Kubu Prabowo Tuding Quick Count Provokasi, Ini Jawaban Peneliti

Anggota KPPS mencatat perolehan suara saat penghitungan suara Pemilu serentak2019 di TPS 77 Pondok Jaya, Cipayung, Depok, Jawa Barat, Rabu (17/4 - 2019). (Antara/Andika Wahyu)
17 April 2019 20:00 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Capres nomor urut 02 Prabowo Subianto bereaksi keras terhadap hasil quick count sejumlah lembaga survei yang menyebutkan keunggulan Jokowi-Maruf Amin. Dia menuding hasil quick count dari berbagai lembaga survei yang menunjukkan keunggulan Jokowi-Maruf sebagai bentuk penggiringan opini.

Tak hanya tak percaya hasil-hasil quick count tersebut, Prabowo juga menuding lembaga-lembaga survei itu sudah bekerja untuk kubu lawan politiknya. Sejumlah lembaga survei yang telah mempublikasikan hasil quick count secara real time adalah Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Litbang Kompas, Indo Barometer, Poltracking Indonesia, Indikator Politik Indonesia, Charta Politika, dan lain-lain.

Menanggapi tudingan Prabowo, Direktur Riset SMRC Deni Irvani menjelaskan bahwa setiap survei bisa dibuktikan apakah menggunakan metode yang benar atau tidak. Karena itu, tudingan kepada lembaga survei semestinya bukan berdasarkan hasil survei memenangkan siapa, namun proses melakukan survei.

"Quick count ini riset, berupaya menemukan kebenaran. Cara menemukan kebenaran yang diakui yang benar adalah dengan metode prosesnya, mulai dari mengumpulkan data, memproses data, dan seterusnya. Jadi kalau bicara hasil, ada kemungkinan suatu penelitian hasilnya berbeda," kata Deni dalam dialog yang ditayangkan live di Berita Satu TV, Rabu (17/4/2019).

Sedangkan soal hasil quick count, dia mengatakan bisa saja ada lembaga survei yang menyebutkan hasil berbeda. Namun, jika hal itu terjadi, maka yang harus dipertanyakan adalah metode yang dilakukan oleh lembaga survei.

"Pengalaman 2014, itu bisa dicek. Ada sejumlah lembaga yang berbeda hasilnya dari lembaga lain. Kami di lembaga survei ada Persepi [Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia]. Dewan Etik Persepi melakukan sidang untuk membuktikan cara pengumpuilan datanya, metode randomnya seperti apa, siapa yang membiayai, dan sebagainya," kata Deni.

Pada Pilpres 2014 saat hasil quick count sebagian lembaga survei mengunggulkan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Persepi mengundang semua lembaga survei di bawah naungannya. Hal itu untuk menelusuri metode hingga sumber setiap lembaga survei.

"Tapi yang diundang tidak semua datang. Ada 2 lembaga yang tidak datang, alasannya tidak jelas, yang kebetulan hasilnya beda. Dewan Etik menyatakan [lembaga survei] yang datang sudah melakukan metode dengan baik. Jadi ini bukan soal hasil, tapi proses. Jadi lembaga yang mengikuti audit persepi, sudah benar metodenya. Dan hasilnya sesuai dengan hasil penghitungan KPU," jelas Deni.