Kena Serangan Jantung, Ketua KPPS Bernama Prabowo Meninggal Dunia

Ilustrasi petugas KPPS menjalankan tugas sejak Rabu (17/4/2019) pagi hingga Kamis (18/4 - 2019) dini hari. (Antara/M. Faisal Hanapi)
24 April 2019 18:40 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA –   Petugas pemungutan suara kembali meninggal dunia. Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Kecamatan Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur, Rudi Mulia Prabowo, 57, meninggal dunia karena serangan jantung dan kelelahan.

Pria yang akrab disapa Prabowo ini meninggal dunia Senin (22/4/2019). Prabowo sebelumnya dikenal kerja keras mengawal coblosan Pemilu 17 April lalu.

Putri Prabowo, Inez, 22 yang juga menjadi saksi di TPS 009 menceritakan ayahnya yang dikenal bertanggung jawab itu bekerja keras sampai lupa makan. Bahkan dua jatah nasi kotak untuk ayahnya tak sempat dimakan.

Dilaporkan Suara.com, pada tanggal 18-22 April Prabowo mengeluhkan kepala pusing dan wajahya terlihat pucat. Inez mengatakan ayahnya itu tetap mengurus Pemilu seperti permintaan tanda tangan dan urusan lainnya.

Selama masa pencoblosan, Prabowo sudah terlihat kelelahan dan terus lanjut mengerjakan tugasnya sampai pemungutan suara selesai pukul 13.00 WIB. Lanjut ke perhitungan suara, Prabowo terus memimpin prosesnya dengan baik sampai selesai.

Proses perhitungan baru selesai sekitar pukul 05.00 WIB. Usai suara dihitung dan dimasukan kembali ke kotak suara, Prabowo juga mengantar kotak suara ke Kecamatan sampai pukul 10.00 WIB.

Hingga akhirnya tanggal 22 April Inez menyebut Prabowo sempat muntah saat tertidur dan langsung dilarikan ke RSUD Matraman. Sesampainya di RS, Prabowo sudah tak bernyawa.

"Papa bilang katanya keliyengan (pusing) terus, sempet ngobrol sama saya, minta ambilin air hangat terus tidur. Pas saya keluar tiba-tiba mama teriak papa muntah terus pas saya periksa sudah gak ada denyut (nadi)," ujar Inez di rumahnya, Pisangan Baru Matraman, Jakarta Timur, Rabu (24/4/2019).

Prabowo akhirnya dimakamkan di TPU Prumpung, Jatinegara, Jakarta Timur, Selasa (23/4/2019) pagi. Prabowo meninggalkan istri, satu anaknya. Menurut Inez, berdasarkan keterangan dokter RSUD Matraman, Prabowo kelelahan dan serangan jantung mendadak.

Video Call Pantau Kotak

Lebih lanjut Inez menceritakan kerja keras ayahnya yang tetap mengawal pemilu agar berjalan lancar. Ayahnya bahkan tidak mau jauh dari kotak suara selama pemungutan suara. Bahkan, Inez menambahkan, setelah petugas KPPS selesai menghitung suara, Prabowo meminta agar kotak suaranya di letakan tepat di depan kakinya.

"Pas sudah selesai ngitung, bapak nyuruh kotak suara di taro depan kakinya, padahal yang lain (panitia) sudah minta taro tempat lain katanya 'jangan di situ jauh, di sini saja'," ujar Inez.

Menurut Inez, Prabowo sempat menahan buang air kecil agar tidak jauh dari kotak suara. Setelah dipaksa Inez, Prabowo menumpang buang air kecil di rumah depan TPS.

Namun, karena masih ingin memantau kotak suara bahkan saat buang air kecil, Prabowo disebut Inez melakukan video call untuk terus melihat kotak suaranya.

"Dia gak mau jauh-jauh pulang dulu buat pipis, terus numpang sama yang depan TPS. Tapi tetep saja dia video call dipegang bu RT hpnya buat liat kotak suara doang," kata Inez.

Prabowo juga diceritakan Inez tidak mau ada kecurangan sekecil apapun di TPSnya dengan memperhatikan detil-detil saat menghitung suara.

Akibatnya, Inez menyebut perhitungan suara berlangsung sampai pukul 05.00 WIB. Durasi ini disebut Inez lebih lama dibandingkan dengan TPS lain di wilayah Pisangan Baru. "Dia jaga banget itu kotak suaranya sampai detil banget. Jadinya emang lebih lama dari TPS lain tapi gak ada masalahnya," jelas Inez.

Sebelumnya, Prabowo diceritakan Inez pasca Pemilu tanggal 18-22 April selalu mengeluh kepalanya pusing dan terlihat pucat. Namun Inez mengatakan ayahnya itu tetap mengurus Pemilu seperti permintaan tanda tangan dan urusan lainnya.

Sumber : Suara.com