Spekulasi

Sholahuddin - Dokumen Solopos
25 April 2019 10:00 WIB Sholahuddin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (22/4/2019). Esai ini karya Sholahuddin, Manajer Penelitian dan Pengembangan Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah sholahuddin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Di sebuah grup Whatsapp yang saya ikuti ada aturan ketat mengenai konten. Grup itu dibentuk sebagai media berdiskusi. Konten-konten yang tidak selaras dengan semangat intelektual dilarang diunggah, seperti pesan kampanye, berita bohong, informasi provokatif, artikel-artikel yang spekulatif dan kabar-kabar lain yang belum terverifikasi kebenarannya.

Aturan itu berulang kali disampaikan pengelola grup. Saya yakin semua anggota grup itu memahami. Ternyata aturan tinggal aturan. Ada saja anggota grup yang melanggar tata krama. Kabar bohong, kampanye politik, kabar provokatif acap kali muncul di grup.

Saya berpikir di grup yang anggotanya terpilih saja susah mengatur lalu lintas percakapan agar sesuai dengan misi grup itu. Pengalaman bergabung di berbagai grup memberi pelajaran bahwa mengedukasi publik untuk berpikir secara benar butuh perjuangan panjang. Tidak bisa instan. 

Jangankan orang-orang yang berpendidikan rendah, orang yang berpendidikan tinggi pun kondisinya tidak jauh berbeda. Dalam beberapa tahun terakhir pola pikir spekukatif menyeruak di masyarakat. 

Berpikir spekulatif adalah berpikir yang tidak membutuhkan data dan fakta yang benar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), spekulasi adalah pendapat atau dugaan yang tidak berdasarkan kenyataan; tindakan yang bersifat untung-untungan. Dalam filsafat, pemikiran spekulatif memang sah-sah saja, sebagai bagian proses untuk menemukan pengetahuan (kebenaran).

Penuh Dugaan-Dugaan

Dalam artikel ini saya tidak membahas dalam konteks itu. Pemikiran spekulatif saya maknai sebagai pemikiran yang penuh dugaan-dugaan, tidak didasari data dan fakta yang kuat. Belakangan orang begitu mudah menyampaikan informasi yang masih bersifat dugaan atau kecurigaan.  

Ini bukan hanya dilakukan oleh orang awam, tapi justru kalangan elite di negeri ini. Kaum elite tidak mengedukasi masyarakat, tapi ”memprovokasi” secara sistematis. Coba kita tengok kata-kata kunci yang saat ini ramai di masyarakat.

Kata-kata seperti ”bohong”, ”curang”, ”provokasi” seolah-olah menjadi trending topic di ruang publik kita. Kata-kata itu terus diulang-ulang dan ditujukan kepada pihak-pihak yang tidak selaras dengan kepentingannya.

Orang begitu mudah menuduh orang lain curang, bohong, meski hal itu tidak didasarkan fakta-fakta yang sahih, hanya berlandaskan kecurigaan. Berbagai bentuk pesan komunikasi terus diproduksi untuk “membuktikan” tuduhan itu benar.

Saya teringat buku Carl Sagan berjudul The Demond-Haunted World: Sains Penerang Kegelapan. Seorang ahli astronomi, penulis buku-buku populer tentang sains asal Amerika Serikat, ini menawarkan cara berpikir ala sains sebagai penerang kegelapan.

Sains adalah cara untuk memperoleh pengetahuan dengan berlandaskan pengamatan dan fakta. Dengan sains pula orang bisa memahami dunia sebagaimana adanya. Sains membebaskan orang dari pemikiran dan tindakan spekulasi,  melepaskan diri dari informasi hoaks yang merusak segalanya. Cara berpikir secara sains inilah yang dibutuhkan masyarakat untuk menghadapi gelombang ketidakbenaran yang melimpah di ruang publik.

Uji Dulu

Sains pula yang bisa membebaskan orang dari pemikiran mitos, takhayul, dan pemikiran yang tidak berlandaskan fakta. Meski bukan hal yang benar-benar baru, cara berpikir ala sains ini yang mestinya terus digelorakan di tengah masyarakat.

Berpikir secara sains tidak harus dilakukan seorang ilmuwan. Orang biasa bisa melakukan karena ini menyangkut pola pikir. Kalangan ilmuwan pun bisa percaya kepada pemikiran spekulatif bila pemikiran itu selaras dengan keyakinannya.

Dalam bahasa Tom Nichols, inilah yang disebut bias konfirmasi. Orang cenderung menerima, memercayai informasi yang sesuai kepentingannya, dan menolak informasi yang tidak sejalan dengan perspektifnya.

Orang yang berpikir ala  sains selalu mengawali sesuatu dengan pengujian data-data empiris kemudian mengambil kesimpulan. Berkebalikan dengan kalangan yang berpikir berspekulatif. Orang spekulatif justru menyimpulkan lebih dulu, sampaikan kepada publik dulu, tuduh dulu, dengan berdasarkan informasi yang belum pasti.

Terbukti tidaknya tuduhan itu kadang-kadang menjadi tidak penting. Toh banyak informasi spekulatif yang tidak diikuti proses pembuktian data. Pesan-pesan yang spekulatif disampaikan bukan untuk pengujian bukti, melainkan ada agenda tertentu di balik semua itu.

Alat Kekuasaan

Bagaimana pun bahasa kini menjadi alat kekuasaan untuk menebarkan pengaruh. Fathur Rahman dan Surahmat dalam buku Politik Bahasa Penguasa mengatakan bahasa telah berkembang menjadi peranti kekuasaan yang efektif. Bahasa dimanfaatkan agen-agen tertentu yang berambisi memperbesar daya untuk memengaruhi orang lain.

Kondisi ini yang sulit mengubah pemikiran publik yang spekulatif menuju pemikiran berdasarkan sains. Dalam situasi ini, banyak orang berkepentingan memengaruhi orang lain untuk mencapai agenda-agenda tertentu. Politik berebut pengaruh yang selalu mendorong orang membangun pola pikir spekulatif.

Orang yang terbiasa berspekulasi mudah untuk dipengaruhi. Dalam bahasa tokoh pers Jacob Oetama, kita hidup dalam masyarakat yang tidak tulus. Membangun komunikasi pun dengan bahasa ketidaktulusan.

Tidak ada niat kaum elite untuk memperbaiki karena mereka merasa diuntungkan atas situasi itu. Sulit bukan? Ya,  sesulit mengatur percakapan di grup Whatsapp karena mereka lahir dari beragam kepentingan.