Tabungan Literasi, Menerbitkan Sendiri Buku Sastra

Retno Winarni - Istimewa
16 April 2019 09:30 WIB Retno Winarni Kolom Share :

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Rabu (10/4/2019). Esai ini karya Retno Winarni, guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMAN Kerjo, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah retnowinarnisugiarto@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Saya seorang guru. Guru Bahasa Indonesia yang gemar membaca. Saya bagian dari generasi X, yaitu generasi yang lahir tahun 1966-1976. Label X pada generasi ini dipopulerkan lewat novel yang berjudul Generation X: Tales for an Accelerated Culture yang ditulis Douglas Coupland.

Semangat  do it yourself berperan dalam pembentukan cara pandang dan karakter generasi tersebut. Buku yang saya baca sejak kanak-kanak adalah buku cetak. Sering kali saya harus menabung untuk bisa membeli dan membaca buku yang saya inginkan. Kebiasaan yang terbawa hingga saya semakin tua.

Menabung telah dikenalkan orang tua dan guru saya sejak masih usia sekolah dasar. Saya ingat dengan uang saku yang mepet sisa uang jajan atau uang pemberian orang tua akan masuk celengan dari tanah liat.

Jika sudah penuh dengan antusias celengan itu dipecah, dihitung, lalu akan saya gunakan untuk membeli buku, tas, atau sesuatu yang  saya inginkan. Membeli dengan uang hasil tabungan dalam ingatan saya menghadirkan kepuasan tersendiri.

Ingatan akan kepuasan menabung untuk mendapatkan sesuatu inilah yang tiba-tiba mampir di otak saya selepas program peluncuran buku kumpulan puisi karya siswa dan guru SMAN Kerjo, Karanganyar, pada Oktober tahun lalu.

Saat itu siswa kelas XI maupun kelas XII yang saya ajar sama-sama sedang sampai pada materi tentang cerita pendek. Tugas menyusun cerita pendek adalah tagihan utamanya. Pada tahun-tahun tahun sebelumnya kumpulan tugas menulis cerita pendek karya siswa hanya saya satukan dan jilid secara sederhana untuk portofolio kinerja.

Interaksi yang baik dengan penerbit selepas sukses peluncuran buku kumpulan cerita pendek karya siswa dan guru SMAN Kerjo membuka peluang untuk bekerja sama lagi. Kali ini tidak lagi dibiayai sekolah karena belum masuk anggaran pendapatan dan belanja siswa (APBS).

Menulis Cerita Pendek

Ide yang kemudian menyeruak adalah mengajak siswa menabung. Menabung untuk membiayai sendiri pencetakan buku kumpulan cerita pendek karya mereka. Ajakan menabung saya sampaikan pada  awal penyampaian materi menulis cerita pendek.

Tak ada penolakan yang berarti, bahkan bisa dikatakan mereka menerima ajakan menabung dengan mutlak. Berdasarkan kesepakatan, siswa menyisihkan uang saku mereka saat jam pelajaran Bahasa Indonesia.

Dalam rangka menyiapkan karya cerita pendek yang baik saya memberikan pendalaman materi tentang menulis cerita pendek. Inti pembelajaran cerita pendek saya tekankan pada pemahaman tentang unsur pembentuk cerita pendek, proses kreatif,  dengan tagihan tugas  menyusun cerita pendek secara individu.

Di samping membahas cerita pendek yang terdapat pada modul dan buku siswa, saya menunjukkan cerita pendek sederhana karya saya yang pernah dimuat di media massa. Hal ini untuk memberikan pemahaman secara langsung kepada siswa tentang proses kreatif  saya menulis cerita pendek. Proses kreatif menulis cerita pendek diawali dengan menemukan ide utama.

Ide dapat diperoleh dari membaca majalah, koran, cerita orang lain, menonton telivisi, mendengarkan radio, dan lain sebagainya.  Tahap selanjutnya adalah mengembangkan ide utama dengan cara memulai mengembangkan rangkaian cerita.

