Peternak Ayam Petelur Bersiap Hadapi Industri 4.0

Yudianto Yosgiarso, Ketua Presidium PPN (dua dari kiri), memaparkan tantangan yang akan dihadapi para peternak menyambut era industri 4.0. (Solopos - Bayu Jatmiko Adi)
23 April 2019 21:51 WIB Bayu Jatmiko Adi Nasional Share :

Solopos.com, SOLO - Pinsar Petelur Nasional (PPN) bakal menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-II di Solo, Rabu-Kamis (24-25/4/2019). Selain memilih pengurus yang baru, acara tersebut juga akan membahas rencana strategis menghadapi industri 4.0.

Ketua Presidium PPN, Yudianto Yosgiarso, mengatakan saat ini tantangan yang dihadapi para peternak beragam, termasuk di antaranya mengenai kebutuhan dan harga pakan, khususnya jagung. Para peternak juga harus bersiap menghadapi industri 4.0.

"Kami sampaikan, kami tidak main-main menghadapi industri 4.0. Dengan munas ini kami tonjolkan sikap kami yang ingin membuka kerja sama dengan pemodal besar. Dengan beban berat yang ada, kalau kami tidak merangkul pihak-pihak lain seperti akademisi, tokoh peternakan, pelaku bisnis besar, dan sebagainya, tidak mustahil kami akan habis," terang dia kepada wartawan di Restoran Orient, Solo, Selasa (23/4/2019).

Ke depan PPN ingin mengembangkan industri yang melindungi peternak rakyat. Untuk itu dalam Munas 2019, PPN mengangkat tema Membangun Kekuatan Peternak Layer Mandiri Menghadapi Industri 4.0. Kegiatan ini merupakan kelanjutan pramunas yang digelar pada 23 Maret.

Salah satu agenda munas adalah memilih pengurus baru periode 2019-2024. Yudianto menjelaskan PPN adalah asosiasi yang mengurusi peternak layer atau petelur di seluruh Indonesia. "Kami berdiri tahun Maret 2014 di Jogja. Kantor di lingkungan Fakultas Peternakan UGM [Universitas Gadjah Mada]. PPN lahir dari desakan keprihatinan para peternak layer," jelas dia.

Tantangan terbesar para peternak muncul pada 2012 atau pada persiapan menyongsong perdagangan bebas di negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN Free Trade Area (AFTA). "Saat itu terjadi perubahan besar di industri peternakan di mana penanaman modal asing masuk cukup banyak. Dampaknya produksi berlebih dan berdampak di penjualan telur. Telur terlalu banyak," kata dia.

Akibatnya, para peternak mengalami kerugian besar mulai 2012 dan kritis pada 2013. Dia ingat betul pada Desember 2013, harga telur mencapai Rp9.600/kilogram. Akhirnya jaringan peternak petelur bergabung dan membentuk asosiasi PPN.

Sekretaris PPN, Suci Paramita Sari Syahlani, berharap ke depan pemerintah lebih memerhatikan para peternak. Salah satunya mengenai ketersediaan dan harga pakan. Hal itu juga akan disuarakan dalam Munas 2019.

"Harapan kami pemerintah ada langkah antisipasi untuk kebutuhan jagung peternak. Misalnya saja ini mau Lebaran, ketersediaannya seperti apa, kebutuhan seperti apa? Selama ini kami harus teriak-teriak dulu. Kalau modalnya besar mungkin tidak terlalu sulit. Tapi ada yang napasnya [modal] tidak panjang, akan susah," tegas dia.