Klaim Kemenangan Prabowo-Sandi dan Ritual Politik

Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Maruf Amin berfoto bersama sebelum rapat kerja nasional di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (27/10 - 2018). (Bisnis/Peni Widarti)
26 April 2019 05:30 WIB Jaffry Prabu Prakoso Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Calon wakil presiden Sandiaga Uno sudah kembali beraktivitas normal setelah sebelumnya dikabarkan sakit. Sejak pemungutan suara usai, dia menghilang. Bahkan, saat pasangannya, Prabowo Subianto mengumumkan klaim kemenangan versi hitung cepat kubunya sendiri dan ditandai dengan sujud sukur, tak tampak batang hidung Sandi.

Orang-orang terdekat mulai dari partai pengusung hingga tim yang selalu menempel Sandi menyebutnya sakit dan cegukan tanpa henti. Setelah empat hari Sandi tidak memiliki kegiatan, pekan ini dia mulai menyapa para relawan lagi.

Jika sebelumnya banyak berkunjung ke berbagai daerah mendengar keluhan warga, kini Sandi lebih memantau proses penghitungan suara di setiap tempat pemungutan suara (TPS) yang tercatat dalam formulir C1. Dia menyemangati relawannya untuk terus mengawal C1 di seluruh Indonesia.

Tim Prabowo-Sandi memang tidak percaya dengan hasil hitung cepat berbagai lembaga survei. Hasilnya memang sangat bertolak belakang dari klaim Prabowo yang mengaku mendapat suara lebih dari 62 persen.

Keyakinan mereka semakin jadi saat kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) salah memasukkan hasil C1 ke dalam situs Komisi Pemilihan Umum (KPU). Belum lagi kisruh surat suara yang tercoblos di Malaysia membuat Prabowo-Sandi mengerahkan relawan mendapatkan kepercayaan sendiri.

Mereka ditugaskan untuk menghitung dan mengawasi perolehan C1. Setelah itu hasilnya diperbandingkan dengan milik KPU.

Di acara syukuran dan konsolidasi relawan di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta, Rabu (24/4/2019). Prabowo mengapresiasi langkah masyarakat dan para relawan yang penuh semangat mengawal proses penghitungan suara pemilu 2019. Baginya, mereka adalah pelopor penggerak perubahan.

Capres nomor urut 02 ini mengajak pendukungnya untuk terus mengawal perolehan suara dan jangan sampai berubah. Baginya, dia sudah menang dengan angka 62% dan tak ada kompromi soal itu. 

“Alhamdulillah kita sudah menang. Tetapi saya tetap mengimbau kepada seluruh relawan dan masyarakat untuk jangan lengah. Kita ingin pemilu kita ini bersih, dan demokrasi kita tidak dinodai oleh kepentingan yang ingin menghancurkan bangsa kita,” klaimnya.

Data Jokowi-Amin

Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Amin tidak tinggal diam menghadapi klaim Prabowo-Sandi. Mereka menyuguhkan sebagian hasil hitung internal dengan gamblang. Berbeda dengan pendukung Prabowo-Sandi yang hanya mengklaim menang 62 persen tapi tidak pernah menunjukkan temuannya.

Anggota Direktorat Saksi TKN Alfatin Nova mengklaim pernyataan Prabowo-Sandi salah besar. Salah satu contohnya adalah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Bali. Mereka telah mengumpulkan 56,76 persen suara yang masuk di DIY. Hasilnya, tim Jokowi-Amin mengklaim 69,97 persen.

Begitu juga di Pulau Dewata. Meski data yang terkumpul masih sedikit, tapi Jokowi-Amin menang telak di Bali. Setidaknya, hal itu konsisten dengan data yang dirilis secara real time di laman pemilu2019.kpu.go.id. serta hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei.

“Suara yang masuk 18,57 persen. Tapi hasilnya sejalan dengan real count KPU dan quick count-nya SMRC [Saiful Mujani Research & Consulting], dan Poltracking. Kita menang di atas 90 persen menang telak di Bali. Sementara hasil rilisnya 02, yang mereka klaim menang 69 persen, dari mana angka itu? Nah, ternyata angka itu hanya dari 7 TPS saja dari 12.834 TPS,” katanya.

Tuduhan & Ritual Politik

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mohammad Mahfud MD menjelaskan bahwa dalam proses demokrasi pasti ada gangguan. Misalnya tudingan negatif kepada pemerintah, pejabat, sampai penyelenggara pemilu.

Menurutnya, hal tersebut harus dianggap wajar dan disikapi dengan baik. Yang terpenting adalah mereka bertugas dengan baik sehingga tuduhan tersebut bisa disangkal.  Jika saat ini KPU yang terus diserang dengan tuduhan memihak salah satu calon atau curang, maka setelah proses penghitungan selesai tuduhan itu akan berpindah ke MK.

“Tuduhan hakim MK disuap lah, dia berpihak sama ini lah, itu nanti akan muncul. Pengalaman saya bertahun tahun begitu. Itu ritual politik,” jelasnya.

Sumber : Bisnis/JIBI