Merawat Bumi dengan Benih Organik Lokal

Supriyadi - Istimewa
24 April 2019 10:00 WIB Supriyadi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (23/4/2019). Esai ini karya Supriyadi, guru besar Ilmu Tanah di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah supriyadi_uns@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Peringatan Hari Bumi setiap 22 April sejatinya mengajak kita menilik kembali kondisi planet yang kita huni bersama. Beragam aksi untuk mengajak merawat lingkungan merupakan upaya sederhana yang diharapkan berdampak besar pada kehidupan kita.

Upaya mengembalikan  alam yang asri dan lestari bertujuan memberi waktu jeda untuk bumi yang kian tua. Merawat bumi juga harus diupayakan dari berbagai sektor. Kemajuan dan penemuan baru di berbagai bidang memang membawa perbaikan kualitas hidup kita.

Kemajuan dan aneka penemuan itu disertai pula dengan rangkaian dampak negatif. Perubahan besar itu, misalnya, munculnya sistem pertanian modern  atau sistem pertanian kimiawi yang tidak dapat berkelanjutan dalam jangka panjang. Sistem itu ditandani dengan adanya Revolusi Hijau pada era 1970-an.

Sistem ini berkembang pesat sejak ditemukannya varietas unggul yang berpotensi meningkatkan hasil panen, namun hal itu harus dengan biaya produksi yang tinggi pula. Biaya produksi yang tinggi itu terlihat dari penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia sintetis dengan dosis tinggi.

Kondisi ini yang mendorong konsumsi pupuk pestisida sintetis (1975-1987) terus meningkat. Peningkatan penggunaan pupuk dan pestisida kimia selama 35 tahun terakhir rata-rata hampir lima kali lipat, padahal pada jangka waktu yang sama produksi pertanian hanya meningkat sekitar 40%-50%.

Hal ini menunjukkan penggunaan pupuk kimia semakin tidak efisien karena tidak sebanding dengan peningkatan hasil panen. Selain itu, volume penggunaan pupuk kimia setiap musim tanam harus ditambah. Jika dosis tak ditambah, tanaman tidak akan subur. Ini adalah pemanjaan tanah dan tanaman yang merusak tanah (bantat).

Selain kerusakan lingkungan, sistem ini menimbulkan berbagai penyakit karena konsumsi makanan berkadar kimia tinggi. Tak itu saja, sejumlah benih unggul hasil budi daya lokal yang kita miliki pun kian langka. Salah satu solusi yang bisa ditempuh melalui sistem pertanian organik, yaitu suatu sistem pertanian yang secara ekologis sehat, layak secara ekonomi, adil secara sosial, dan manusiawi.

Petani Berdaulat

Teknologi ini mengembalikan kesuburan tanah dan lingkungan biologis. Lewat metode ini pula diharapkan petani makin berdaulat atas benih unggul lokal yang dimiliki, tidak selalu tergantung kepada pemerintah atau perusahaan pertanian, kreatif, dan inovatif.

Hingga kini permasalahan mendasar petani adalah soal ketersediaan benih, pupuk, dan lahan yang semakin kritis. Mereka juga harus dihadapkan pada realitas nilai jual produk hasil pertanian yang stagnan. Hal itu tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan.

Upaya kembali ke pertanian yang sehat dan menguntungkan ini mulai dirintis Paguyuban Petani Al-Barokah di Desa Ketapang, Kecamatan Susukan,  Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Kelompok tani di desa ini masih aktif menjaga kearifan lokal dengan membumikan pertanian organik selama 20 tahun terakhir.

Untuk mempertahankan ketersediaan benih bagi ratusan petani dalam paguyuban itu, dibentuklah kelompok khusus penangkar benih. Upaya tersebut semakin dikembangkan lewat kemitraan dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Sebelas Maret (LPPM UNS) Solo.

Selama ini tercatat 60-an varietas benih lokal unggulan yang dikembangkan. Kegiatan penangkaran benih ini sekaligus menjadi unggulan produk beras organik dari Paguyuban Petani Al-Barokah.  Beberapa tahun  terakhir petani di Paguyuban Al-Barokah sudah  mandiri dalam pemenuhan kebutuhan benih padi lokal sesuai standardisasi organik.

Mereka tak lagi tergantung dari luar kelompok atau pemerintah dan atau dari produsen benih padi lainnya.  Dari kemitraan tersebut, para petani dilatih membangun pasar, menguasai teknik pengolahan, mengontrol kualitas produk, menguji pupuk, menguji tanah, dan menjaga kualitas air di lahan pertanian organik.

Lolos Sertifikasi Organik

LPPM UNS juga memfasilitasi pengelolaan lahan benih, sarana prasarana lumbung benih, pelatihan-pelatihan, pendistribusian, dan pemasaran. Penangkaran benih awalnya hanya digunakan untuk mencukupi kebutuhan 474 orang petani organik dari total 583 orang anggota paguyuban.

Mereka menggarap lahan seluas 152,69 hektare yang sudah disertifikasi Lembaga Sertifikasi Organik (LSO). Dalam satu kali masa tanam, petani di Paguyuban Al-Barokah membutuhkan 11 ton hingga 13 ton benih. Benih hasil penangkaran mencapai 18 ton hingga 21 ton tiap masa tanam.

Selain dipersiapkan untuk masa tanam berikutnya, kelebihan stok benih itu juga dipasarkan untuk memenuhi permintaan petani di luar daerah. Benih-benih organik itu dipasarkan di Provinsi Lampung sebanyak 1,46 ton dan di Kabupaten Blora sejumlah 0,94 ton.

Permintaan benih organik juga datang dari Kabupaten Jepara sebanyak 0,61 ton dan dari Kabupaten Kendal sebanyak 0,73 ton. Sejumlah petani di beberapa kecamatan di Kabupaten Semarang dan gabungan kelompok tani juga membeli benih organik dalam hitungan puluhan kilogram.

Tren ini seiring dengan perubahan pola hidup sehat yang makin digemari masyarakat sebagai konsumen. Pemasaran yang kian meluas itu juga menjadi tambahan pendapatan bagi petani dan organisasinya. Gerakan Paguyuban Al-Barokah dalam membumikan pertanian organik ini mampu memotivasi petani menjadi berdaulat atas benih, pupuk, lahan yang sehat, dan harga yang layak. Dengan memperbaiki kualitas tanah, mengelola pertanian yang selaras dengan alam, maka kelestarian pangan dan kehidupan di bumi pun terjaga.

Petani sebagai ujung tombak pemenuhan pangan diharapkan tak melulu menjadi korban dari sistem sosial yang semakin menindas dan alam yang semakin tidak bersahabat.