membuat orang lupa sportivitas dan jiwa kesatria. Rontoknya faktor etis membuat orang lupa bahwa tujuan yang baik harus diraih dengan cara yang baik pula. Akibat selanjutnya, lembaga-lembaga kenegaraan, bisnis, bahkan olahraga pun kehilangan kepercayaan.

Bila demi kesuksesan kekuatan yang bermain dan mengabaikan etika serta kepentingan umum, bahaya besar yang muncul dan tumbuh dari situasi curang adalah keinginan balas dendam. Setiap orang atau kelompok yang merasa dirugikan akan mencari upaya untuk membalas dendam.

Akibatnya akan terjadi tindakan yang saling menjatuhkan yang bisa membelah persatuan bangsa. Sejarah bangsa telah ditaburi hiasan bintang-bintang  pahlawan bangsa yang mampu menembus masa-masa sulit dan melewati berbagai krisis.

Bangsa Besar

Bangsa Indonesia bukan bangsa tempe. Itulah kata-kata Bung Karno untuk menggembleng bangsa ini menjadi bangsa yang berkarakter sekuat baja, ulet, tahan banting, dan pantang menyerah.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar yang mampu menelan persoalan-persoalan besar, mampu menderita untuk masa depan, dan mampu menekan kepentingan pribadi untuk kepentingan umum.

Bangsa Indonesia bukan bangsa tempe, bukan bangsa yang cengeng, bukan bangsa yang manja. Menurut Jakob Sumardjo, bangsa atau manusia tempe adalah manusia yang cengeng dan manja.  

Manusia cengeng adalah manusia yang rakus terhadap hak-haknya, tetapi tidak peduli kewajiban dan tanggung jawabnya. Sedangkan  kemanjaan muncul apabila tanpa kerja keras mendapatkan sukses yang berlimpah.

Ironisnya, kini ukuran kesuksesan bukan lagi kerja keras, bukan lagi kejujuran, dan buklan lagiu kerendahan hati, tetapi kepemilikan materi. Semakin banyak materi yang dimiliki semakin terpandanglah dan mulialah kehidupannya.

Pada zaman ini siapa yang akan menghormati orang dari kejujuran, kebaikan, dan kerendahan hatinya? Justru orang-orang yang memiliki kebaikan-kebaikan semacam ini dianggap  bodoh dan gagal hidupnya.

Tidaklah mengherankan masyarakat dewasa ini berlomba-lomba, berlari, menghimpun materi sebanyak-banyaknya; yang penting tidak ketinggalan dengan yang lain. Kaya mendadak, terkenal tiba-tiba, dan sukses di luar sistem kerja dianggap biasa.

Kegagalan atau kekalahan adalah dosa yang harus dihindari karena bisa menjatuhkan harga diri. Bila masyarakat hanya memikirkan kesempatan yang bisa direbut demi kemenangan atau kesuksesan untuk kelompok atau dirinya sendiri maka sulit untuk tumbuh dan berkembang secara matang sebagai bangsa yang dewasa.

Ibarat anak kecil yang cengeng, manja, dan egois yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Keutamaan dasar yang dirumuskan dengan kata-kata bijaksana ”berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” terasa hilang. Etika untuk meraih kesuksesan yang sesungguhnya sebagai kesadaran yang universal terasa pergi dan hilang entah ke mana.