Pakar Rukiah Ini Sebut Sandiaga Uno Terkena Sihir

Wajah lesu Sandiaga Uno saat mendampingi Prabowo menyampaikan pidato kemenangan, Kamis (18-4 - 2019). (Twitter)
22 April 2019 19:24 WIB Chelin Indra Sushmita Nasional Share :

Solopos.com, SOLO – Ekspresi wajah lesu Sandiaga Uno saat mendampingi Prabowo Subianto menyampaikan pidato kemenangan, Kamis (18/4/2019), terus menjadi pusat perhatian. Saat itu, Sandiaga Uno disebut tengah sakit, sehingga kondisi fisiknya melemah.

Tetapi, menurut seorang praktisi rukiah, Irkham Fahmi, Sandiaga Uno berada di bawah pengaruh sihir. Hal itu terlihat dari raut wajahnya yang seolah memikul beban berat. Irkham Fahmi menyampaikan pendapatnya melalui akun Facebook Irkham Fahmiy, Jumat (19/4/2019).

"Sebagai praktisi rukiah, saya melihat ada sesuatu yang aneh dengan wajah beliau. Sepertinya ada sihir yang diarahkan kepadanya. Mohon orang-orang yang dekat beliau agar menyarankannya untuk segera dirukiah," ungkap Irkham Fahmi.

Sejumlah netizen punya pendapat masing-masing tentang ekspresi wajah Sandiaga Uno. Mayoritas netizen sepakat Sandiaga Uno sakit karena telah menghabiskan banyak yang untuk kampanye di pemilihan presiden (pilpres) 2019.

"Ada banyak kemungkinan. Kalau dilihat dari wajah saja bisa karena masalah fisik bisa pula non fisik. Tapi, untuk sampai pada simpulan santet biasanya membutuhkan indikasi kompleks sesuai kaidah umum," komentar Irfan Abu Naveed Al Atsari.

"Bukan disantet, tapi sakit. Terus sedih uangnya habis Rp1 triliun. Sudah jual saham-sahamnya di Saratoga, lalu kalah di pilpres. Kita doakan dia bisa ikhlas, Al Fatihah," Sari Handayani Musdar.

"Ih, jangan bilang gitu. Jangan suuzan sama setan. Bisa jadi tidak, lalu percaya, masuklah setan. Allah yang ngasih sehat dan sakit. Insyaallah sakitnya beliau teguran Allah semata untuk penawar dosa. Sebabnya karena kecapaian," imbuh Endah Khoirunnisa.

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, Sandiaga Uno memang sempat sakit karena terlalu lelah berkampanye. Namun, kini dia telah kembali bugar dan bebas beraktivitas seperti biasa.