Cerita pendek realis yang saya tulis dan saya pilih untuk menjadi contoh menulis cerita pendek sesuai kompetensi mengidentifikasi nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalamkumpulan cerita pendek yang dibaca juga kompetensi dasar menentukan unsur intrinsik, ekstrinsik, dan nilai-nilai dalam cerita pendek serta menerapkan nilai-nilai  dalam cerita pendek ke dalam kehidupan sehari-har

Membaca Karya Sastrawan Besar

Tataran pembahasan cerita pendek saya tingkatkan dengan menghadirkan cerita pendek sastra dengan unsur pembentuk cerita pendek yang lebih kompleks. Tujuannya agar wawasan siswa terbuka terhadap karya-karya besar para sastrawan.

Penguatan teori yang disertai dengan praktik bertujuan siswa mampu menulis cerita pendek yang diawali dengan memahami realitas kehidupan sehari-hari dan membawa pada dunia imajinasi. Cerita pendek sebagai karya fiksi tidak tercerabut dari lingkungan sosial manusia.

Cerita-cerita imajinatif tersebut adalah gambaran kehidupan manusia yang sesungguhnya dengan bumbu khayalan. Dalam menulis cerita pendek ide merupakan masalah yang bersumber dari peristiwa atau benda.

Masalah dalam cerita pendek dipecahkan dengan logika fantasi dan imajinasi. Berbarengan dengan  proses pembelajaran menulis cerita pendek, siswa menabung setiap mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dua kali dalam sepekan.

Koordinator kelas mencatat setiap rupiah tabungan siswa dalam buku tabungan kelas. Di beberapa kelas saya menjumpai uang receh Rp500 banyak ditabung. Demikian pula uang Rp1.000 dan Rp.2000.

Jika pada sebagian generasi muda membeli buku idaman bisa dilakukan tanpa bersusah payah, di SMAN Kerjo rata-rata siswa termasuk dalam kelompok yang tidak memiliki anggaran untuk membeli buku. Buku tidak menjadi kebutuhan penting.

Siswa-siswa saya adalah bagian dari generasi Z.  Generasi yang  menikmati keajaiban teknologi Internet. Generasi yang dekat  dengan teknologi. Ini dipengaruhi oleh kehidupan mereka yang serba-terkoneksi dengan internet.

Tantangan Mengajak Membaca Buku

Demikian pula tentang pola membaca mereka. Generasi Z akrab dengan smartphone. Membaca berita dan novel melalui aplikasi Wattpad di telepon genggam mereka. Mengajak mereka  membaca buku cetak dan mencetak buku adalah tantangan tersendiri.

Dalam enam buku  kumpulan cerita pendek yang diterbitkan tersebut saya menyertakan sebuah cerita pendek karya saya pada setiap buku dari enam kelas yang saya ajar. Ini adalah sebuah tantangan. Kembali menulis cerita pendek. Kali ini bersama siswa-siswa tercinta. Kehadiran cerita pendek saya bisa menjadi pancingan dan penyemangat siswa untuk menulis cerita pendek dengan serius.

Nilai-nilai yang diajarkan dalam program tabungan literasi ini yang pertama adalah tentang menyisihkan uang demi mewujudkan impian mencetak buku karya mereka sendiri. Berikutnya adalah, seperti yang diungkapkan oleh Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Belajar menulis secara sederhana bisa dimulai pada usia muda. Sekolah adalah tempat yang seharusnya menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan menulis siswa. Segera setelah semua uang terkumpul proses pracetak dan cetak dimulai.

Kegembiraan meluap saat buku selesai dicetak dan sampai di tangan mereka. Pada waktu yang sedikit tersisa untuk siswa kelas XII menjelang ujian nasional berbasis komputer saya membagikan buku kumpulan cerita pendek karya mereka.

Perasaan sejuk membuncah manakala mereka dengan semangat menerima dan membaca cerita cerita pendek karya bersama. Sebuah status  Whatsapp dari seorang siswa mewakili penerimaan mereka terhadap kumpulan cerita pendek tersebut.

”Ini bukan hanya sekadar kumpulan cerita. Ini gambaran diri dari sahabat-sahabatku. Rentetan dari karakter mereka. Dan aku akan membawa mereka dalam hidupku. Selalu setiap saat bukti bahwa mereka pernah menghiasi waktu. Karena di sini ringkasan dari masa SMA kami.” Jadi, bisakah generasi X dan generasi Z bersatu dan mewujudkan buku (kumpulan cerita pendek )? Bisa! Kenapa tidak?