Rasionalitas, Objektivitas, dan Fanatisme

Wahyu Dewanto - Istimewa
17 April 2019 12:30 WIB Wahyu Dewanto Kolom Share :

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Selasa (16/4/2019). Esai ini karya Wahyu Dewanto, dosen di Universitas Pancasila Jakarta, peminat tema-tema sosial dan politik, saat ini tinggal di Australia. Alamat e-mail penulis adalah wd@ntde.com.au.

Solopos.com, SOLO -- Hari-hari menjelang 17 April 2019 suhu politik Indonesia terasa semakin memanas dan meresahkan. Kedua belah kubu calon presiden dan calon wakil presiden sama-sama melancarkan serangan dan kritik untuk menjatuhkan dan mendiskreditkan lawan.

Masing-masing kubu menyiapkan counter attack dengan berbagai cara, dengan tujuan tetap mempertahankan dan meningkatkan jumlah pendukung. Yang menonjol adalah cara menyerang dan ide yang diangkat jauh berbeda dengan cara berpolitik konvensional yang dilakukan 40 tahun lalu.

Media yang digunakan juga sangat berbeda. Dulu hanya dengan media radio, televisi, koran, dan orasi dari kota ke kota. Pernyataan-pernyataan politik relatif lebih orisinal, keluar langsung dari pikiran dan mulut para tokoh masing-masing kelompok/partai politik.

Sekarang didominasi media sosial. Jauh lebih agresif dan masif, sulit dikontrol keasliannya. Banyak berita, pernyataan, dan foto palsu yang diedit, dimodifikasi, diputarbalikkan, dan disebarkan ke seluruh penjuru negeri dan dunia secara masif hanya dalam hitungan detik dan menit.

Dengan membanjirnya informasi-informasi (serangan, hujatan, kritikan, atau counter attack) yang tiada henti tiap hari, tentu sangat membingungkan dan sekaligus meresahkan masyarakat umum. Rakyat dibombardir dengan informasi yang sulit dibuktikan keaslian, akurasi, dan sumbernya.

Kita tahu salah satu tujuan propaganda untuk memorak-porandakan cara berpikir dan logika berpikir umum. Isu-isu yang diangkat sangat berbeda, bukan lagi masalah visi dan misi atau program kerja yang rasional dan terukur, tetapi menyentuh isu-isu personal, rasial, dan kepercayaan yang tak bisa diukur.

Akibatnya cara berpikir rasional dan objektif semakin memudar dan rasa sentimen yang tak berdasar semakin tumbuh. Ini yang mencemaskan. Rakyat mulai terkooptasi oleh sentimen yang lebih personal dan terkelompok, terpolarisasi, secara ekstrem, dan cenderung radikal.

Menggerus Kepercayaan Masyarakat

Semakin mendekati hari H pemilihan umum, isu-isu kecurangan semakin diembuskan. Kalau tidak diantisipasi akan menyebabkan sentimen ketidakadilan yang secara subtansial akan menggerus kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan penyelenggara pemilihan umum.

Dalam ranah sosial yang lebih besar dan intensif akan memicu keretakan sosial. Pemerintah dan aparat penegak hukum harus segera bertidak menangkal isu-isu ini supaya tidak semakin berkembang.

Masing-masing kelompok koalisi partai politik punya tujuan sama untuk menarik pendukung sebanyak-banyaknya dengan mengangkat program, visi dan misi, serta segala kebaikan dan prestasi. Di sisi lain mereka akan menyembunyikan segala kelemahan dan keburukan.

Melalui para politikus, program-program dan strategi partai politik dibuat dan dijalankan, termasuk mengkritik, menyerang lawan, dengan berbagai cara menurut standar dan etika masing-masing partai politik.

Itulah pekerjaan orang-orang partai politik sesuai dengan tingkat jabatan dalam partai untuk mengkritik dan menyerang kelompok lawan dari semua lini dengan beragam teknik dan isu. Keterikatannya kepada partai membuat politikus harus menyuarakan kepentingan partai, walaupun kebijakan partai dianggap tidak rasional dan bertentangan dengan akal sehat dan nurani mereka.

Apa pun risikonya, politikus harus mengorbankan hati nurani dan intelektual mereka. Di sisi lain mereka sadar bahwa cara politikus bersikap, menyampaikan pikiran, atau mengkritik akan bisa menunjukkan logika berpikir, integritas, pengetahuan, etika, kesantunan, dan karakter.

Performa keseluruhan itu akan memudahkan publik menilai siapa politikus yang punya tingkat intelektual dan integritas tinggi  dan mana yangg kurang atau tidak memilikinya. Idealnya politikus mempunyai kemampuan intelektual dan integritas yang seimbang.

Banyak politikus Indonesia yang secara intelektual sangat baik, tetapi sering mengorbankan integritas dengan mengingkari nurani dan logika objektif demi memenangkan partai atau kelompoknya. Mereka lupa bahwa mengorbankan integritas bisa merusak nama dan karier politik pada masa mendatang.

Organisasi Nonpolitik

Kelompok pemain yang lain adalah organisasi massa, termasuk organisasi sosial, nongovernment organizations (NGO), organisasi keagamaan, dan lain-lain. Kelompok ini sejatinya bukan organisasi politik, tetapi dengan jumlah anggota dan simpatisan yang cukup besar menjadi daya tarik sendiri untuk ikut berafiliasi atau mendukung atau digunakan oleh kelompok politik tertentu.

Akademisi, tokoh agama, dan pengamat pada umumnya orang-orang yang memiliki tingkat intelektual yang baik, rasional, objektif, kritis, dan dapat menjadi pencerah yang bisa menyuarakan nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, kebenaran, kejujuran, integritas, dan fair play.

Mereka seharusnya netral menjadi penyeimbang yang didengar dan dipercaya rakyat karena kapasitas keilmuan, rasionalitas, objektivitas, dan integritas. Sangat banyak tokoh intelektual yang memilih duduk di sudut-sudut kampus, masih perkasa mempertahankan objektivitas, pemikiran intelektual, dan integritas.

Di sisi lain, banyak juga akademisi, tokoh agama, dan pengamat yang mengorbankan nurani, pakem intelektual, dan integritas. Dengan cara dangkal serta absurd berargumentasi memihak kelompok tertentu tanpa rasa malu untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Masyarakat umum akan mudah menilai mana akademisi dan tokoh agama yang benar-benar memiliki integritas tinggi dan mana yang melacurkan dan mengebiri rasionalitas dan objektivitas untuk kepentingan pribadi jangka pendek.

Para pebisnis, terutama yang besar, biasanya lebih hati-hati memutuskan untuk berafiliasi secara terbuka. Siapa pun yang menang dalam pemilihan umum, mereka harus tetap aman dan kalau bisa untung.

Banyak pengusaha besar yang (secara terbuka) bersikap netral, walaupun secara personal (secara tertutup) akan menyatakan dukungan, walaupun dukungan akan bersifat umum (kepada semua kandidat pemimpin), sehingga siapa pun yang menang, mereka akan tetap aman dan nyaman.

Rakyat Jelata

Objek utama dari ingar bingar politik adalah rakyat, sebagai voters, penentu kemenangan dalam pemilihan umum. Rakyat dengan berbagai latar belakang yang sangat beragam dan kompleks bisa dikelompokkan dalam beberapa kategori.

Pertama, kelompok oligarki, yaitu mereka yang memiliki ikatan persaudaraan atau pertemanan dengan politikus. Mereka dengan ringan mengorbankan rasionalitas dan objektivitas dalam menilai kelompok lawan karena ikatan kepentingan kekeluargaan dan pertemanan. Tentu ada kepentingan atau keuntungan langsung jika kandidat yang didukung ternyata menang.

Kedua, kelompok yang mengutamakan ikatan kesukuan, asal, kelompok agama. Kelompok ini berasal dari generasi dengan latar belakang pendidikan rendah. Walaupun tidak dimungkiri banyak dari kelompok ini yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, namun cara berpikir mereka masih diselimuti ego dan fanatisme yang berlebihan dan mengesampingkan logika.

Fanatisme yang berlebihan akan sangat berbahaya karena mengesampingkan cara berpikir yang rasional dan akhirnya bisa menjerumuskan kepentingan bangsa secara yang lebih besar.

Ketiga, kelompok muda rasional. Kelompok ini adalah orang-orang terdidik, berusia muda, dan punya wawasan luas (kelompok milenial). Banyak di antara mereka berasal dari kelas menengah perkotaan. Mereka cenderung netral pada awalnya, objektif, dan rasional dalam menimbang dan memilih partai politik dan pemimpin.

Jumlah mereka cukup besar dan bisa menjadi penyeimbang dan bahkan penentu (swing voters) dalam peta politik demokrasi di Indonesia. Kelompok ini sangat disiplin dan tegar dalam pendirian politik, berintegritas, dan tidak mudah dibeli atau diperdaya.

Kelompok ini adalah cermin kelompok penentu kemenangan pemilihan umum di negara-negara maju. Karena jumlahnya yang sangat besar, kelompok ini menjadi primadona dan menjadi rebutan kontestan pemilihan umum.

Kegaduhan menjelang pemilihan umum perlu disikapi secara hati-hati oleh masyarakat luas. Tujuan kita semua adalah hidup rukun, damai, aman, makmur, sejahtera di bumi Indonesia yang berdaulat dan disegani dunia international.

Mari kita menjadi warga negara yang cerdas, tidak mudah dihasut dan diadu domba. Coba kita menjadi warga negara yang rasional, objektif, netral dalam mengamati performa partai-partai politik, para calon anggota legislatif, dan para calon pemimpin kita dengan saksama.